Bandara Halim Perdanakusuma Ditutup Sementara hingga Pukul 14.00 WIB Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau
Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta resmi ditutup sementara hingga pukul 14.00 WIB pada Rabu (27/11) pagi ini. Penutupan ini dilakukan sebagai langkah preventif akibat adanya partikel abu vulkanik dari letusan Anak Krakatau yang bergerak menuju wilayah Jakarta. Pihak Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) pun telah mempersiapkan ruang tunggu bagi penumpang yang terdampak penutupan bandara ini.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bandara Halim Perdanakusuma, Agus Purnomo, mengatakan bahwa penutupan ini dilakukan setelah adanya rekomendasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mendeteksi adanya konsentrasi abu vulkanik di wilayah Jakarta.
"Kami menerima informasi dari BMKG bahwa ada partikel abu vulkanik dari Anak Krakatau yang bergerak menuju Jakarta. Untuk itulah kami memutuskan untuk menutup sementara aktivitas penerbangan di Bandara Halim hingga pukul 14.00 WIB," ujar Agus dalam keterangannya.
Operasional Penerbangan Terdampak
Dampak penutupan bandara ini langsung dirasakan oleh sejumlah penerbangan yang rencananya akan mendarat atau lepas landas dari Bandara Halim. Menurut Agus, sebanyak 15 penerbangan domestik dan internasional terdampak penutupan ini, termasuk penerbangan dari dan menuju kota-kota seperti Palembang, Pekanbaru, Yogyakarta, Singapura, dan Kuala Lumpur.
Respon dari Maskapai
Sejumlah maskapai yang terdampak penutupan ini pun telah mengambil langkah-langkah antisipatif. Garuda Indonesia, sebagai pengguna bandara terbesar di Halim, menginformasikan bahwa pihaknya akan menunda penerbangan hingga situasi memungkinkan.
Sementara itu, Citilink Indonesia mengumumkan bahwa pihaknya akan mengalihkan penerbangan yang rencananya menggunakan Bandara Halim ke Bandara Soetta. "Kami telah mengalihkan 3 penerbangan dari Halim ke Soetta untuk meminimalisir dampak bagi penumpang," ujar juru bicara Citilink, Juliana Lim.
Kondisi Anak Krakatau
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda terus mengalami aktivitas vulkanik. Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa letusan terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 800 meter di atas puncak gunung.
PVMBG telah menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level II (Waspada) sejak pertengahan Oktober 2019 lalu. Masyarakat di sekitar kawasan gunung tersebut diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari puncak gunung, serta menghindari aktivitas di sepanjang pantai Selat Suda yang berjarak 500 meter dari garis pantai.
Dampak bagi Penerbangan di Soetta
Meskipun Bandara Soetta saat ini masih beroperasi normal, pihak manajemen bandara tetap waspada menghadapi kemungkinan adanya abu vulkanik. "Kami sudah mempersiapkan tim khusus untuk memantau kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik. Jika ada indikasi abu vulkanik, kami akan segera mengambil langkah preventif," ujar juru bicara Bandara Soetta, Yohannes Nas.
Tim khusus yang disiapkan Soetta terdiri dari petugas dari BMKG, PVMBG, dan pihak bandara. Mereka akan memantau kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik setiap 30 menit sekali untuk memastikan keselamatan penerbangan.
Upaya Mitigasi Bencana
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama dengan BPBD Provinsi DKI Jakarta telah menggelar rapat koordinasi untuk mengantisipasi dampak dari abu vulkanik ini. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, mengatakan pihaknya telah mempersiapkan beberapa langkah mitigasi.
Menurut Riza, hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak kesehatan yang signifikan akibat abu vulkanik. Namun, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat masalah pernapasan.
Komentar (0)