Harga Pangan 14 September 2026: Cabai Rawit Hijau Sentuh Rp 64.100 per Kg
Pantauan harga pangan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, pada Rabu (14/9/2026) menunjukkan fluktuasi harga yang cukup signifikan untuk sejumlah komoditas pangan pokok. Data yang dikumpulkan dari sejumlah pedagang pasar dan distributor menunjukkan bahwa harga cabai rawit hijau mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, yaitu sebesar Rp 64.100 per kilogram. Kenaikan harga ini berdampak pada harga-harga pangan lainnya yang menggunakan cabai sebagai bahan utama.
Koordinator Pasar Induk Kramat Jati, Budi Santoso, mengatakan bahwa kenaikan harga cabai rawit hijau dipengaruhi oleh beberapa faktor. "Musim kemarau yang berkepanjangan di beberapa daerah produsen cabai seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah menyebabkan penurunan produksi. Selain itu, ada juga peningkatan permintaan dari pasar ekspor, terutama ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia," jelas Budi.
Fluktuasi Harga Komoditas Pangan Lainnya
Selain cabai, harga komoditas pangan lainnya juga mengalami fluktuasi. Harga telur ayam ras menurun tipis menjadi Rp 26.500 per butir dari sebelumnya Rp 27.000 per butir. Kenaikan produksi dalam negeri disebut-sebut sebagai penyebab penurunan harga ini. Sementara itu, harga beras medium di pasar tradisional Jakarta masih stabil di kisaran Rp 11.500 per kilogram.
Harga sayuran lainnya seperti tomat, wortel, dan kubis juga mengalami perubahan. Tomat merah harganya naik menjadi Rp 21.800 per kg dari sebelumnya Rp 19.500 per kg. Wortel mengalami penurunan menjadi Rp 12.300 per kg dari Rp 13.500 per kg. Sementara itu, harga kubis masih stabil di angka Rp 17.200 per kg.
Untuk komoditas daging, harga daging sapi segalanya di pasar tradisional Jakarta mencapai Rp 145.000 per kg, naik dari minggu lima yang sebesar Rp 142.000 per kg. Kenaikan ini disebabkan oleh penurunan pasokan dari peternak akibut peningkatan harga pakan ternak. Harga daging ayam ras potong juga mengalami kenaikan menjadi Rp 38.500 per kg dari sebelumnya Rp 36.500 per kg.
Respon Pemerintah dan Asosiasi Pedagang
Menanggapi fluktuasi harga pangan ini, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan DKI Jakarta, Ahmad Fauzi, mengatakan pihaknya sedang melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan harga. "Kami telah memfasilitasi distribusi langsung dari petani ke pasar untuk mengurangi biaya antar pemodal. Selain itu, kami juga akan membuka pasar khusus untuk sayuran dan buah-buahan di beberapa titik di Jakarta untuk memastikan ketersediaan dan harga terjangkau," jelas Ahmad.
Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (Asppindo) menyatakan kecemasan terhadap kenaikan harga cabai yang drastis. Ketua Umum Asppindo, Hendra Wijaya, mengatakan bahwa kenaikan harga ini berdampak langsung kepada pedagang kecil konsumen. "Kenaikan harga cabai ini tidak hanya membebani pedagang, tetapi juga konsumen terutama bagi kalangan menengah ke bawah. Kami berharap pemerintah dapat segera menindaklanjuti situasi ini," ujar Hendra.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), indeks harga konsumen (IHK) untuk golongan makanan, minuman, dan tembakau di Jakarta pada Agustus 2026 mengalami kenaikan 0,32% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga cabai dan bumbu dapur lainnya.
Para konsumen yang ditemui di pasar mengungkapkan kecewa dengan kenaikan harga cabai. "Sulit memasak tanpa cabai, tapi harga yang sekarang terlalu mahal. Harus lebih hemat menggunakan cabai atau mencari bahan pengganti," kata Ibu Siti, seorang ibu rumah tangga yang berbelanja di Pasar Induk Kramat Jati.
Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, pihak terkait berharap agar ketersediaan dan harga pangan dapat segera stabil demi kepastan ketahanan pangan di ibu kota. Pantauan harga pangan akan terus dilakukan untuk memberikan informasi akurat kepada masyarakat.
Komentar (0)