Gunung Ili Lewotolok Kembali Erupsi, Muntahkan Kolam Abu hingga 600 Meter
Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami erupsi pada Rabu (27/7/2023). Erupsi tersebut disertai dengan dentuman yang cukup kuat dan menghasilkan kolom abu setinggi 600 meter di atas puncak gunung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah meningkatkan status gunung tersebut menjadi Level III (Siaga) sejak erupsi terdeteksi.
Menurut informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG), erupsi Gunung Ili Lewotolok berlangsung selama 45 detik, dimulai pada pukul 09.15 WITA. Erupsi ini berupa guguran lava dan material vulkanis yang disertai dengan kolom abu abu keabu-abuan yang teramati bergerak ke arah barat laut.
Kondisi Gunung Terus Dipantau
Kepala PVMBG, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa aktivitas gunung berapi ini masih terus dipantau secara intensif. "Sejak erupsi terdeteksi, kami telah memantau perkembangan aktivitas Gunung Ili Lewotolok. Meskipun erupsi ini tidak sekuat erupsi sebelumnya, kami tetap waspada karena potensi bahaya masih ada," ujarnya.
Abdul menambahkan bahwa sebelum erupsi terjadi, tercatat adanya peningkatan aktivitas gempa vulkanik dan gempa tektonik di sekitar kawasan gunung. Selain itu, terjadi juga peningkatan deformasi permukaan dan suhu air di sekitar kawah gunung.
Pengungsian Warga Dilakukan
Sebagai antisipasi dampak dari erupsi tersebut, pemerintah daerah setempat telah mengungsikan warga yang tinggal di zona bahaya I sekitar 3 kilometer dari puncak gunung. Kepala BPBD Lembata, Yosef Harefa, mengatakan bahwa pengungsian dilakukan secara bertahap untuk menghindari kerumunan.
"Kami telah mengalokasikan tiga titik pengungsian di tiga kecamatan berbeda. Saat ini, sekitar 500 warga telah dievakuasi ke tempat yang aman. Kami juga menyediakan tenda, makanan, dan obat-obatan bagi para pengungsi," jelas Yosef.
Warga yang diungsian mayoritas adalah penduduk dari Desa Lamawolo dan Desa Jontona yang berada di jalur erupsi. Mereka ditempatkan di aula desa dan sekolah setempat yang telah disiapkan sebagai pusko pengungsian.
Peringatan Bahaya Dikeluarkan
PVMBG telah mengeluarkan peringatan bahaya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ili Lewotolok. Masyarakat diminta waspada terhadap potensi bahaya aliran lahar, hujan abu, dan guguran material vulkanis.
"Potensi aliran lahar masih sangat tinggi terutama di sepanjang aliran sungai yang bermuara di kawah gunung. Selain itu, hujan abu juga masih berpotensi terjadi di sekitar kawasan gunung," pering Abdul Muhari.
Untuk mengantisipasi dampak hujan abu, pemerintah daerah telah menyediakan masker dan mengimbau masyarakat untuk selalu membawanya saat keluar rumah. Selain itu, masyarakat juga diminta membersihkan atap rumah secara berkala untuk menghindari kerusakan akibat tertimbun abu.
Tindakan Pencegahan Ditingkatkan
Upaya pencegahan bencana terus ditingkatkan oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait. Tim SAR telah diterjunkan untuk memantau kawasan sekitar gunung dan membantu proses evakuasi jika diperlukan.
"Kami juga telah memasang papan peringatan di sekitar zona bahaya dan membentuk posko darurat di beberapa titik. Posko ini akan berfungsi sebagai pusat informasi dan koordinasi dalam penanganan bencana," jelas Yosef Harefa.
Sementara itu, Dinas Pendidikan setempat telah mengimbau seluruh sekolah di zona bahaya untuk menghentikan kegiatan belajar mengajar sementara. "Keamanan siswa menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, semua sekolah di zona bahaya akan diliburkan hingga situasi aman," kata Kepala Dinas Pendidikan Lembata.
Gunung Ili Lewotolok merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang pernah mengalami erupsi besar pada Desember 2020 lalu. Erupsi tersebut menyebabkan puluhan ribu warga di sekitar gunung mengungsi dan menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas perekonomian daerah.
Saat ini, pemerintah daerah terus melakukan monitoring terhadap perkembangan aktivitas gunung. Masyarakat juga diminta untuk selalu memperhatikan informasi resmi dari PVMBG dan BPBD untuk mengantisipasi potensi bahaya yang dapat terjadi.
Komentar (0)