Enam Bandara Ditutup Sementara Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau
Bandara-bandara di wilayah Jawa Barat dan Banten ditutup sementara akibat dampab abu vulkanik dari letusan Anak Krakatau. Enam bandara di wilayah tersebut telah dilaporkan mengalami penutupan operasional untuk mengantisipasi risiko keselamatan penerbangan. Penutupan ini dilakukan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan tentang adanya hujan abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Kamis (15/2) malam.
Bandara yang Terdampak
Dari enam bandara yang ditutup, tiga di antaranya berada di Jawa Barat, yaitu Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung, Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka, dan Bandara Nusawiru di Kabupaten Garut. Sementara itu, tiga bandara lainnya berada di Provinsi Banten, meliputi Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Raden Intan di Lampung, dan Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang.
Operator bandara PT Angkasa Pura II mengumumkan bahwa penutupan bandara dilakukan untuk mengamankan operasional penerbangan dan memastikan keselamatan penumpang serta awak pesawat. "Kami telah menerapkan standar prosedur operasi normal (NOP) sesuai dengan peraturan yang berlaku saat terdapat abu vulkanik di wilang udara," ujar Kepala Divisi Humas PT Angkasa Pura II, Febri Tofano.
Dampab Abu Vulkanik
Abu vulkanik dari letusan Anak Krakatau terdeteksi di wilang udara sekitar pukul 22.00 WIB pada Kamis malam. Menurut BMKG, abu vulkanik tersebut telah menyebar ke berbagai wilayah di Jawa Barat dan Banten dengan ketinggian mencapai 1.500 meter di atas permukaan laut. "Konsentrasi abu vulkanik cukup tinggi sehingga memerlukan penutupan sementara bandara untuk menghindari risiko kerusakan mesin pesawat," jelas Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.
Letusan Anak Krakatau pada Kamis malam diketahui merupakan letusan vulkanik tipe eksplosif dengan tingkat intensitas sedang. Letusan ini mengakibatkan kolom abu setinggi 800 meter dari puncak kawah. Selain itu, terdapat pula gempa vulkanik dengan amplitudo maksimal 40 mm dan durasi selama 45 detik.
Respons Pihak Terkait
PT Angkasa Pura II segera mengambil langkah preventif dengan menutup sementara operasional bandara-bandara yang terdampak. Pihaknya juga telah mempersiapkan tim inspeksi untuk mengecek kondisi landasan pacu dan fasilitas bandara sebelum dibuka kembali. "Tim kami akan melakukan inspeksi visual dan pengukuran konsentrasi abu vulkanik. Jika sudah aman, bandara akan segera dibuka kembali," tambah Febri.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan juga telah mengimbau kepada seluruh maskapai untuk melakukan penyesuaian jadwal penerbangan sesuai dengan kondisi bandara. "Kami meminta para penumpang untuk selalu memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Novie Riyanto.
Dampak pada Penerbangan
Penutupan enam bandara ini telah mengakibatkan pembatalan dan penundaan puluhan penerbangan baik domestik maupun internasional. Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air telah mengumumkan penyesuaian jadwal penerbangan. Beberapa penumpang yang terdampak penundaan penerbangan telah menempati ruang tunggu di bandara atau diarahkan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Dalam keterangannya, maskapai-maskapai menjamin akan memberikan kompensasi yang seadanya bagi penumpang yang terdampak pembatalan dan penundaan penerbangan. "Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan ini dan akan melakukan yang terbaik untuk memulihkan operasional penerbangan secepat mungkin," kata juru bicara salah satu maskapai.
Prospek Pembukaan Kembali
Pihak berharap kondisi bandara dapat kembali normal dalam waktu dekat. BMKG terus memantau aktivitas Anak Krakatau untuk memberikan informasi terkait potensi letusan selanjutnya. "Kami akan terus mengawasi aktivitas Gunung Anak Krakatau dan memberikan update secara berkala kepada publik," tambah Dwikorita.
Saat ini, warga di sekitar Selat Sunda yang berbatasan dengan Anak Krakatau juga diminta untuk tetap waspada. Potensi letusan lebih besar masih mungkin terjadi meskipun saat ini aktivitas gunung tersebut telah menurun. Pemerintah daerah setempat telah mempersiapkan posko pengungsian dan alat-alat pendukung jika diperlukan.
Komentar (0)