24, 2026 ID
Riau

Migran dan Kapal Penyelamat Hadapi Intimidasi di Laut Mediterania

JAKARTA — Organisasi kemanusiaan SOS Mediterranee melaporkan bahwa kapal-kapal penyelamat migran semakin kerap mendapat ancaman dan intimidasi di Laut Mediterania bagian tengah, seiring dengan menguatnya kerja sama Eropa dengan aktor-aktor

JAKARTA — Organisasi kemanusiaan SOS Mediterranee melaporkan bahwa kapal-kapal penyelamat migran semakin kerap mendapat ancaman dan intimidasi di Laut Mediterania bagian tengah, seiring dengan menguatnya kerja sama Eropa dengan aktor-aktor di Libya untuk mencegah perlintasan migran.

Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menilai kawasan Mediterania tengah kini menjadi semakin "tidak ramah". Kondisi itu, menurut mereka, diperparah oleh meluasnya kolaborasi negara-negara Eropa dengan pihak Libya dalam upaya penangkalan migrasi.

SOS Mediterranee mengungkapkan bahwa setidaknya pada tujuh kesempatan selama Juni dan Juli lalu, perahu-perahu yang diduga terkait dengan aktor Libya mendekati kapal penyelamat dengan kecepatan tinggi atau membuntutinya selama berjam-jam, bahkan melakukan pengejaran hingga ke perairan internasional.

Kelompok itu juga mencatat peningkatan signifikan kemunculan kapal cepat tak dikenal yang diduga terkait dengan berbagai kelompok bersenjata di Libya. Kapal-kapal tersebut, menurut laporan, kerap melakukan intersepsi secara kasar, termasuk dengan sengaja menabrakkan kapal ke perahu yang membawa orang-orang dalam keadaan darurat serta melakukan manuver yang membahayakan nyawa.

Insiden Penembakan pada 2025

Tahun lalu, SOS Mediterranee menuduh penjaga pantai Libya menyerang kapal penyelamatnya, Ocean Viking, di perairan internasional. Kelompok itu menyebut lebih dari 100 tembakan dilepaskan dalam insiden tersebut, yang membahayakan awak kapal dan 87 migran yang telah diselamatkan.

Meski proses hukum telah dimulai di Italia, Prancis, dan Jerman terkait kasus ini, SOS Mediterranee menyayangkan sikap diam pihak berwenang di tingkat Eropa maupun nasional. Hingga kini, pelaku serangan tersebut belum juga teridentifikasi.

"Kami menuntut penyelidikan yang menyeluruh dan independen," tegas organisasi tersebut.

Angka Kematian Meningkat

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa jumlah kematian di Mediterania tengah justru meningkat, sementara jumlah migran yang mencoba menyeberang menurun akibat kebijakan Eropa yang semakin ketat.

IOM mencatat 821 orang tewas atau dilaporkan hilang dalam empat bulan pertama tahun ini, meningkat 111 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara itu, kedatangan migran pada periode yang sama turun 46 persen menjadi 8.577 orang.

Rute Laut Tengah memang menjadi salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia, dengan ribuan orang tewas setiap tahun saat mencoba menyeberang dari Afrika ke Eropa menggunakan perahu yang tidak layak laut.

Relevansi bagi Warga Riau

Kabar ini relevan bagi warga Riau yang mengikuti isu perlindungan buruh migran dan hak asasi manusia. Pengalaman penegakan hukum lintas negara seperti yang diupayakan SOS Mediterranee menjadi pengingat pentingnya perlindungan bagi pekerja migran Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari Riau, serta perlunya negara hadir menjamin keselamatan warganya di luar negeri meski berada di perairan internasional.

Selain itu, dinamika kebijakan migrasi Eropa yang semakin ketat juga berdampak tidak langsung pada arus penempatan tenaga kerja ke kawasan tersebut, sehingga penting bagi calon pekerja migran asal Riau untuk memahami skema pemberangkatan yang resmi dan aman.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS admin

Komentar (0)

User

Paling Dibaca

24 jam

Newsletter

Tag