18, 2026
Teknologi

Abu Anak Krakatau Masuk Jakarta, Sekolah Terapkan PJJ Mulai Senin

Arief Pratama
Arief Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Menyelimuti Jakarta, Beberapa Sekolah Langsung Alihkan ke Pembelajaran Jarak Jauh

Abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau mulai terdeteksi di sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya pada akhir pekan lalu. Partikel debu yang berukuran halus ini menyebabkan kualitas udara menurun drastis, memicu respons dari berbagai pihak terkait dampak kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Sejumlah sekolah di ibu kota telah mengumumkan rencana untuk mengalihkan pembelajaran tatap muka ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai hari Senin (20/5/2024).

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikel debu vulkanik di udara Jakarta mencapai titik yang memerlukan perhatian khusus. "Kami mendeteksi adanya partikel vulkanik dari Anak Krakatau yang menyebar hingga ke wilayah Jakarta," ujar Kepala BMKG Jakarta, Ahmad Yani dalam konferensi pers yang diadakan Minggu malam (19/5/2024). "Konsentrasinya telah mencapai 150 mikrogram per meter kubik, yang berada di atas ambang batas aman."

Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait dampak kesehatan terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang menderita penyakit pernapasan. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, menyatakan telah meminta rumah sakit dan puskesmas untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi peningkatan pasien gejala gangguan pernapasan.

Langkah Darurat dari Pemerintah Daerah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menggelakkan rapat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait untuk merespons kondisi ini. Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, mengumumkan akan menerbitkan surat edaran mengenai penyesuaian aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak.

"Kami telah meminta seluruh dinas terkait untuk memantau perkembangan kondisi udara secara berkala. Jika kondisi tidak membaik, kami akan mempertimbangkan untuk menghentikan kegiatan pembelajaran tatap muka di seluruh sekolah," jelas Gubernur Heru dalam konferensi pers yang diadakan di Balai Kota Jakarta, Minggu malam.

BPDKI Jakarta juga telah mempersiapkan sejumlah masker medis untuk dibagikan kepada masyarakat terutama di wilayah yang terdampak parah. Selain itu, pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah jika memungkinkan, dan menggunakan masker saat harus keluar rumah.

Respons dari Dunia Pendidikan

Respons paling cepat datang dari sejumlah sekolah swasta dan negeri di Jakarta. Beberapa sekolah telah mengumumkan rencana untuk mengalihkan pembelajaran ke mode daring atau PJJ mulai Senin (20/5/2024). "Keputusan ini diambil demi menjaga kesehatan siswa dan tenaga pendidik," kata Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Jakarta, Dr. Siti Aminah.

SMA Negeri 1 Jakarta, yang berlokasi di kawasan yang tercatat memiliki tingkat partikulat terendah di Jakarta, tetap akan menerapkan PJJ selama seminggu ke depan untuk mengantisipasi perkembangan kondisi. "Kami akan memantau perkembangan kondisi udara setiap hari dan akan menyesuaikan kebijakan jika diperlukan," tambah Siti.

Sementara itu, sejumlah sekolah lain memilih untuk mengurangi jam belajar atau mengalihkan kegiatan belajar ke dalam ruangan dengan sistem tertutup. "Kami telah mempersiapkan ruangan-ruangan dengan sistem filtrasi udara untuk melindungi siswa dari paparan debu vulkanik," ujar Kepala Sekolah SD Islam Terpadu Al-Azhar Jakarta, Ahmad Fauzi.

Dampak Terhadap Aktivitas Lainnya

Selain dunia pendidikan, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga mengalami sedikit gangguan. Maskapit-maskapit telah mengimbau penumpang untuk mengecek status penerbangan sebelum berangkat karena adanya potensi penundaan akibat kondisi cuaca dan kualitas udara.

Selain itu, aktivitas olahraga di luar ruangan seperti liga sepak bola dan turnamen bulu tangkis juga mengalami penyesuaian. Beberapa pertandingan yang direncanakan akan digelar di dalam ruangan atau ditunda hingga kondisi membaik.

Para ahli geologi menekankan bahwa meskipun kondisi saat ini menimbulkan kekhawatiran, letusan Anak Krakatau saat ini masih dalam level normal dan tidak menunjukkan indikasi akan terjadi letusan besar secara mendadak. "Namun, kami terus memantau aktivitas gunung secara intensif," ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan.

Masyarakat diminta untuk tetap tenang namun waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Informasi perkembangan kondisi akan terus disampaikan melalui berbagai saluran resmi pemerintah.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Arief Pratama

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter