18, 2026
Gaya Hidup

Sudaryono Sebut Gangguan Kesehatan MBG Banyak Dipicu Makanan Rusak

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sudaryono Sebut Gangguan Kesehatan MBG Banyak Dipicu Makanan Rusak

Gangguan pencernaan atau gangguan bakteri usus (MBG) menjadi masalah kesehatan yang sering dihadapi masyarakat, terutama di daerah dengan akses kesehatan terbatas. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Sudaryono, banyak kasus MBG yang terjadi ternyata berkaitan dengan konsumsi makanan yang tidak higienis atau sudah rusak.

Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di ruang kerjanya, Sudaryono menjelaskan bahwa data terakhir menunjukkan peningkatan kasus MBG di beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi. "Dari data yang kami kumpulkan, sekitar 60 persen kasus MBG yang terjadi dalam tiga bulan terakhir disebabkan oleh konsumsi makanan yang tidak aman," ujarnya.

Penyebab Utama MBG

Sudaryono menyoroti bahwa mayoritas kasus MBG berasal dari makanan yang dijual di warung-warung tradisional dan pedagang kaki lima. "Banyak pedagang yang belum memahami pentingnya menjaga kebersihan makanan, terutama dalam hal penyimpanan dan pengolahan," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa beberapa faktor utama yang memicu makanan menjadi tidak aman di antaranya adalah penggunaan bahan makanan yang kadaluarsa, proses pemanasan yang tidak tepat, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya mencuci tangan sebelum mengolah makanan. "Seringkali kita melihat pedagang menggunakan bahan makanan yang sudah berjam-jam bahkan beberapa hari di luar lemari es, ini sangat berisiko," tambahnya.

Dampak bagi Kesehatan Masyarakat

Gangguan MBG yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti dehidrasi, infeksi saluran pencernaan berat, hingga kerusakan usus secara permanen. "Kasus MBG terutama berdampak pada anak-anak dan lansia karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih rentan," jelas Sudaryono.

Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa dalam sebulan terakhir, ada sebanyak 215 kasus laporan MBG di seluruh kabupaten, dengan 3 di antaranya membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. "Ini angka yang mengkhawatirkan karena sebagian besar kasus bisa dicegah hanya dengan menerapkan kebiasaan hidup sehat dan memilih makanan yang higienis," ujarnya.

Upaya Pencegahan dan Edukasi

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi telah memulai program edukasi bagi para pedagang makanan dan masyarakat luas. "Kami mengadakan pelatihan tentang kebersihan pangan dan cara mengidentifikasi makanan yang rusak," terang Sudaryono.

Program tersebut meliputi sosialisasi di tingkat desa, pembagian brosur informatif, serta pelatihan praktis bagi calon pedagang makanan. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan pihak berwenang untuk melakukan inspeksi mendadak ke tempat-tempat penjualan makanan.

"Kami juga mendorong masyarakat untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda makanan yang rusak. Bau tidak sedap, perubahan warna, atau munculnya bercak pada makanan adalah indikator bahwa makanan tersebut tidak aman dikonsumsi," imbuhnya.

Kesadaran Masyarakat

Sudaryono menekankan bahwa pencegahan gangguan MBG bukan hanya tugas pihak berwenang, tetapi memerlukan kesadaran dan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat. "Masyarakat harus aktif melaporkan jika menemukan pedagang yang menjual makanan tidak higienis, serta menghindari konsumsi makanan yang dicurigai sudah tidak segar," pesannya.

Ia juga mengimbau agar masyarakat lebih memilih membeli makanan di tempat yang terjamin kebersihannya dan memiliki izin usaha. "Meskipun harga mungkin sedikit lebih mahal, kesehatan adalah investasi terbaik yang tidak boleh diabaikan," tutup Sudaryono.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter