Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Buat 21 Orangutan Jatuh Sakit
Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan telah menyebabkan 21 orangutan menjadi sakit. Penyakit yang diderita primata langka ini bervariasi, mulai dari infeksi pernafasan hingga kerusakan paru-paru akibat paparan asap. Situasi ini semakin memburuk dengan adanya musim kemarau yang panjang di wilayah tersebut, sehingga upaya pemadaman kebakaran menjadi lebih sulit dilakukan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Agung Nugroho, mengatakan bahwa pihaknya telah menangani 21 kasus orangutan yang terkena dampak asap kebakaran hutan. "Kondisi para orangutan ini bervariasi. Ada yang hanya mengalami gangguan ringan pernafasan, namun ada juga yang mengalami kerusakan paru-paru yang cukup serius," ujarnya pada konferensi pers yang diadakan di Palangkaraya, Kamis (15/9).
Dampak Asak pada Kesehatan Orangutan
Paparan asap kebakaran hutan ternyata tidak hanya berpengaruh pada manusia, tetapi juga pada satwa liar yang tinggal di dalam hutan. Menurut para ahli kesehatan hewan, asap yang mengandung partikel-partikel halus dapat masuk ke saluran pernafasan satwa dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
"Kita menemukan bahwa 21 orangutan yang dirawat di pusat rehabilitasi mengalami gejala batuk, sesak napas, dan mata bengkak. Beberapa di antaranya juga menunjukkan tanda-tanda keracunan akibat paparan karbon monoksida yang tinggi," jelas Dr. Siti Hayati, sepakatolog dari Universitas Gajah Mada yang terlibat dalam penanganan medis para orangutan tersebut.
Para ahli khawatir bahwa jika kondisi asap terus berlanjut, jumlah orangutan yang sakit akan terus bertambah. Selain itu, kebakaran hutan juga menghancurkan habitat alami mereka, sehingga mereka kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan.
Upaya Penanganan dan Rehabilitasi
Pihak BKSDA bersama dengan beberapa organisasi konservasi telah membangun posko khusus untuk menangani orangutan yang terkena dampak asap. Para satwa yang sakit langsung dibawa ke pusat rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan intensif.
"Kita memberikan obat-obatan untuk mengatasi gejala infeksi pernafasan, vitamin untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, serta terapi oksigen bagi yang membutuhkannya. Selain itu, kita juga memberikan makanan bergizi untuk mempercepat proses pemulihan," terang Agung Nugroho.
Selain perawatan medis, upaya pemulihan habitat juga dilakukan. Para petugas sedang melakukan penanaman pohon-pohon penghasil makanan bagi orangutan di area yang terkena dampak kebakaran. "Kita berharap dengan adanya pohon-pohon baru, habitat mereka bisa pulih dan mereka bisa kembali hidup liar dalam waktu dekat," tambahnya.
Pencegahan dan Langkah Jangka Panjang
Untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. "Kami mengingatkan kembali bahwa pembakaran hutan dan lahan adalah tindakan ilegal dan dapat merusak lingkungan serta berbahaya bagi satwa liar," kata Agung.
Pemerintah daerah bersama dengan TNI/Polri juga telah menggelar patroli untuk mengantisipasi adanya kebakaran hutan. "Kita telah menyiapkan tim rapid response yang siap mengerahkan personel dan alat berat untuk segera memadamkan api jika terjadi kebakaran," ujar Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan, Kapolda Kalimantan Tengah.
Di sisi lain, para aktivis lingkungan menyerukan adanya kebijakan yang lebih ketat terkait pengelolaan hutan dan lahan. "Kita perlu sistem yang berkelanjutan dalam mengelola hutan, bukan hanya fokus pada pemadaman semata. Perlindungan habitat orangutan harus menjadi prioritas utama," kata Ratna Sarumpaet, aktivis lingkungan dari Kalimantan.
Sementara itu, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sejak Januari hingga September 2023, terdapat 1.284 titik kebakaran hutan dan lahan di seluruh Kalimantan dengan total area terbakar mencapai 22.459 hektar. Kondisi ini memicu status siaga bencana di beberapa provinsi di pulau tersebut.
Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi dan siap mengirimkan bantuan jika diperlukan. "Kita berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait untuk mengatasi masalah ini. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi kehidupan masyarakat dan menjaga ekosistem yang ada," pungkasnya.
Komentar (0)