1.200 Ton Sampah Bandung Diolah Jadi Sumber Energi
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggandeng pihak swasta untuk mengolah sampah menjadi energi. Program ini bertujuan mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Leuwigajah sekaligus menghasilkan energi terbarukan. Sebanyak 1.200 ton sampah setiap harinya akan diolah menjadi listrik melalui teknologi pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy/WTE).
Kepala DLH Bandung, Iwa Karniwa menjelaskan bahwa pengolahan sampah menjadi energi merupakan solusi inovatif untuk mengatasi masalah sampah di kota yang dikenal sebagai kota kreatif ini. "Bandung menghasilkan sekitar 2.500 ton sampah setiap hari. Dengan teknologi WTE, kita bisa mengolah 1.200 ton di antaranya menjadi energi listrik," ujar Iwa saat ditemui di kantornya, Rabu (15/3).
Teknologi Pengolahan Sampah Terdepan
Teknologi yang digunakan dalam program ini merupakan teknologi terdepan dalam pengolahan sampah. Sampah yang masuk ke fasilitas WTE akan dipisah terlebih dahulu antara sampah organik dan non-organik. Sampah organik akan diolah menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik yang dapat terbakar akan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
"Proses pembakaran dilakukan dalam suhu tinggi sekitar 850-1.000 derajat Celcius. Panas dari pembakaran ini kemudian digunakan untuk menguapkan air yang menghasilkan uap tekanan tinggi. Uap inilah yang akan memutar turbin generator untuk menghasilkan listrik," jelas Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Limbah DLH Bandung, Ahmad Yani.
Dengan kapasitas pengolahan 1.200 ton per hari, fasilitas WTE ini diharapkan mampu menghasilkan listrik sebesar 12 megawatt (MW). Listrik hasil pengolahan ini nantinya akan diintegrasikan ke sistem jaringan listrik PLN untuk disalurkan ke masyarakat.
Manfaat Ganda bagi Kota Bandung
Program pengolahan sampah menjadi energi ini memberikan manfaat ganda bagi Kota Bandung. Pertama, mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Leuwigajah. Kedua, menghasilkan energi terbarukan yang dapat mendukung kebutuhan listrik di kota. Ketiga, mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah di TPA.
"Dengan mengurangi sampah yang masuk TPA, kita juga mengurangi lahan yang dibutuhkan. Selain itu, energi yang dihasilkan dari sampah ini bersifat terbarukan dan ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan bakar fosil," tambah Iwa Karniwa.
Dampak positif juga dirasakan oleh masyarakat sekitar TPA Leuwigajah. Dengan berkurangnya volume sampah di TPA, potensi pencemaran udara dan air di sekitar area tersebut dapat dikurangi. "Kami berharap dengan adanya fasilitas ini, kualitas hidup masyarakat sekitar TPA akan meningkat," ujar Iwa.
Tantangan dan Masa Depan
Meski memberikan banyak manfaat, program ini juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah soal pengelolaan sisa hasil pembakaran yang disebut bottom ash. Bottom ash ini masih mengandung logam berat dan perlu diolah lebih lanjut sebelum dapat dimanfaatkan kembali.
"Untuk mengatasi masalah ini, kami telah bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengembangkan teknologi pengolahan bottom ash. Sisa pembakaran ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk bahan baku industri bata ringan atau campuran aspal," jelaskan Ahmad Yani.
Pemerintah Kota Bandung juga berencana untuk mengembangkan program ini di beberapa lokasi strategis di kota. "Kami akan terus mengembangkan infrastruktur pengolahan sampah menjadi energi di beberapa titik di Bandung. Tujuannya adalah untuk memastikan seluruh sampah yang dihasilkan di kota dapat diolah secara optimal," tambah Iwa Karniwa.
Dengan beroperasinya fasilitas WTE ini, Kota Bandung semakin dekat dengan target menjadi kota zero waste atau kota tanpa sampah. Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Komentar (0)