Tanah Longsor Terjang Aceh Tengah: Bocah 9 Tahun Meninggal Dunia, 13 Warga Luka-luka
ACEH TENGAH - Longsor melanda Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, pada Rabu (13/9/2023) siang, menewaskan seorang anak berusia 9 tahun dan melukai 13 warga lainnya. Bencana alam ini terjadi secara mendadak saat sebagian warga sedang beraktivitas di sekitar lokasi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Fahrul Sani, mengatakan bahwa bencana ini terjadi sekitar pukul 13.30 WIB di Desa Ulee Gandai. "Longsor terjadi dari arah bukit yang berada di sebelah timur permukiman warga. Material longsor berupa tanah dan batu-batan menutupi sejumlah rumah warga," ujar Fahrul saat dihubungi, Rabu malam.
korban tewas adalah seorang anak laki-laki bernilai Muhammad Fajar (9), yang sedang bermain di dekat rumahnya saat tanah longsor melanda. "Korban tertimbun material longsor dan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh tim SAR setelah beberapa jam pencarian," jelas Fahrul.
Sementara itu, 13 korban luka-luka telah dievakuasi ke RSUD Cut Meutia di Takengon. Dari jumlah tersebut, delapan orang mengalami luka berat dan memerlukan perawatan intensif, sementara lima lainnya mengalami luka ringan.
Kondisi Korban dan Evakuasi
Dari delapan korban luka berat, tiga di antaranya adalah anggota keluarga korban tewas. "Kondisi mereka masih dirawat intensif karena mengalami patah tulang dan luka memar parah," ujar Kepala RSUD Cut Meutia, dr. Zulfikar.
Tim evakuasi dari BPBD Aceh Tengah, Basarnas, dan relawan berhasil mengevakuasi seluruh korban dalam waktu sekitar empat jam setelah bencana terjadi. "Proses evakuasi terkendala karena material longsor cukup tebal dan medan yang terjal," kata Fahrul.
Pasca bencana, pemerintah daerah segera menyiapkan tenda darurat untuk para korban yang rumahnya rusak akibat longsor. "Kami menyiapkan 10 tenda darurat, puluhan selimut, dan sembako untuk membantu korban," tambah Fahrul.
Penyebab dan Dampak Bencana
Menurut BPBD, longsor ini diduga disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sejak beberapa hari terakhir yang membuat tanah di lereng bukit menjadi labil. "Selain itu, kondisi vegetasi di atas bukit juga tidak memadai sehingga tidak dapat menahan erosi," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Aceh Tengah, Muhammad Iqbal.
Bencana ini mengakibatkan 15 rumah warga rusak berat dan 20 rumah lainnya rusak ringan. Selain itu, akses jalan menuju desa terputus sebagian akibat material longsor yang menutupi jalan.
Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, yang melakukan peninjauan lokasi pada Kamis (14/9) pagi, menyatakan akan segera memulihkan infrastruktur yang rusak. "Kami akan segera membersihkan akses jalan dan memperbaiki infrastruktur yang terdampak bencana. Selain itu, kami juga akan memberikan bantuan langsung kepada para korban," ujar Nova.
Tanggap Darurat dan Langkah Pencegahan
Pemerintah daerah telah mengaktifkan posko tanggap darurat di Kecamatan Pegasing. "Posko akan berfungsi hingga situasi benar-benar aman dan seluruh korban mendapat bantuan yang memadai," kata Fahrul.
BPBD juga mengimbau masyarakat di daerah berbukit untuk waspada potensi bencana serupa. "Kami mohon kepada masyarakat untuk tidak beraktivitas di dekat lereng bukit saat cuaca buruk. Selain itu, kami juga akan melakukan penanaman vegetasi di area yang terdampak untuk memperkuat stabilitan tanah," tambah Iqbal.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh, Ir. Hasanuddin, mengatakan pihaknya akan segera melakukan investigasi menyeluruh mengenai penyebab bencana ini. "Kami akan mengecek kondisi lereng bukit yang longsor untuk mengetahui apakah ada aktivitas yang melanggar aturan tata ruang," jelas Hasanuddin.
Sementara itu, warga setempat masih trauma menyaksikan bencana yang menewasakan salah seorang anggota masyarakat mereka. "Kami berharap pemerintah dapat mempercepat pemulihan sehingga kehidupan warga dapat kembali normal," ujar Kepala Desa Ulee Gandai, Jamhur.
Pihak berencana melakukan pemindahan warga yang rumahnya berada di area rawan longsor. "Kami akan mengidentifikasi lokasi yang aman untuk pemukiman baru agar kejadian serupa tidak terulang lagi," ujar Nova Iriansyah.
Komentar (0)