Tekanan ekonomi keluarga menjadi faktor utama yang menghambat ribuan mahasiswa di Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Fenomena ini terlihat nyata di sejumlah daerah, terutama di luar Pulau Jawa, di mana keterbatasan biaya kuliah, biaya hidup, dan biaya transportasi memaksa sebagian mahasiswa mengambil keputusan untuk berhenti di tengah jalan atau menunda studinya.
Pengamat pendidikan menilai persoalan ini bukan sekadar masalah kemampuan membayar uang kuliah tunggal (UKT), tetapi juga biaya lain yang menyertainya, seperti tempat tinggal, buku, dan kebutuhan harian. Di daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi, beban tersebut semakin berat sehingga angka putus kuliah cenderung lebih tinggi dibandingkan kawasan yang lebih maju secara ekonomi.
Kesenjangan Akses Pendidikan Tinggi antarwilayah
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi nasional baru sekitar 31 persen, jauh di bawah target pemerintah. Capaian tersebut juga tidak merata. Provinsi di kawasan timur Indonesia seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku memiliki APK yang jauh lebih rendah dibandingkan DKI Jakarta atau DI Yogyakarta. Kesenjangan ini mencerminkan perbedaan daya beli masyarakat dan terbatasnya jumlah perguruan tinggi di daerah.
Pemerintah sebenarnya telah menyediakan berbagai skema bantuan, antara lain Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, beasiswa afirmasi, dan keringanan UKT bagi mahasiswa kurang mampu. Namun, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi kendala, seperti keterbatasan kuota, proses verifikasi yang panjang, hingga minimnya sosialisasi kepada calon penerima di daerah terpencil.
Dampak ekonomi dari terhambatnya studi ini tidak bisa dianggap remeh. Mahasiswa yang tidak menyelesaikan kuliah kehilangan peluang memperoleh pekerjaan dengan upah lebih baik, sehingga potensi mobilitas sosial ekonomi keluarga ikut terhambat. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memperlebar jurang ketimpangan pendapatan antardaerah di Indonesia.
Ekonom menilai percepatan penambahan anggaran beasiswa dan perluasan akses perguruan tinggi di daerah, termasuk pengembangan kampus di luar Jawa, menjadi langkah yang perlu didorong. Selain itu, penyaluran bantuan harus lebih tepat sasaran dan berbasis data kemiskinan yang mutakhir agar mahasiswa yang paling membutuhkan benar-benar tersentuh.
Tanpa intervensi yang lebih serius, keterbatasan ekonomi diprediksi akan terus menjadi penghalang utama bagi generasi muda di daerah untuk mengenyam pendidikan tinggi. Padahal, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci daya saing ekonomi nasional. Jika tidak ditangani, persoalan ini sekaligus menghambat upaya pemerintah menciptakan SDM unggul secara merata.
Komentar (0)