Tangis Histeris Istri Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau: Tolong Pak...
Kepulauan Selat, Sabtu (25/11) - Tangis histeris memenuhi ruang tunggu pelabuhan Kalianda, Lampung. Rima Anggraini, istri jurnalis Radar Lampung Rizki Febriadi, tidak mampu menahan kesedihannya saat mengetahui suaminya hilang di perairan Anak Krakatau. "Tolong pak... tolong cari suamiku," keluh Rima sambil menangis tak terbendung.
Rizki Febriadi, 35 tahun, dinyatakan hilang saat meliput aktivitas gunung berapi Anak Krakatau pada Jumat (24/11). Bersama seorang rekan kerja, Rizki tengah meliput aktivitas vulkanik yang kembali meningkat beberapa pekan terakhir. Namun, perjalanan liputan tersebut berujung pada tragedi yang tidak terduga.
Kronologi Peristiwa Tragis
Menurut keterangan rekan Rizki yang selamat, identik dengan inisial H, mereka berangkat dari Pelabuhan Kalianda sekitar pukul 07.00 WIB menggunakan speedboat. Mereka menuju Pulau Rakata untuk melakukan peliputan aktivitas Anak Krakatau yang dilaporkan BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapi) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
"Sekitar pukul 12.30 WIB, kami sedang berada di sekitar perairan Anak Krakatau untuk mengambil gambar dan video aktivitas erupsi kecil yang terjadi," ujar H saat ditemui di RSUD Kalianda. "Tiba-tiba ada gelombang besar yang datang secara tiba-tiba. Speedboat kami terbalik dan kami terjatuh ke laut."
H melanjutkan, dalam kondisi yang genting itu, Rizki sempat memberinya bantuan untuk bertahan di atas puing-puing speedboat yang tenggelam. "Rizki bilang 'tolong jaga diri, nanti ditolong tim SAR'. Setelah itu, saya tidak lagi melihatnya karena terlalu banyak ombak," keluh H yang masih dalam perawatan medis.
Pencarian Digerakkan SAR
Tim SAR gabungan langsung diterjunkan setelah mendapat laporan hilangnya Rizki. Pencarian dilakukan di sekitar perairan Anak Krakatau dengan menggunakan beberapa kapal patroli milik TNI AL, Polri, dan Basarnas. Namun, hingga Sabtu malam, korban belum juga ditemukan.
"Kondisi di lokasi pencarian masih sangat berbahaya. Gelombang tinggi mencapai 3-4 meter dan arus laut cukup kuat," kata Kepala Basarnas Lampung, Yudi, dalam konferensi pers. "Tim kami terus berusaha untuk mencari korban meski kondisi tidak mendukung."
Pihak kepolisian juga telah menerima laporan hilangnya Rizki dan membuka penyelidikan awal. "Kami sudah menerima laporan dan sedang melakukan koordinasi dengan SAR untuk proses pencarian," ujar Kabag Humas Polda Lampung, Kombes Pol. Surya.
Reaksi dan Dukungan
Kehilangan Rizki Febriadi mendapat respon dari berbagai pihak. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung menyatakan duka yang mendalam atas kejadian ini. "Kehilangan saudara kita ini adalah sebuah pukulan bagi wartawan Lampung. Kami berharap agar pencarian segera ditemukan," ujar Ketua PWI Lampung, Bambang.
Dinas Komunikasi dan Informatika Lampung juga turut menyampaikan belasungkawa. "Kami menyesalkan kejadian ini dan berharap proses pencarian berjalan maksimal," ujar Kepala Diskominfo Lampung, Ahmad.
Untuk membantu keluarga korban, rekan-rekan Rizki di Radar Lampung menggalang donasi dan dukungan moril. "Kami sedang mengumpulkan dana untuk membantu keluarga Rizki selama proses pencarian berlangsung," ujar Redaksi Radar Lampung.
Kondisi Terkini
Sejak kejadian tersebut, keluarga Rizki terus berada di pelabuhan Kalianda menunggu kabar tentang nasib Rizki. Rima, istri Rizki, terlihat sangat terpukul dan sering menangis saat dimintai keterangan.
"Saya minta tolong semua pihak membantu mencari suamiku. Dia adalah tulang punggung kami, ada tiga anak yang menunggu pulangnya," keluh Rima sambil menangis. "Saya yakin dia masih hidup, tolong cari dia."
Anak-anak Rizki, berusia 10, 8, dan 5 tahun, masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Mereka hanya menunggu dengan penuh harapan sang ayah akan segera pulang ke pangkuan keluarga.
Hingga berita ini disusun, pencarian terus dilakukan oleh tim SAR dengan harapan dapat menemukan Rizki Febriai dalam keadaan selamat. Aktivitas Anak Krakatau yang kembali meningkat dianggap sebagai faktor utama kecelakaan yang menimpa jurnalis berpengalaman ini.
Komentar (0)