BANDUNG — Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayahnya sepanjang tahun ini telah menembus 1,4 juta kasus. Dari jumlah tersebut, mayoritas penderita merupakan anak balita yang rentan terhadap gangguan pernapasan akibat perubahan cuaca dan paparan polusi udara.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat menyebut angka tersebut menunjukkan tren peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan kasus didorong oleh musim pancaroba yang membuat suhu dan kelembapan udara berfluktuasi, sehingga virus dan bakteri penyebab ISPA lebih mudah menyebar. Selain itu, kualitas udara yang memburuk di sejumlah daerah, terutama kawasan perkotaan seperti Bandung Raya, turut memperberat risiko infeksi pada anak.
Balita Jadi Kelompok Paling Terdampak
Data dinas kesehatan menunjukkan hampir separuh dari total kasus ISPA di Jawa Barat terjadi pada anak usia di bawah lima tahun. Sistem imun balita yang belum terbentuk sempurna membuat mereka lebih mudah terserang infeksi, terlebih ketika terjadi peralihan musim dari kemarau ke penghujan. Gejala yang umum ditemukan meliputi batuk, pilek, demam, hingga sesak napas pada kasus yang lebih berat.
Dinas Kesehatan mengimbau orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala ISPA pada anak, terutama jika demam berlangsung lebih dari tiga hari atau disertai kesulitan bernapas. Penanganan dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi seperti pneumonia, yang menjadi salah satu penyebab utama kematian balita di Indonesia.
Langkah pencegahan sederhana pun terus digencarkan, antara lain memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, mencuci tangan secara rutin, memastikan ventilasi rumah baik, serta memberikan ASI eksklusif dan makanan bergizi untuk memperkuat daya tahan tubuh anak. Dinas kesehatan juga bekerja sama dengan puskesmas di seluruh kabupaten dan kota untuk memperkuat layanan imunisasi serta edukasi kesehatan bagi ibu dan balita.
Untuk menekan penyebaran, pemerintah daerah meminta masyarakat segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila muncul gejala ISPA. Petugas kesehatan juga diminta aktif melakukan pemantauan kasus di lapangan, terutama di wilayah dengan angka kejadian tinggi. Dengan deteksi dan penanganan yang cepat, risiko keparahan penyakit diharapkan dapat ditekan.
Pihak berwenang mengingatkan bahwa pola hidup bersih dan sehat menjadi kunci utama mencegah ISPA. Dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk sekolah dan lingkungan tempat tinggal, dinilai berkontribusi dalam menekan laju penularan penyakit pernapasan yang kini menjadi perhatian serius pemerintah Jawa Barat.
Komentar (0)