NABIRE – Forum Pemuda Mimika (FPM) Papua Tengah menggelar aksi damai di depan Gedung DPR Papua Tengah, Nabire, hari ini. Massa yang didominasi pemuda asal Mimika itu menuntut pemerintah pusat dan aparat keamanan segera membebaskan sembilan warga yang disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Jilla, Kabupaten Mimika.
Pantauan di lokasi, puluhan peserta membawa spanduk bertuliskan "Bebaskan Sandera Mimika" dan "Keselamatan Rakyat Papua Harga Mati". Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian dan TNI. Para peserta bergantian menyampaikan orasi mengecam aksi penyanderaan yang dinilai telah menimbulkan trauma dan ketakutan bagi masyarakat di wilayah pegunungan Mimika.
Koordinator aksi menyampaikan, sembilan sandera merupakan warga sipil yang bekerja di wilayah Jilla. Pihaknya mendesak aparat keamanan mengedepankan pendekatan humanis dan menjadikan keselamatan sandera sebagai prioritas utama. "Kami minta pemerintah tidak tinggal diam. Keselamatan sembilan saudara kami harus menjadi perhatian serius," ujarnya di hadapan massa.
Para sandera dilaporkan masih berada dalam tahanan KKB dan kondisi mereka belum dapat dipastikan. FPM menilai situasi ini menuntut respons cepat dari pemerintah, termasuk melalui keterlibatan tokoh agama, tokoh adat, dan pemuka masyarakat setempat dalam proses negosiasi.
Keselamatan Warga Mimika Harus Jadi Prioritas
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, FPM juga meminta seluruh elemen masyarakat tidak terprovokasi dan tetap menjaga persatuan. Organisasi pemuda itu menilai penyanderaan tidak hanya mengancam nyawa korban, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan pelayanan publik di Distrik Jilla serta sekitarnya.
Perwakilan DPR Papua Tengah yang menerima massa menyatakan keprihatinannya atas situasi di Mimika. Pihaknya berjanji menyampaikan aspirasi FPM kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, serta mendukung penuh upaya pembebasan sandera melalui jalur dialog dan pendekatan kemanusiaan.
Di sisi lain, FPM mengapresiasi langkah aparat keamanan yang selama ini berupaya menjaga situasi tetap kondusif. Namun, mereka meminta upaya pembebasan dilakukan secara transparan dan melibatkan keluarga korban agar tidak timbul kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Sementara itu, warga Papua Tengah berharap proses pembebasan segera membuahkan hasil. Mereka juga meminta publik tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak memperkeruh situasi di lapangan. Aksi damai FPM diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan para sandera dan keluarganya.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa persoalan keamanan di wilayah pegunungan Papua Tengah masih menjadi tantangan besar. Warga berharap kehadiran pemerintah dan aparat keamanan mampu memberikan rasa aman, sekaligus membuka ruang dialog untuk menyelesaikan akar persoalan secara damai.
Komentar (0)