Ngeri! Indekos 5 Lantai Ambruk, Tim SAR Cari Korban Terjebak
Tragedi menimpa sebuah indekos bertingkat di Jakarta Selatan pada Rabu (15/3) siang. Bangunan lima lantai yang menjadi tempat tinggal puluhan pemuda itu ambruk secara mengejutkan, menewaskan setidaknya dua orang dan menewaskan puluhan lainnya. Tim SAR masih terus melakukan evakuasi untuk mencari korban yang masih terjebak di reruntuhan bangunan.
Menurut Kepala Basarnas Jaya, Hasanuddin, kejadian bermula sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu, sebagian besar penghuni indekos sedang beraktivitas di dalam kamar atau di area terbuka. "Tanpa pemberitahuan sebelumnya, bangunan tiba-tiba runtuh di bagian sisi utara dan timur," ujar Hasanuddin dalam konferensi pers singkat.
Berdasarkan keterangan saksi mata, Muhammad (22), seorang pemuda yang tinggal di lantai tiga, kejadian terjadi sangat cepat. "Sedang denger musik di kamar, tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti gempa. Langsung lari ke luar, pas lihat ke belakang, dinding sudah ambruk dan rata tanah," ceritanya yang masih terlihat syok.
Kondisi Bangunan yang Rawan
Dari hasil pemeriksaan tim teknis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bangunan yang ambruk tersebut diduga mengalami kelebihan beban dan struktur yang tidak memenuhi standar keamanan. "Bangunan ini awalnya dirancang untuk dua lantai, tapi kemudian dibangun bertahap hingga lima lantai tanpa izin yang lengkap," kata Kepala Dinas Penataan Ruang DKI Jakarta, Ahmad Rizki.
Rizki menambahkan, bangunan ini juga memiliki beberapa masalah struktural yang signifikan. "Tidak ada kolom penyangga di bagian tengah, lantai atas dibangun tanpa perhitungan beban yang memadai, dan material yang digunakan juga tidak standar," paparnya.
Evakuasi Berjalan Sulit
Proses evakuasi di lokasi kejadian terbilang sulit karena reruntuhan bangunan sangat rapat dan kondisi tanah yang labil. "Kami menggunakan alat berat untuk membongkar reruntuhan secara bertahap, sambil tetap memantau adanya korban yang masih hidup," jelas Kepala Tim SAR Basarnas, Budi Santoso.
Sampai dengan Kamis (16/3) pukul 12.00 WIB, tim SAR berhasil mengevakuasi 15 korban dengan kondisi bervariasi. Dari jumlah itu, 8 korban dinyatakan tewas di tempat, 5 orang luka-luka dan dibawa ke rumah sakit, serta 2 orang berhasil diselamatkan dalam keadaan selamat namun trauma.
Ditambahkan Budi, tim masih mendeteksi adanya suara-suara lemah dari dalam reruntuhan. "Kami mendeteksi ada dua tanda kehidupan di bagian paling belakang bangunan, tepatnya di lokasi dapet umum lantai dua. Namun akses ke sana sangat terbatas karena struktur sudah runtuh," ujarnya.
Respons Pemerintah
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, langsung memimpin tim penanganan di lokasi kejadian. Anies menyatakan akan memberikan bantuan penuh bagi para korban dan keluarganya. "Kami akan membantu seluruh korban baik yang meninggal maupun yang luka. Untuk yang meninggal, akan kami bantu biaya pemakaman, dan untuk yang luka, seluruh biaya pengobatan akan ditanggung Pemprov DKI," jelas Anies.
Anies juga memerintahkan Dinas Penataan Ruang untuk melakukan pemeriksaan mendalam terhadap semua bangunan tingkat di Jakarta khususnya yang berfungsi sebagai indekos atau kos-kosan. "Kami tidak ingin ada lagi kejadian serupa. Oleh karena itu, mulai hari ini akan dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh bangunan tingkat yang berpotensi membahayakan," tegasnya.
Kisah Para Korban
Salah satu korban yang berhasil diselamatkan adalah Sarah (20), mahasiswa semester tiga yang tinggal di lantai empat. Ia mengaku sempat terjebak di bawah reruntuhan selama lebih dari empat jam. "Saat bangunan ambruk, saya sedang di kamar. Tiba-tiba badan saya tertimpa reruntuhan beton dan besi. Saya sempat berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang dengar," ceritanya dengan suara getar.
Sarah mengaku selamat karena posisi tubuhnya di samping lemari yang cukup besar, sehingga menghalangi beban langsung ke tubuhnya. "Saya duduk di samping lemari, dan ternyata lemari itu cukup kuat menahan beban. Saya bisa bernapas dan menunggu tim SAR datang," tambahnya.
Sementara itu, keluarga korban tewas, Ahmad (25), mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi bangunan yang tidak layak huni. "Kakak saya tinggal di sana karena harganya murah, hanya Rp 500 ribu sebulan. Tapi kami tidak tahu kalau kondisinya begitu berbahaya. Ini kesalahan pihak pengelola yang harus bertanggung jawab," kata adik Ahmad, Fajar (18).
Upaya Pencegahan
Dalam konferensi pers terpisah, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, meminta pemerintah daerah untuk lebih ketat dalam mengawasi pembangunan gedung. "Kami akan mengeluarkan aturan yang lebih ketat terkait izin bangunan dan pemeriksaan rutin terhadap bangunan lama yang berpotensi ambruk," ujarnya.
Basuki juga mengimbau kepada masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih tempat tinggal. "Jangan tergiur dengan harga murah jika kondisi bangunannya mencurigakan. Selalu pastikan bangunan memiliki izin dan kondisi yang aman," pesannya.
Sampai berita ini diturunkan, proses evakuasi masih terus berlangsung. Tim SAR optimis masih ada korban yang bisa diselamatkan meski sudah berjalan lebih dari 24 jam sejak kejadian berlangsung.
Komentar (0)