Bandara Alternatif Beroperasi 24 Jam Selama 8 Bandara Tutup Sementara Imbas Erupsi Anak Krakatau
Delapan bandara di wilayah Jawa dan Sumatera mengalami penutupan sementara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Minggu (22/12) malam. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk segera mengaktifkan bandara alternatif yang beroperasi 24 jam untuk menangani dampaknya. Upaya ini dilakukan guna meminimalisir gangguan bagi mobilitas penumpang dan barang.
Diketahui, delapan bandara yang mengalami penutupan sementara meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Internasional Juanda (SUB), Bandara Internasional Ahmad Yani (AYD), Bandara Internasional Husein Sastranegara (HSN), Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (BPN), Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II (PKU), dan Bandara Internasional Minangkabau (MKS). Penutupan ini diberlakukan untuk mengantisipasi dampak erupsi gunung berapi yang menyembabkan abu vulkanis.
Respons Pemerintah dan Operator Bandara
Menanggapi situasi ini, pemerintah segera mengaktifkan langkah darurat. Kementerian Perhubungan bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan PT Angkasa Pura (AP) I serta II telah menyiapkan sejumlah bandara alternatif yang akan beroperasi penuh selama 24 jam. Bandara-bandara tersebut diharapkan dapat menampung penerbangan yang dialihkan dari delapan bandara utama yang ditutup.
"Kami telah menyiapkan beberapa bandara alternatif di Jawa dan Sumatera untuk melayani penerbangan selama kondisi darurat ini. Bandara alternatif ini akan beroperasi 24 jam nonstop untuk memastikan mobilitas tetap berjalan," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Senin (23/12).
PT Angkasa Pura I dan II sebagai operator bandara juga telah menyiapkan tim darurat yang akan selalu siaga di bandara-bandara tersebut. Tim ini bertugas untuk memantau kondisi cuaca dan tingkat kekeruhan udara secara real time. Selain itu, persiapan untuk membersihkan landasan pacu dari abu vulkanis juga telah dilakukan secara berkala.
Dampak Erupsi Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu malam terjadi cukup signifikan dengan tingkat kekeruhan udara yang mencapai tingkat berbahaya. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG), kolom abu dari erupsi mencapai ketinggian 500-800 meter di atas puncak gunung. Kondisi ini membuat visibilitas menjadi sangat terbatas dan berbahaya bagi operasional penerbangan.
"Abu vulkanis dapat berbahaya bagi mesin pesawat karena dapat mengikis bagian mesin dan mengganggu sistem operasional. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menutup sementara beberapa bandara yang berada dalam radius dekat dengan sumber erupsi," jelas Kepala PVMBG, Kasbani.
Erupsi ini juga menyebabkan gangguan pada operasional penerbangan domestik dan internasional. Puluhan penerbangan baik kedatangan maupun keberangkatan mengalami penundaan atau pembatalan. Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air telah menginformasikan penyesuaian jadwal kepada penumpang.
Persiapan Bandara Alternatif
Beberapa bandara yang dijadikan sebagai alternatif antara lain Bandara Raden Intan (RIA) di Lampung, Bandara Kertajati (KJT) di Jawa Barat, Bandara Achmad Yani (AYN) di Semarang, Bandara Adisumarmo (SOC) di Surakarta, dan Bandara Sultan Thaha (DHI) di Jambi. Bandara-bandara ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk menangani peningkatan jumlah penerbangan.
"Kami telah menambah petugas di bandara-bandara alternatif ini, mulai dari check-in, security, hingga ground handling. Selain itu, persiapan untuk penambahan fasilitas lounge dan area tunggu juga telah dilakukan," ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faizal Indonesia.
Penumpang yang terdampak penundaan penerbangan diimbangi dengan penyediaan akomodasi sementara dan makanan. Maskapai-maskapai juga menyediakan layanan informasi terkait jadwal penerbangan yang berubah melalui aplikasi, situs web, dan media sosial.
Prospek Kebijakan Jangka Panjang
Insiden ini menunjukkan pentingnya adanya kebijakan jangka panjang dalam menghadapi bencana alami yang berdampak pada transportasi udara. Pemerintah berencana untuk memperkuat sistem peringatan dini erupsi gunung berapi dan penyebaran abu vulkanis. Selain itu, akan dibentuk satuan tugas khusus yang mengkoordinasikan antara pemerintah, operator bandara, dan maskapai dalam menghadapi situasi darurat serupa di masa depan.
"Kita perlu membangun sistem yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana alami. Ini bukan kali pertama kita menghadapi masalah seperti ini, dan kita harus belajar dari setiap insiden untuk meningkatkan kesiapan kita," tambah Menteri Budi Karya Sumadi.
Saat ini, tim dari PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Status gunung berapi saat ini masih level III (siaga) dengan jangkauan waspada 5 kilometer dari puncak. Pemerintah berharap kondisi segera normal kembali sehingga operasional bandara di delapan wilayah dapat kembali berjalan normal.
Komentar (0)