17, 2026
Nasional

Breaking News! IHSG Pagi-Pagi Sudah Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

IHSG melemah lebih dari 1% pada pagi ini, Selasa (15/9/2026).]]>

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Breaking News! IHSG Pagi-Pagi Sudah Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Turun Drastis di Awal Perdagangan, Pasar Diguncang Keprihatinan Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan di awal perdagangan saham pada Rabu (15/3). Indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ini tercatat turun sebesar 1,02% atau 71,88 poin menjadi mencapai level 6.979,35 pada pukul 09:30 WIB. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terkait prospek perekonomian global dan domestik.

Penurunan Mencapai Hampir 100 Poin

Sejak dibuka pada pukul 09:00 WIB, IHSG langsung terjun bebas ke zona merah. Indeks yang sebelumnya ditutup di level 7.051,23 pada Selasa (14/3) ini terus menurun sepanjang sesi pertama. Puncak penurunannya mencapai 99,8 poin atau sebesar 1,41% ke level 6.951,43. Para analis mengatakan bahwa penurunan ini merupakan yang terbesar dalam sepekan terakhir.

"Kondisi pasar saat ini sangat volatile. Investor cenderung mengambil posisi menjaga (profit taking) setelah IHSG mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir," ujar analis dari sekuritas ternama, Ahmad Rizki.

Bank Sentral AS dan Kebijakan Moneter Menjadi Sorotan

Salah satu faktor utama yang menyebabkan pelemahan IHSG adalah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) atau bank sentral Amerika Serikat. Pasar global terguncang setelah beberapa pejabat The Fed menyatakan kemungkinan kenaikan suku bacaan (interest rate) yang lebih agresif daripapa yang diperkirakan sebelumnya.

Kebijakan moneter The Fed ini berdampak langsung pada arus modal asing yang masuk ke pasar emerging economy seperti Indonesia. Data yang dirilis BEI menunjukkan bahwa dalam dua hari terakhir, arus modal asing (foreign portfolio investment/FPI) telah mencatatkan net outflow mencapai Rp 2,3 triliun.

"Kenaikan suku bacaan AS akan membuat aset dolar AS lebih menarik, sehingga investor cenderung menarik modalnya dari pasar emerging market," tambah Rizki.

Sektor-Saham Tekanan Berat

Sektor-sahor di BEI hampir seluruhnya berada di zona merah. Sektor unggulan seperti perbankan, infrastruktur, dan properti mengalami penurunan tajam. Saham-saham blue chip seperti Bank Central Asia (BBCA), Telkom Indonesia (TLKM), dan Unilever Indonesia (UNVR) turun masing-masing sebesar 1,35%, 1,21%, dan 0,98%.

"Kondisi ini membuat indeks sektornya ikut terbawa. Sektor keuangan turun 1,32%, sektor infrastruktur turun 1,45%, dan sektor properti turun 1,28%," jelas analis teknikal dari perusahaan sekuritas lainnya, Siti Nurhaliza.

Respon Pemerintah dan Bank Indonesia

Menanggapi situasi ini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memberikan reassurance bahwa stabilitas ekonomi tetap terjaga. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa perekonomian Indonesia tetap tahan terhadap guncangan eksternal.

"Kami melihat bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Inflasi terkendali, pertumbuhan ekonomi stabil, dan cadangan devisa yang memadai menjadi penopang utama," ujar Airlangga dalam konferensi pers singkat.

Sementara itu, Bank Indonesia juga menegang komitmen menjaga stabilitas pasar valuta asing dan pasar uang. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa BI siap mengambil langkah-langkah preemptif jika diperlukan untuk menjaga stabilitas.

Prospek Pasar di Akhir Hari

Para analis memprediksi bahwa IHSG akan berfluktuasi sepanjang hari ini. Kondisi pasar akan tergantung pada perkembangan data ekonomi domestik dan respons dari pasar global terhadap kebijakan The Fed.

"IHSG berpotensi bergerak di rentang 6.900 hingga 7.100 pada hari ini. Investor akan menunggu data inflasi bulanan yang akan dirilsi oleh BI pada akhir pekan ini," kata Siti.

Di tengah ketidakpastian ini, para investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham. Saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan prospek jangka panjang yang cerah masih menjadi pilihan yang aman.

"Meski ada tekanan jangka pendek, potensi pertumbuhan pasar saham Indonesia tetap menjanjikan di tengah prospek ekonomi domestik yang relatif baik," tambah Rizki.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter