17, 2026
Nasional

Gunung Ile Lewotolok Erupsi 2 Kali Pagi Ini, Terdengar Dentuman

Dian Simanjuntak
Dian Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gunung Ile Lewotolok Kembali Erupsi, Warga Diminta Tetap Waspada

Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami erupsi pada pagi hari ini. Gunung berapi ini meletus dua kali dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. Erupsi pertama terjadi pukul 06.30 WITA diikuti erupsi kedua pada pukul 07.15 WITA.

Berdasarkan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengendalian Gunung Berapi (BPBD) Gunung Ile Lewotolok, erupsi ini berdampak pada wilayah sekitar gunung. Kolom abu terdispersi ke arah tenggara dan timur laut dengan jarak sejauh 2,5 kilometer dari puncak gunung. Warga di sekitar kawasan gunung melaporkan terdengar suara dentuman yang cukup keras hingga beberapa kali.

Aktivitas Vulkanik Meningkat

Kepala BPBD Gunung Ile Lewotolok, Andi Hendrawan, mengatakan aktivitas gunung berapi ini telah meningkat sejak seminggu terakhir. "Kami telah meningkatkan status gunung menjadi level III (siaga) sejak 10 Juli lalu. Namun, aktivitas terkini menunjukkan peningkatan yang signifikan sehingga kami tetap meminta warga untuk tetap waspada," ujar Andi melalui rilis resmi yang diterima pada Rabu pagi.

Erupsi kali ini disertai dengan gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik yang terdeteksi oleh stasiir pemantauan. Selain itu, tercatat juga hujan abu ringan di beberapa desa sekitar kawasan gunung, seperti Desa Jontona, Desa Lamawolo, dan Desa Lamatokan.

Warga Diminta Mengikuti Petunjuk

Pemerintah daerah setempat telah mengimbau warga untuk tidak mendekati zona bahaya sejauh 4 kilometer dari puncak gunung, serta zona ventilasi sejauh 5 kilometer di sektor selatan dan tenggara. "Kami telah mempersiapkan beberapa posko pengungsian di tiga kecamatan terdekat, yaitu Kecamatan Lebatukan, Kecamatan Ile Ape, dan Kecamatan Nubatukan," jelas Kepala BPBD Lembata, Yosep Harefa.

Sejauh ini, belum ada laporan adanya korban jiwa atau kerusakan infrastruktur akibat erupsi. Namun, pihak berwenang terus memantau situasi dan mempersiapkan skenario evakuasi jika diperlukan. "Kami telah mengidentifikasi lokasi-lokasi potensi bencana dan siap mengungsikan warga jika situasi memburuk," tambah Yosep.

Penyebab Erupsi

Menurut ahli vulkanologi dari PVMBG, Gunung Ile Lewotolok merupakan gunung berapi tipe stratovolcano dengan aktivitas yang relatif aktif. Erupsi terkini diduga disebabkan oleh tekanan magma yang terus meningkat di dalam kamar magma gunung. "Kondisi ini normal untuk gunung berapi aktif seperti Ile Lewotolok. Namun, kami terus memantau setiap indikator untuk memastikan keamanan masyarakat," jelas Dr. Budi Santoso, ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG).

Gunung Ile Lewotolok memiliki sejarah erupsi yang cukup aktif. Sejak pertama kali tercatat pada tahun 1665, gunung ini telah mengalami lebih dari 20 kali erupsi. Erupsi terbesar terjadi pada tahun 1915 dan 1999 dengan dampak yang signifikan terhadap wilayah sekitarnya.

Persiapan Darurat

Pemerintah daerah telah mempersiapkan beberapa langkah antisipatif, termasuk penyediaan masker kesehatan, tenda darurat, persediaan makanan minuman, dan fasilitas kesehatan di posko pengungsian. "Kami juga telah membentuk tim khusus yang akan melakukan monitoring 24 jam guna memantau perkembangan aktivitas gunung," ujar Kepala Pelaksana BPBD Lembata, Markus Paelang.

Warga diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah serta tim BPDB. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk selalu memperhatikan informasi resmi dari pihak berwenang mengenai perkembangan situasi gunung berapi.

Dampak Terhadap Penerbangan

Erupsi Gunung Ile Lewotolok juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menerbitkan peringatan dini bagi penerbangan di sekitar kawasan gunung. "Kami meminta para pilot untuk selalu memperhatikan laporan cuaca dan menghindari area dengan adanya abu vulkanik," kata Kepala BMKG Wilas NTT, Antonius Rahadian.

Saat ini, Bandar Udara J. Hasan Aroeboesman di Kupang, yang menjadi pintu masuk utama ke wilayah Lembata, masih beroperasi normal. Namun, BMKG terus memantau kondisi udara dan akan memberikan update jika terjadi perubahan.

Dengan aktivitas gunung yang masih terus dipantau, pemerintah daerah dan instansi terkait berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat. "Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama kami dalam menghadapi bencana alam ini," tegas Bupati Lembata, Antonius Hilarion.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Simanjuntak

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter