MUI Soroti Ritual Sadis Sembelih Kambing di Karnaval Maulid Pekalongan
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Yahya Cholil Staquf menyoroti keras tradisi ritual penyembelihan kambing yang dinilai sadis dalam rangkaian kegiatan Karnaval Maulid di Pekalongan. Dalam keterangannya, Kiai Yahya menyatakan kegiatan yang melibatkan penyembelihan hewan secara terbuka di tengah kerumunan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang sejati.
Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut menampilkan prosesi penyembelihan puluhan ekor kambing secara terbuka di jalan protokol Pekalongan. Adegan darah yang mengalir dan teriakan hewan yang disiksa menjadi sorotan utama dalam karnaval yang dihad ribuan warga tersebut.
Reaksi MUI dan Tokoh Agama
MUI menilai praktik penyembelihan hewan dengan cara yang tidak manusiawi dan dilakukan di depan umum tidak memiliki dasar syariat Islam yang kuat. "Menyembelih hewan dengan cara yang menyiksa dan menampilkan adegan kekerasan kepada umum tidak termasuk dalam tradisi yang dianjurkan dalam Islam," tegas Kiai Yahya dalam keterangannya resmi.
Sejumlah tokoh agama lain juga turut menyampaikan kritik serupa. Ustadz Abdul Somad, dalam ceramahnya, menegangkan bahwa ajaran Islam sangat menekankan perlakuan humaniter terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk hewan yang akan disembelih. "Al-Quran secara jelas memerintahkan untuk menyembelih hewan dengan cara yang baik dan tidak menyiksa," ujarnya.
Praktik yang Dilakukan
Berdasarkan laporan dari saksi mata, dalam karnaval tersebut puluhan ekor kambing disiapkan di sepanjang rute pawai. Para pelaksana ritual menyembelih kambing tersebut dengan cara tradisional menggunakan pisau tajam. Adegan darah yang mengalir dan teriakan kambing yang disiksa menjadi pemandangan yang mengejutkan bagi sebagian peserta karnaval.
Beberapa video yang menunjukkan adegan penyembelihan tersebut beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut terlihat jelas bagaimana kambing-kambing itu disiksa sebelum akhirnya dikeroyok oleh beberapa orang dengan menggunakan pisau. Beberapa hingga tewas secara perlahan dengan mengalami pendarahan yang banyak.
Respon Pemerintah Daerah
Pemerintah Kota Pekalongan sejauh ini masih bersikap terbuka terhadap kritik yang muncul. Wali Kota Pekalongan, yang dihubungi secara terpisah, menyatakan bahwa pihaknya akan mengevaluasi kembali pelaksanaan kegiatan serupa di masa depan. "Kami mengapresiasi masukan dari berbagai pihak, termasuk dari MUI. Ke depannya, kami akan mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan kesesuaian dengan nilai-nilai agama dalam setiap acara," jelasnya.
Humas Pemerintah Kota Pekalongan menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi lokal yang telah berlangsung puluhan tahun. Namun, mereka mengakui bahwa cara penyembelihan yang dilakukan memang perlu ditinjau ulang agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap citra keislaman dan kemanusiaan.
Pandangan Ahli Hewan
Dr. Siti Aminah, sepakat ahli etologi hewan dari Universitas Gadjah Mada, menyoroti bahwa praktik penyembelihan yang dilakukan dalam karnaval tersebut sangat bertentangan dengan prinsip kewelfarean hewan. "Penyembelihan hewan harus dilakukan dengan cara yang cepat dan menyakitkan minimal. Menyiksa hingga mati secara perlahan adalah bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa menampilkan adegan kekerasan terhadap hewan di depan umum, terutama anak-anak, dapat memberikan efek psikologis negatif. "Anak-anak yang menyaksikan adegan tersebut mungkin terbiasa dengan kekerasan atau mengalami trauma," jelas Dr. Siti.
Kebijakan Pengendalian Adegan Kekerasan
Kritik terhadap praktik sembelih hewan di depan umum bukanlah hal baru di Indonesia. Sejumlah daerah telah menerapkan aturan yang lebih ketat mengenai penanganan hewan, terutama dalam acara-acara yang disaksikan publik. Beberapa pemerintah daerah bahkan melarang penyembelihan hewan di depan umum sebagai upaya mencegah penyebaran adegan kekerasan.
Departemen Pertanian dan Kementerian Agama sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden di Pekalongan. Namun, sejumlah LSM yang bergerak di bidang kesejahteraan hewan telah menyampaikan kecaman dan meminta pihak terkait menindaklanjuti kritik dari MUI dan tokoh agama lainnya.
Kesimpulan
Insiden penyembelihan kambing dalam Karnaval Maulid di Pekalongan telah memicu polemik luas. Kritik dari MUI dan tokoh agama lain menyoroti perlunya peninjauan ulang tradisi-tradisi yang dinilai bertentangan dengan nilai keislaman dan kemanusiaan. Pemerintah daerah diimbau untuk lebih mempertimbangkan aspek kesejahteraan hewan dan dampak psikologis bagi masyarakat, terutama anak-anak, dalam menyelenggarakan acara serupa di masa depan.
Komentar (0)