Doa Seorang Ayah di Ujung Dermaga, Menanti Bagus Pulang
Di ujung dermaga Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, terdapat sosok seorang lansia yang setiap sore menatap lautan biru dengan penuh harapan. Bapak Suroso (70) telah menanti pulang anaknya, Bagus, yang menjadi ABK (Anak Buah Kapal) selama 10 tahun terakhir. Kisahnya menjadi cerminan dari ribuan keluarga ABK di Indonesia yang menanti kehadiran sanak saudara mereka dari tengah lautan.
Setiap pukul 15.00 WIB, Bapak Suroso selalu duduk di bangku tua yang berada di dekat gerbang masuk pelabuhan. Ia membawa sebuah foto lama yang sudah agak kusam, menunjukkan wajah Bagus yang masih muda dan ceria. Foto itu menjadi satu-satunya penantinya selama menunggu kapal yang membawa anaknya pulang dari perjalanan navigasi yang berbulan-bulan lamanya.
Kisah Keluarga di Tengah Lautan
Bagus, sekarang berusia 35 tahun, memulai karirnya di kapal sejak usia 25 tahun. Ia bekerja sebagai ABK di kapal kontainer milik salah satu perusahaan pelayaran terbesar di Indonesia. Setiap perjalanan, Bagus biasanya berlayar selama 4-6 bulan sebelum kembali ke pelabuhan asalnya. Untuk Bapak Suroso, setiap kunjungan anak tersebut adalah momen berharga yang dinantikan selama bertahun-tahun.
"Saya tidak tahu lagi berapa kali menunggu di sini. Yang pasti, setiap kapal merapat, hati ini selalu berdegup kencang," ujar Bapak Suroso sambil memegang foto tersebut dengan tangan yang keriting. Wajahnya yang berkerut menunjukkan tanda-tanda usia, namun matanya masih tajam dan penuh harap setiap kali melihat kapal baru merapat ke dermaga.
Kehidupan sebagai keluarga ABK tidaklah mudah. Selain jarak yang jauh, komunikasi sering terputus karena sinyal yang buruk di tengah lautan. Bapak Suroso mengakui bahwa ia sering khawatir akan keselamatan anaknya, terutama ketika mendengar berita tentang kapal tenggelam atau badai di lautan.
Antara Duka dan Harapan
Dua tahun lalu, Bapak Suroso mengalami duka mendalam ketika kapal yang ditumpangi Bagus mengalami gangguan mesin di tengah laut. Selama seminggu, ia tidak mendapatkan kabar apapun dari anaknya. Puncaknya adalah ketika ia mendapat kabar bahwa kapal tersebut harus dialihkan ke pelabuhan di Singapura untuk perbaikan.
"Itu adalah minggu terpanjang dalam hidup saya. Saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan. Hanya bisa duduk di sini dan berdoa agar Bagus selamat," kenangnya sambil menepis air matanya. Beruntung, setelah seminggu menunggu, akhirnya Bagus berhasil menghubungi keluarganya dan kabarnya selamat.
Menurut Bapak Suroso, keyakinan dan doa adalah satu-satunya penopangnya selama menunggu. Ia sering membaca Al-Qur'an dan melakukan shalat sunat untuk memohon keselamatan anaknya. "Saya yakin, doa orang tua akan selalu didengar oleh Allah. Itulah yang saya pegang teguh," ujarnya dengan tulus.
Dukungan dari Komunitas ABK
Bukan hanya Bapak Suroso yang menanti kehadiran anak ABK di pelabuhan. Terdapat puluhan orang tua dan keluarga ABK lainnya yang rutin datang ke dermaga Tanjung Perak setiap hari. Mereka membentuk semacam komunitas informal yang saling mendukung dalam menanti kehadaran sanak saudara mereka.
"Kita saling menguatkan di sini. Kalau ada yang kabar buruk, kita saling menenangkan. Kalau ada yang anaknya pulang, kita ikut bersukacita," jelas Ibu Siti (65), seorang ibu lain yang juga menanti putranya yang menjadi ABK. Menurutnya, persahabatan ini tercipta dari kesamaan nasib dan pengalaman menanti dari jarak jauh.
Untuk mengurangi rasa kangen, Bapak Suroso dan keluarga ABK lainnya sering menggunakan video call ketika ada sinyal internet yang tersedia. Namun, ia mengakui bahwa tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran fisik Bagus pulang ke rumah.
Momen Bahagia yang Dinanti
Ketika ditanya tentang apa yang akan ia lakukan ketika Bagus pulang, Bapak Suroso tersenyum hangat. "Saya akan memeluknya erat-erat. Membuatkan makanan favoritnya. Dan sekedar dudub bicara, seperti dulu," ujarnya sambil menunjukkan foto Bagus bersama anak kecilnya yang baru lahir beberapa bulan lalu.
Bagus baru saja memiliki anak pertama, seorang bayi perempuan yang dinamai Lestari. Bapak Suroso belum pernah bertemu dengan cucunya tersebut. "Saya sudah tidak sabar ingin memegang Lestari. Ingin mengajak berjalan-jalan ke taman seperti dulu saya ajak Bagus," tambahnya dengan haru.
Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, Bapak Suroso terus menatap lautan dengan penuh harapan. Meskipun menunggu telah menjadi bagian dari hidupnya, ia tetap percaya bahwa suatu saat nanti, Bagus akan kembali dan semua penantian ini akan berbuah manis. Di ujung dermaga ini, doa seorang ayah terus terucap setiap hari, menanti kehadiran anak yang jauh di tengah lautan.
Komentar (0)