Gunung Ile Lewotolok Kembali Erupsi, Dua Kali Gempa Vulkanik Terdeteksi
Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami erupsi pada Kamis (27/5) pagi ini. Erupsi yang terjadi dua kali ini disertai dengan gempa vulkanik yang cukup kuat dan terdengar dentuman dari arah gunung.
Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi pertama terjadi pukul 06.45 WITA dengan durasi sekitar 45 detik. Sedangkan erupsi kedua terjadi pada pukul 07.15 WITA dengan durasi lebih singkat, yakni sekitar 30 detik. Kedua erupsi tersebut menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter dari puncak gunung.
Kondisi Gunung Setelah Erupsi
Seperti dilansir dari pantauan visual di pos pengamatan, setelah erupsi terjadi, kondisi Gunung Ile Lewotolok relatif normal. Namun, tercatat adanya hujan abu ringan di beberapa area sekitar lerung gunung, terutama di desa Lewotolok dan desa surrounding.
"Kami mendapat laporan dari masyarakat sekitar bahwa terdengar dentuman keras dari arah gunung. Beberapa warga yang tinggal di kaki gunung melihat kolom abu yang terbentang setelah erupsi," kata Kepala Pelaksana BPBD Lembata, Ahmad Fauzi.
BPBD setempat telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan situasi. Pihaknya juga telah mempersiapkan logistik darurat untuk masyarakat yang tinggal di zona merah sekitar gunung.
Status Gunung Tetap pada Level III
Meskipun terjadi erupsi, PVMBG belum mengubah status Gunung Ile Lewotolok yang masih berada pada Level III (Siaga). Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mematuhi anjuran yang diberikan.
"Kami masih memantau aktivitas gunung secara intensif. Erupsi yang terjadi pagi ini masih dalam batas normal. Namun, kami tidak menutup kemungkinan adanya erupsi lebih besar di kemudian hari," kata Kepala PVMBG, Hendra Gunawan.
Beberapa aktivitas vulkanik yang masih terjadi di sekitar gunung antara lain gempa vulkanik shallow yang terus terjadi dengan frekuensi 15-20 kali per hari, gempa tectonic lokal yang terjadi berkisar 1-2 kali per hari, dan gempa vulkanik deep yang terjadi berkisar 2-3 kali per hari.
Imbauan untuk Masyarakat
PVMBG meminta masyarakat yang tinggal di sekitar gunung untuk tidak melakukan aktivitas di dalam zona bahaya radius 3 kilometer dari puncak gunung. Selain itu, masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi hujan abu, aliran lava, dan lahar.
"Bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang alur sungai yang berasal dari gunung, kami meminta untuk waspada terhadap potensi banjir lahar. Jika terjadi hujan di sekitar kawasan gunung, kami imbau untuk waspada," kata Hendra.
Untuk mencegah dampak buruk dari hujan abu, masyarakat diminta untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, disarankan untuk menutup persediaan air minum dan menyimpan makanan dalam wadah tertutup.
Riwayah Erupsi Gunung Ile Lewotolok
Gunung Ile Lewotolok merupakan gunung berapi aktif yang terakhir kali erupsi pada November 2020. Erupsi pada waktu itu mengakibatkan evakuasi ribuan warga yang tinggal di sekitar lerung gunung.
Sejak erupsi November 2020, aktivitas gunung terus dipantau oleh PVMBG. Status gunung sempat dinaikkan menjadi Level IV (Awas) pada Desember 2020, namun kemudian diturunkan kembali menjadi Level III pada Januari 2021.
Dalam sejarahnya, Gunung Ile Lewotolok telah mengalami beberapa kali erupsi besar. Erupsi terbesar terjadi pada tahun 1992 dengan skala VEI 3, mengakibatkan material vulkanik menutupi area seluas 50 kilometer persegi.
Pemerintah daerah setempat bersama instansi terkait terus melakukan koordinasi untuk memastikan situasi terkendali. Evakuasi belum dilakukan saat ini, namun pihak siaga jika diperlukan.
Komentar (0)