17, 2026
Teknologi

Dor! Presiden Mesir Ditembak Mati usai Damai dengan Israel

Inisiatif normalisasi hubungan Arab-Israel memicu gejolak, seperti pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat.]]>

Melati Handayani
Melati Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dor! Presiden Mesir Ditembak Mati usai Damai dengan Israel

Dor! Presiden Mesir Ditembak Mati usai Damai dengan Israel

Presiden Mesir Anwar Sadat ditembak mati oleh anggota militer selama upacara parade militer di Kairo pada 6 Oktober 1981. Tragedi mengejut itu terjadi tepat delapan tahun setelah Sadat menjadi orang pertama di dunia Arab yang mengunjungi Israel dan menandatangani perjanjian damai dengan negara tersebut. Penembakan tersebut mengakhiri hidup seorang pemimpin yang telah mengubah wajah Timur Tengah dengan tindakan berani namun kontroversialnya.

Upacara parade militer yang menjadi saksi pembunuhan itu berlangsung meriah di lapangan Tahrir, pusat kota Kairo. Presiden Sadat, yang mengenakan seragam militer dengan jubah putih, sedang duduk di tribun kehormatan menonton parade untuk memperingati perang Oktober 1973 yang dimenangkan Mesir melawan Israel. Tiba-tiba, sekelompok prajurit yang berpartisipasi dalam parade melepaskan tembakan ke arah podium kepresidenan. Sadat terkenakan beberapa tembakan di dada dan perut sebelum para penjaga keamanan berhasil melumpuhkan para penembak.

Latar Belakang Pembunuhan

Anwar Sadat menjadi Presiden Mesir pada 1970 setelah kematian Gamal Abdel Nasser. Ia segeran menunjukkan sikap yang berbeda dari pendahulunya. Dalam perjalanan politiknya, Sadat melakukan berbagai reformasi radikal yang mengubah Mesir dari negara sosialis yang bersekutu dengan Uni Soviet ke arah yang lebih terbuka ke Barat. Pada 1973, ia memimpin perang melawan Israel dalam perang yang dikenal sebagai Perang Oktober atau Perang Yom Kippur. Meskipun tidak meraih kemenangan militer total, perang tersebut mengembalikan harga diri Mesir dan mengantarkan Sadat ke puncak popularitasnya.

Kemenangan militer inilah yang menjadi modal utama Sadat dalam diplomasi internasional. Pada November 1977, dalam gerakan yang mengejutkan dunia, Sadat mengunjungi Israel dan menjadi pemimpin negara Arab pertama yang melakukannya. Ia berbicara di Knesset parlemen Israel dan menawarkan perdamaian yang berdasarkan pengakuan kedua negara. Setelah berbulan-bulan negosiasi yang berat, perjanjian damai ditandatangani di Camp David pada 1978 dan disahkan pada tahun berikutnya. Perjanjian ini mengembalikan Semenanjung Sinai ke Mesir dalam pertukuan pengakuan diplomatik dan normalisasi hubungan antara kedua negara.

Motif Pembunuhan dan Pelaku

Keputusan Sadat untuk membuat perdamaian dengan Israel menimbulkan kemarahan luas di kalangan ekstremis Islam dan nasionalis militer yang menganggapnya pengkhianat terhadap dunia Arab. Para penyerang teridentifikasi sebagai anggota kelompok ekstremis Islam yang dipimpin oleh Lieutenant Khalid Islambouli. Kelompok ini menyerang keputusan Sadat untuk menandatangani perjanjian damai dengan Israel, menganggapnya pengkhianatan terhadap agama dan bangsa.

Lima orang, termasuk ketua pelaku dan empat anggota kelompok, dijatuhi hukuman mati setelah pengadilan militer yang singkat. Islambouli dan tiga rekan dieksekusi pada April 1982. Dua terdakwa lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Para pembunuh itu mengklam bahwa mereka bertindak karena motif agama dan nasionalis, percaya bahwa tindakan mereka adalah jihad untuk melindungi Mesir dari pengaruh Barat dan Israel.

Dampak dan Warisan

Pembunuhan Sadat menciptakan kekosongan kekuasaan yang tiba-tiba di Mesir. Wakil Presiden Hosni Mubarak, yang selamat dari serangan itu karena duduk di belakang Sadat, segera mengambil alih kekuasaan dan memerintah Mesir selama hampir 30 tahun. Mubarak melanjutkan kebijakan luar negeri Sadat yang pro-Barat dan mempertahankan perdamaian dengan Israel meskipun menolak untuk mengikuti langkah-langkah diplomatik Sadat yang lebih berani.

Tragedi itu juga meninggalkan warisan yang kompleks bagi Mesir dan hubungan Israel-Arab. Sementara perdamaian antara Mesir dan Israel bertahan, pembunuhan Sadat menjadi pengingat mengenrisikoan politik damai di kawasan yang dipenuhi konflik. Di Mesir sendiri, peristiwa itu menandai dimulanya periode represi terhadap kelompok Islam yang berlanjut bertahun-tahun dan berdampak pada lanskap politik negara hingga revolusi 2011.

Warisan Anwar Sadat tetap diperdebatkan hingga kini. Beberapa menganggapnya sebagai pemimpin berani yang mengakhiri perang tak hingga dengan Israel dan membuka jalan bagi pembangunan ekonomi. Yang lain mengingatnya sebagai penguasa yang otoriter yang mengabaikan aspirasi rakyat dan memimpin negara ke arah yang lebih terpencil dari dunia Arab. Namun, bagaimanapun juga, cara kematiannya yang tragis menegaskan betapa berbahayanya politik damai di kawasan yang rentan konflik seperti Timur Tengah.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Melati Handayani

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter