17, 2026
Gaya Hidup

Cegah Dampak Karhutla, Pemkot Pekanbaru Terapkan 2 Hari PJJ untuk TK-SMP

Pemkot Pekanbaru terapkan Pembelajaran Jarak Jauh untuk PAUD hingga SMP akibat kebakaran hutan. Keputusan ini demi kesehatan anak-anak.]]>

Tania Sari
Tania Sari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Cegah Dampak Karhutla, Pemkot Pekanbaru Terapkan 2 Hari PJJ untuk TK-SMP

Cegah Dampak Karhutla, Pemkot Pekanbaru Terapkan 2 Hari PJJ untuk TK-SMP

Pemerintah Kota Pekanbaru mengumumkan penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari bagi siswa Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai upaya mitigasi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kebijakan ini mulai berlaku pada hari ini dan besok, Rabu (25/9) dan Kamis (26/9) 2023.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melihat kondisi kualitas udara yang terus memburuk akibat kabut asap yang menyelimuti kota. "Kami memantau perkembangan indeks standar pencemar udara (ISPU) secara berkala. Karena kondisi saat ini sudah berada dalam kategori tidak sehat, kami mengambil langkah preventif dengan menerapkan PJJ untuk jenjang TK hingga SMP," ujar Fauzi dalam keterangannya, Selasa (24/9).

ISPU Mencapai Kategori Tidak Sehat

Menurut data dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) Pekanbaru, indeks standar pencemar udara pada Selasa pagi mencapai angka 142 yang masuk dalam kategori tidak sehat. Angka ini terus meningkat sejak akhir pekan lalu akibat intensitas kebakaran hutan dan lahan yang meningkat di sekitar wilayah Riau dan sekitarnya.

Kondisi kabut asap telah mengakibatkan penurunan visibilitas hingga kurang dari 500 meter di beberapa titik di Pekanbaru. Selain itu, banyak warga yang melapuhan gejala gangguan pernafasan seperti batuk, pilek, dan iritasi mata. Dinas Kesehatan Pekanbaru sudah mencatat adanya peningkatan pasien dengan keluhan serupa di puskesmas-puskesmas sejak seminggu terakhir.

Mekanisme PJJ untuk Siswa TK hingga SMP

Dalam mekanisme PJJ yang diterapkan, guru-guru diminta menyampaikan materi pembelajaran secara daring melalui aplikasi yang telah digunakan selama masa pandemi COVID-19. Untuk jenjang TK, guru akan mengirimkan kegiatan belajar berbasis video dan gambar yang dapat diikuti oleh orang tua bersama anak di rumah.

"Untuk SD dan SMP, guru akan mengirimkan tugas-tugas pembelajaran secara daring. Kami juga meminta para guru untuk tetap melakukan komunikasi dengan orang tua murid untuk memastikan proses pembelajaran berjalan efektif," tambah Fauzi.

Sementara itu, untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), pembelajaran tetap dilaksanakan secara tatap muka namun dengan pengawasan ketat terkait kesehatan siswa. "Kami menganggap siswa SMA dan SMK sudah memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, namun tetap akan kami pantau kondisinya," jelasnya.

Upaya Lain Selain PJJ

Selain menerapkan PJJ, Pemkot Pekanbaru juga melakukan beberapa upaya mitigasi lainnya. Pemerintah telah membagikan 10.000 masker medis gratis kepada warga terutama yang beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, pemerintah juga membuka ruang publik dengan fasilitas udara bersih seperti perpustakaan dan gedung pertemuan yang dapat digunakan masyarakat sebagai tempat menghindari asap.

"Kami juga telah meminta seluruh sekolah untuk melakukan penyiraman di sekitar area sekolah guna menurunkan suhu udara dan partikel debu yang ada di udara. Selain itu, kami juga melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memadamkan titik api yang menyebabkan asap," kata Wali Kota Pekanbaru, Firdaus, saat ditemui di rumah dinasnya.

Reaksi Orang Tua dan Tokoh Pendidikan

Kebijakan PJJ ini mendapat beragam reaksi dari orang tua dan tokoh pendidikan di Pekanbaru. Beberapa orang tua mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah karena khawatir dengan kesehatan anak-anaknya. "Saya setuju dengan kebijakan ini karena anak saya sudah batuk-batuk sejak seminggu lalu akibat asap. Lebih baik belajar di rumah daripada di sekolah yang kondisinya sama saja," uarti Siti, seorang orang tua siswa SD.

Sementara itu, beberapa tokoh pendidikan khawatir dengan efektivitas pembelajaran melalui PJJ. "Meskipun PJJ diterapkan, kita harus memastikan tidak ada gap antara pembelajaran tatap muka dan daring. Kami berharap guru-guru dapat memberikan materi yang tetap berkualitas," kata Dr. Ahmad Rizki, seorang pakar pendidikan dari Universitas Riau.

Dinas Pendidikan berencana akan mengevaluasi kebijakan PJJ ini setelah dua hari berlaku. Jika kondisi udara masih tidak membaik, kebijakan ini dapat diperpanjang. Sebaliknya, jika kualitas udara membaik, siswa akan kembali belajar tatap muka pada Jumat (27/9) 2023.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Tania Sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter