18, 2026
Nasional

Iran Ajukan 7 Syarat ke AS untuk Buka Selat Hormuz

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/04/16/69e0a6d065b28-ilustrasi-bendera-iran_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Iran Ajukan 7 Syarat kepada Amerika Serikat untuk Membuka Selat Hormuz

Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan tujuh syarat yang harus dipenuhi Amerika Serikat guna membuka kembali akses Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran strategis dunia. Pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu (15/4) dalam konferensi pers di Teheran. Syarat-syarat tersebut dianggap sebagai prasyarat bagi Washington untuk mencapai kesepakatan baru mengenai keamanan di kawasan yang krusial ini.

Syarat pertama yang diajukan Iran menuntut AS untuk menghentikan semua operasi militer di Teluk Persia dan mengakhiri kehadiran angkatan lautnya di wilayah tersebut. Iran menyatakan kehadiran militer AS sebagai sumber ketegangan utama yang mengancam stabilitas regional. Pihak Iran menegaskan bahwa negara-negara di kawasan harus memiliki kendali penuh atas keamanan wilayah maritim masing-masing.

Syarat kedua meminta Amerika Serikat untuk menarik sanksi ekonomi yang telah diberlakukan terhadap Iran sejak tahun 2018. Iran mengklaim bahwa sanksi tersebut telah menyebabkan krisis ekonomi yang parah dan berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, terutama selama pandemi COVID-19. Pemerintah Teheran menekankan bahwa sanksi harus dicabut sepenuhnya sebelum diskusi lebih lanjut dapat dilakukan.

Syarat ketiga berfokus pada isu keamanan maritim. Iran meminta AS untuk menandatangani perjanjian formal yang menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz. Iran berjanji akan menjamin keamanan jalur pelayaran bagi semua kapas dagang asalkan AS tidak ikut campur dalam urusan militer di kawasan tersebut. Pernyataan ini menyusul serangkaian insiden di Selat Hormuz pada tahun 2019 yang melibatkan kapas Iran dan AS.

Syarat keempat menuntut AS untuk mengakui klaim Iran atas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Teluk Persia. Iran menegaskan bahwa menurut hukum internasional, negara memiliki hak penuh atas sumber daya alam di ZEE-nya. AS sebelumnya telah mengkritik klaim Iran atas sebagian wilayah Teluk Persia yang juga diklaim oleh negara-negara tetangga seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Syarat kelima meminta Amerika Serikat untuk menghentikan dukungan militer kepada negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terkait konflik di Yaman. Iran menyatakan bahwa dukungan AS kepada koalisi yang dipimpin Arab Saudi telah memperparah krisis kemanusiaan di Yaman dan mengancam stabilitas regional.

Syarat keenam menuntut AS untuk mengakhiri kebijakan "maksimum tekanan" terhadap Iran. Kebijakan ini diperkenalkan oleh pemerintahan Trump pada tahun 2018 setelah AS menarik diri dari Perjanjian Nuklia Iran (JCPOA). Iran menyatakan kebijakan tersebut telah melanggar hak asasi manusia dan menyebabkan penderitaan bagi rakyat Iran.

Syarat terakhir meminta Amerika Serikat untuk berkomitmen terhadap stabilitas regional dan tidak mengancam kedaulatan negara-negara di kawasan. Iran menegaskan bahwa setiap perjanjian baru harus mencakup komitmen AS untuk tidak melakukan intervensi dalam urusan domestik negara-negara Teluk Persia.

Menanggapi syarat-syarat Iran, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, menyatakan bahwa AS terbuka untuk dialog tetapi menolak bertemu dengan syarat-syarat prasyarat. Price menegaskan bahwa AS akan terus bekerja dengan sekutu dan mitra untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. AS juga menegaskan bahwa sanksi terhadap Iran akan tetap berlaku hingga Tehran mengubah perilaku destabilisatornya di kawasan.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Lebih dari 20% minyak global dan seperempat gas alam cair (LNG) dunia melalui selat ini setiap hari. Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada tahun 2018. Pada tahun 2019, terjadi serangkaian insiden di Selat Hormuz yang melibatkan kapas Iran dan AS, menimbulkan kekhawatiran tentang potensi konfiskasi yang lebih luas di kawasan ini.

Para analis internasional menyatakan bahwa persyaratan Iran menunjukkan keinginan kuat untuk menegarkan posisi negara dalam perundingan dengan AS. Iran berada di bawah tekanan ekonomi yang signifikan akibat sanksi AS, namun secara politis terus menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi Washington. Pihak Iran tampaknya berharap dapat menggunakan kendali atas Selat Hormuz sebagai kartu tawar dalam negosiasi dengan AS.

Sementara itu, negara-negara tetangga Iran di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, telah menyatakan keinginan mereka untuk menjaga stabilitas di kawasan. Negara-negara ini khawatir bahwa konflik antara AS dan Iran dapat meluas dan mengancam stabilitas ekonomi dan keamanan regional. Para pemimpin regional telah meminta kedua belah pihak untuk menahan diri dan mencari solusi damai.

Ketegangan di Selat Hormuz terus menjadi sorotan komunitas internasional. Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menyatakan keprihatinannya atas keamanan navigasi di kawasan ini dan telah meminta semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang dapat memicu konflik. Uni Eropa telah menawarkan diri sebagai perantara dalam dialog antara AS dan Iran, namun proposal tersebut belum mendapatkan respons positif dari kedua belah pihak.

Para ekonom mengkhawatirikan bahwa konflik di Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan minyak global dan menyebabkan kenaikan harga minyak dunia. Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) telah menunjukkan volatilitas yang meningkat dalam minggu-minggu terakhir karena kekhawatiran tentang potensi konflik di kawasan ini. Para investor terus memantau perkembangan situasi dengan cermat.

Masa depan keamanan di Selat Hormuz bergantung pada kemampuan AS dan Iran untuk menemukan titik temu dalam perundingan. Syarat-syarat yang diajukan Iran menunjukkan bahwa Teheran bersedia berunding namun dengan persyaratan yang cukup keras. Sementara itu, AS menunjukkan sikap keras dalam menghadapi Iran dan tidak menunjukkan kecenderungan untuk memenuhi syarat-syarat prasyarat. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan mengenai masa depan keamanan di salah satu jalur pelayaran strategis dunia ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter