Bukan Cuma Harta! Najwa Shihab Bongkar Warisan Paling Berharga untuk Anak
Sumber: Viva.co.id
JAKARTA — Jika ditanya tentang warisan untuk anak, banyak orang tua mungkin langsung membayangkan harta benda: rumah, tanah, tabungan, hingga aset investasi yang kelak bisa dinikmati generasi penerus. Namun, jurnalis senior Najwa Shihab menilai ada warisan yang jauh lebih berharga daripada materi. Ia menekankan bahwa nilai-nilai kehidupan, pendidikan, dan pembentukan karakter justru menjadi bekal paling penting bagi tumbuh kembang anak.
Pandangan ini sejalan dengan perjalanan karier Najwa yang sudah lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia jurnalistik. Lewat program Mata Najwa yang tayang sejak 2009, ia konsisten mengangkat isu-isu kebangsaan, hukum, hingga pendidikan. Melalui rumah produksi Narasi yang didirikannya pada 2018, Najwa juga menghadirkan konten-konten edukatif yang mendorong publik untuk berpikir kritis.
Warisan Materi Bukan Segalanya
Najwa menilai harta benda memang penting, tetapi bukan satu-satunya penentu masa depan anak. Anak yang tumbuh dengan fasilitas berlimpah tanpa dididik nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, anak dari keluarga sederhana yang dibekali pendidikan karakter justru memiliki modal kuat untuk menghadapi berbagai tantangan hidup.
Dalam berbagai kesempatan, Najwa kerap mengingatkan bahwa orang tua adalah sekolah pertama bagi anak. Sikap orang tua dalam keseharian—cara berbicara, memperlakukan orang lain, hingga menyikapi masalah—akan ditiru dan menjadi pola perilaku anak di kemudian hari. Oleh karena itu, teladan dinilai jauh lebih efektif daripada sekadar nasihat.
Pendidikan, Investasi yang Tidak Pernah Usang
Bagi Najwa, pendidikan adalah bentuk warisan yang tidak akan habis dimakan waktu. Berbeda dengan uang yang bisa berkurang atau aset yang bisa dijual, ilmu dan keterampilan akan terus melekat pada diri anak sepanjang hayat. Anak yang terbiasa membaca, bertanya, dan belajar mandiri akan lebih mudah beradaptasi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Lebih dari itu, pendidikan juga dimaknai bukan hanya soal nilai akademis di sekolah. Pendidikan karakter seperti disiplin, kerja keras, dan kemandirian dinilai sama pentingnya dengan pencapaian akademik. Kombinasi keduanya diyakini membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.
Kejujuran dan Integritas sebagai Fondasi
Warisan lain yang tak kalah penting adalah kejujuran dan integritas. Najwa, yang dikenal vokal menyuarakan isu antikorupsi, menilai kejujuran sebagai modal sosial yang menentukan kepercayaan orang lain terhadap seseorang. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung kejujuran akan terbiasa bertanggung jawab atas ucapan dan perbuatannya.
Integritas juga menjadi bekal penting ketika anak memasuki dunia kerja dan pergaulan yang lebih luas. Di tengah banyaknya godaan untuk mengambil jalan pintas, prinsip yang kuat akan menjaga seseorang tetap pada jalur yang benar. Nilai semacam ini, menurut Najwa, tidak bisa dibeli dengan uang dan hanya bisa ditanamkan lewat keteladanan sejak dini.
Berpikir Kritis, Bekal Menghadapi Dunia
Di era informasi yang dibanjiri beragam konten, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin vital. Najwa menilai anak perlu diajarkan untuk memilah informasi, mempertanyakan hal-hal yang tidak masuk akal, dan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar ikut-ikutan. Keterampilan ini akan melindungi anak dari hoaks, ujaran kebencian, hingga pengaruh negatif lainnya.
Kebiasaan bertanya dan berdiskusi di rumah menjadi langkah awal yang sederhana. Orang tua bisa membiasakan anak menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, dan mencari jawaban dari sumber yang dapat dipercaya. Dengan begitu, anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dalam berpikir dan bijak dalam bertindak.
Teladan dari Keluarga Sendiri
Najwa sendiri tumbuh dalam keluarga yang menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang berharga. Ayahnya, Prof. Quraish Shihab, dikenal sebagai ulama dan ahli tafsir yang produktif menulis hingga usia senja. Dari sang ayah, Najwa menyaksikan langsung bagaimana pengetahuan, ketekunan, dan kerendahan hati diwariskan bukan lewat harta, melainkan lewat kebiasaan dan teladan sehari-hari.
Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa warisan terbaik bukanlah yang terlihat di rekening bank, tetapi yang tertanam dalam diri. Nilai-nilai yang diwariskan akan terus hidup dan menjadi penuntun ketika anak menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya.
Pesan bagi Orang Tua
Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana: mulailah menanamkan nilai-nilai baik kepada anak sejak dini, sebelum terlambat. Luangkan waktu berkualitas untuk mendampingi anak, dengarkan ceritanya, dan beri ruang bagi mereka untuk belajar dari kesalahan. Harta bisa habis, tetapi karakter yang baik akan menjadi penjaga anak seumur hidupnya.
Warisan paling berharga memang bukan yang bisa dihitung dengan angka. Ia adalah nilai-nilai yang membuat anak tumbuh menjadi manusia yang jujur, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama. Itulah warisan yang tidak akan pernah bisa dirampas siapa pun.
Komentar (0)