17, 2026
Nasional

Derek Mobil Ternyata Tak Sesederhana yang Dibayangkan, Apalagi Kalau EV

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2021/10/19/616e4341585d7-mobil-towing-pelayanan-saat-darurat_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Derek Mobil Ternyata Tak Sesederhana yang Dibayangkan, Apalagi Kalau EV

Derek mobil atau towing merupakan layanan yang seringkali dianggap sepele oleh banyak pengendara. Namun, kenyataannya proses ini jauh lebih kompleks daripada sekadar menarik kendaraan yang mogok atau mengalami kecelakaan. Khususnya untuk kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), proses derek menjadi semakin rumit dan membutuhkan penanganan khusus untuk menghindari risiko bahaya maupun kerusakan pada komponen sensitif.

Kompleksitas Proses Derek Mobil Konvensional

Proses derek mobil konvensional memang terlihat sederhana, tetapi membutuhkan keahlian dan peralatan yang tepat. Menurut data dari Asosasi Pengusaha Jasa Angkutan Darat (Asjadi), tingkat kebutuhan layanan derek di Indonesia mencapai sekitar 15% dari total kendaraan yang beroperasi setiap harinya. Angka ini menunjukkan bahwa layanan ini memang menjadi kebutuhan vital dalam ekosistem transportasi.

Tim derek profesional harus mempertimbangkan beberapa aspek penting sebelum melakukan penarikan kendaraan. Pertama, jenis kendaraan dan berat totalnya yang menentukan jenis alat derek yang akan digunakan. Kedua, kondisi jalan dan lokasi kendaraan yang mogok menentukan strategi penarikan yang aman. Ketiga, jenis kerusakan yang dialami kendaraan apakah memungkinkan untuk ditarik atau harus diangkat menggunakan mobil derek yang dilengkapi dengan derek hidrolik.

"Banyak yang berpikir bahwa derek itu mudah, tapi kenyataannya banyak faktor yang harus dipertimbangkan," ujar Ahmad, operator derek berpengalaman dari Jakarta. "Kita harus waspada dengan posisi roda, sistem kemudi, dan transmisi. Salah satu langkah bisa merusak komponen internal kendaraan yang sebenarnya masih bisa diperbaiki."

Tantangan Khusus untuk Kendaraan Listrik (EV)

Dengan semakin maraknya adopsi kendaraan listrik di Indonesia, tantangan baru muncul dalam layanan derek. EV memiliki struktur yang berbeda secara signifikan dibandingkan kendaraan konvensional, terutama pada sistem baterai dan komponen elektriknya.

Menurut studi dari Institut Teknologi Bandung, baterai lithium-ion yang digunakan pada EV memiliki potensi risiko kebakaran jika terjadi kerusakan akibat penanganan yang tidak tepat. Sistem baterai EV juga relatif lebih berat, mencapai 300-500 kg untuk mobil penumpang, yang membutuhkan peralatan derek yang lebih mampu menangani beban ekstra tersebut.

EV juga seringkali memiliki ground clearance yang lebih rendah dan posisi baterai yang terletak di bagian bawah chassis. Hal ini membuat proses penarikan menjadi lebih rumit karena harus menghindari gesekan atau benturan pada bagian bawah kendaraan. Beberapa produsen EV seperti Tesla bahkan memberikan panduan khusus mengenai proses derek yang harus dilakukan oleh tim profesional.

"Kita sudah melatih khusus tim derek untuk menangani EV. Ada prosedur khusus untuk mengecek sistem tegangan sebelum melakukan penarikan, menggunakan alat derek yang dilengkapi dengan sistem penyangga untuk baterai, serta memastikan tidak ada potensi short circuit selama proses," jelani Budi, kepala operasional salah satu penyedia layanan derek di kota metropolitan.

Regulasi dan Standar Keamanan

Departemen Perhubungan Indonesia telah mengeluarkan regulasi terkait layanan derek melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017. Regulasi ini menetapkan standar operasional minimal bagi penyedia jasa derek, termasuk persyaratan peralatan, kompetensi operator, serta prosedur keamanan yang harus dipatuhi.

Untuk kendaraan listrik, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan sedang menyusun standar khusus. Standar ini akan memuat pedoman khusus mengenai penanganan baterai, prosedur darurat jika terjadi kebakaran, serta persyaratan alat derek yang digunakan untuk kendaraan elektrik.

Dalam perkembangan terkini, beberapa penyedia layanan derek mulai mengadopsi teknologi canggih seperti sistem monitoring jarak jauh untuk mendeteksi lokasi kendaraan yang membutuhkan bantuan, serta sistem dokumentasi digital untuk mencatat proses derek guna peningkatan layanan dan analisis data.

Implikasi bagi Pengendara

Bagi pengendara, terutama yang baru mengendarai EV, penting untuk memahami bahwa tidak semua layanan derek dapat menangani kendaraan listrik dengan aman. Sebelum menggunakan jasa derek, pengendara sebaiknya memastikan bahwa penyedia layanan memiliki pengalaman dan sertifikasi yang memadai untuk menangani EV.

Beberapa asosiasi pengendara EV seperti Indonesian Electric Vehicle Association (IEVA) telah menyediakan daftar rekomendasi penyedia layanan derek yang telah terlatih dan memenuhi standar keamanan. Pengendara juga disarankan untuk memahami dasar-dasar penanganan darurat EV, termasuk cara mematikan sistem listrik dengan benar jika terjadi kecelakaan.

Dengan semakin kompleksnya jenis kendaraan dan sistem penggeraknya, layanan derek terus mengalami evolusi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Standar keamanan yang tinggi dan keahlian khusus menjadi kunci utama dalam memberikan layanan derek yang aman dan efektif, baik untuk kendaraan konvensional maupun listrik yang semakin populer di Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter