19, 2026
Ekonomi

Bandara Soetta Ditutup, Arus Ekspor-Impor Rp 2,9 Triliun Tersendat

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi membeberkan dampak dari penutupan Bandara Soetta terhadap arus impor-ekspor RI.]]>

Tania Sari
Tania Sari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Bandara Soetta Ditutup, Arus Ekspor-Impor Rp 2,9 Triliun Tersendat

Bandara Soetta Ditutup, Arus Ekspor-Impor Rp 2,9 Triliun Tersendat

Penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) akibat cuaca buruk pada Rabu (15/11) malam mengakibatkan gangguan signifikan pada arus ekspor-impor senilai Rp 2,9 triliun. Kegiatan penerbangan yang terhenti selama lebih dari lima jam menyebabkan penumpukan barang dan dokumen di area bea cukai serta terminal kargo bandara.

Kepala Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Eko Wardoyo, mengungkapkan bahwa penutupan bandara ini berdampak langsung pada proses pemeriksaan barang ekspor dan impor. "Ditutupnya bandara sekitar pukul 20.00 WIB hingga sekitar pukul 01.00 WIB menyebabkan penumpukan dokumen dan barang di terminal kargo. Kita harus bekerja ekstra untuk mengejar keterlambatan ini," ujar Eko pada Kamis (16/11) pagi.

Dampak pada Ekspor-Impor

Menurut data yang dihimpun oleh Asosasi Pengusaha Ekspor Impor Indonesia (Gapei), nilai kerugian akibat gangguan ini mencapai Rp 2,9 triliun. Nilai ini mencakup barang-barang yang seharusnya sudah tiba di tujuan namun terhambat karena penundaan penerbangan.

"Kami menerima laporan dari anggota bahwa banyak barang ekspor, terutama produk-produk segar seperti sayuran buah-buahan dari Tanah Lot dan Banten, serta produk manufaktur dari Jawa Barat, yang terhambat pengirimannya. Hal ini berdampak pada kualitas barang dan juga janji kontrak dengan mitra dagang di luar negeri," kata Ketua Gapei, Ahmad Sujudi.

Di sisi lain, barang impor yang seharusnya tiba pada Kamis dini hari juga mengalami penundaan. Beberapa jenis barang impor krusial seperti obat-obatan, alat kesehatan, dan bahan baku industri terpaksa ditunda prosesnya hingga penerbangan normal kembali berjalan.

Upaya Normalisasi

Sejak pukul 01.00 WIB, pihak bandara telah membuka kembali operasional penerbangan. Namun, hingga Kamis siang, masih terlihat antrian panjang di area check-in dan terminal kargo. Petugas bea cukai dan maskapai sedang bekerja maksimal untuk menormalisasi kondisi.

"Kami telah menambah jumlah petugas di terminal kargo untuk mempercepat proses pemeriksaan. Selain itu, kita juga mengalokasikan ruang tambahan untuk menampung barang-barang yang tertunda. Kami berharap dalam 24 jam ke depan, semua aktivitas bisa kembali normal," jelas Eko Wardoyo.

PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara juga telah menerapkan sistem prioritas untuk penerbangan kargo agar barang-barang yang mendesak bisa segera diproses. "Kita memberikan prioritas pada penerbangan yang membawa barang-barang berbahaya, obat-obatan, dan produk-produk yang membutuhkan kecepatan," kata Corporate Secretary Angkasa Pura II, Ikhsan.

Reaksi dari Pelaku Usaha

Banyak pelaku usaha menilai penutupan bandara ini menunjukkan kelemahan sistem logistik Indonesia. "Kita perlu mempertimbangkan alternatif lain selandung bergantung pada Soetta. Mungkin perlu memperkuat infrastruktur di bandara lain seperti Surabaya atau Makassar sebagai pintu masuk alternatif," ujar sepekan pengusaha logistik, Budi Santoso.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah memerintahkan timnya untuk mengevaluasi penanganan situasi ini. "Kita akan tinjau kembali protokol penanganan kondisi ekstrem seperti ini. Apakah sudah tepat dan efektif. Kami juga akan koordinasi dengan BMKG untuk memastikan informasi cuaca bisa lebih akurat dan diterima lebih cepat oleh pihak bandara," ujar Budi Karya.

Dampak dari penutupan bandara ini diperkirakan akan terasa hingga akhir pekan. Maskapai telah menginformasikan kepada penumpang tentang potensi penundaan dan pembatalan penerbangan. Sementara itu, pihak bea cukai meminta para importir dan ekspor untuk bersabar karena proses penanganan barang masih berjalan untuk mengejar keterlambatan.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa depan, pihak terkait sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan sistem early warning dan menyiapkan rencana kontinjensi yang lebih komprehensif. "Kita tidak bisa menghindari cuaca buruk, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk mengurangi dampaknya," pungkas Eko Wardoyo.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Tania Sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter