Muktamar NU Berakhir Teduh, Gus Ipul: Kalah Terhormat, Menang Bermartabat
Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung selama empat hari di kompleks Pesantren Krapyak, Yogyakarta, secara resmi ditutup pada Rabu (22/11) malam. Acara penutupan yang berlangsung penuh khidmat ini dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia maupun luar negeri. Khidmatnya acara tercermin dari sifat muktamar yang menekankan nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan kearifan lokal.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa muktamar kali ini menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang akan menjadi pedoman bagi organisasi ke depan. "Alhamdulillah, muktamar berlangsung sukses dan kondusif. Ini menunjukkan kekompakan dan kesepakatan kita dalam membangun NU yang lebih maju dan relevan dengan zaman," ujar Gus Yahya.
Proses Pemilihan Ketua Umum PBNU
Puncak acara muktamar adalah proses pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2023-2028. Proses ini berlangsung sangat demokratis dan terbuka, dengan tiga kandidat yang maju dalam pemilihan internal. Ketiga kandidat tersebut adalah KH. Yahya Cholil Staquf, KH. A. Musthofa Bisri (Gus Mus), dan KH. A. Hafidz Ja'far (Gus Hafidz).
Sesuai dengan tradisi NU, pemilihan dilakukan melalui musyawarah mufakat dengan sistem akuisisi. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan aspirasinya sebelum proses pemilihan dimulai. Proses ini berlangsung transparan dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Setelah melalui serangkaian rapat pleno, akhirnya terpilihlah KH. Yahya Cholil Staquul sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua kalinya. Gus Yahya berhasil meraih kepercayaan mayoritas peserta muktamar dengan program kerja yang berfokus pada pembenahan internal organisasi, peningkatan kualitas pendidikan, serta peran aktif NU dalam memberikan solusi bagi masalah bangsa.
Sambutan Gus Ipul: Nilai Kemenangan dan Kekalahan
Salah satu momen paling menonjol dalam penutupan muktamar adalah sambutan dari Ketua Umum DPP PKB Gus Ipul yang juga merupakan salah satu peserta muktamar. Dalam sambutannya, Gus Ipul menyampaikan filosofi tentang menang dan kalah dalam konteks organisasi seperti NU.
"Dalam organisasi besar seperti NU, yang terpenting bukan siapa yang menang atau kalah, tetapi bagaimana kita bisa menjaga martabat dan kehormatan," ujar Gus Ipul. Ia menegaskan bahwa kalah terhormat lebih mulia daripada menang dengan cara yang tidak bermartabat.
Gus Ipul juga menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan di antara pengurus PBNU yang terpilih dan yang tidak terpilih. "Kita harus bisa mengakui keputusan musyawarah mufakat. Bagi yang kalah, ini adalah kalah terhormat. Bagi yang menang, ini adalah kemenangan bermartabat," tambahnya.
Keputusan Muktamar dan Arah Kebijakan NU
Selain pemilihan ketua umum, muktamar juga menghasilkan sejumlah keputusan penting yang akan menjadi arah kebijakan NU ke depan. Beberapa di antaranya adalah:
- Penguatan program pendiditan karakter melalui pesantren dan madrasah sebagai wadung membangun generasi yang berkarakter dan berakhlakul karimah.
- Intensifikasi peran NU dalam menjaga kebhinekaan dan toleransi di tengah berbagai isu yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
- Peningkatan kualitas kader NU melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan diri.
- Optimalisasi peran NU dalam memberikan solusi bagi masalah sosial, ekonomi, dan budaya di masyarakat.
Dalam penutupannya, Gus Yahya mengajak seluruh pengurus dan jamaah NU untuk bersatu padu dalam melaksanakan program-program yang telah disepakati. "Mari kita tinggalkan perbedaan pilihan di muktamar ini. Kini saatnya kita bersama-sama membangun NU yang lebih baik untuk Indonesia yang lebih maju," pungkasnya.
Muktamar NU ke-34 sendiri dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia, termasuk para kiai, tokoh masyarakat, pejabat negara, serta perwakilan dari organisasi kerabat NU di luar negeri. Kehadiran berbagai elemen ini menunjukkan bahwa NU tetap menjadi organisasi yang memiliki pengaruh signifikan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Komentar (0)