17, 2026
Teknologi

Sensor Tsunami di Kawasan Krakatau Kurang, BRIN Usul Tambah

BRIN menilai satu unit sensor pendeteksi dini tsunami yang berada di kawasan Krakatau masih belum cukup untuk mendukung pemantauan bencana secara optimal.]]>

Rizky Amelia
Rizky Amelia Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sensor Tsunami di Kawasan Krakatau Kurang, BRIN Usul Tambah

Sensor Tsunami di Kawasan Krakatau Kurang, BRIN Usul Tambah

Kawasan vulkanik aktif seperti Krakatau yang berpotensi menghasilkan gelombang tsunami besar masih membutuhkan peningkatan sistem peringatan dini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa jumlah sensor tsunami yang saat ini tersedia di sekitar kawasan tersebut masih kurang untuk memberikan peringatan yang optimal kepada masyarakat. Kekhawatiran ini muncul lantaran sejarah letusan Krakatau pada tahun 1883 yang menghasilkan gelombang tsunami dahsyat menewaskan puluhan ribu orang.

Direktur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) BRIN, Kasbani, menjelaskan bahwa saat ini hanya terdapat sejumlah terbatas sensor yang memantau aktivitas di kawasan Krakatau. Jumlah ini dianggap tidak mencukupi untuk mengidentifikasi secara cepat potensi bahaya tsunami yang mungkin timbul dari aktivitas gunung berapi atau gempa bumi di bawah laut. "Kita perlu memastikan bahwa sistem peringatan dini di kawasan Krakatau komprehensif dan dapat memberikan informasi akurat dengan cepat," ujarnya dalam keterangan resmi.

Kurangnya Titik Pengamatan

Menurut data dari BRIN, saat ini hanya terdapat sekitar 10 stasiun pemantau yang tersebar di sekitak Selat Sunda dan perairan sekitar Pulau Krakatau. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan ideal yang seharusnya mencapai minimal 20-30 titik pengamatan. Keberadaan stasiun pemantau yang terbatas ini membuat sulit bagi para ahli untuk memetakan secara detail pola pergerakan air jika terjadi gempa bumi atau letusan gunung berapi.

Stasiun pemantau yang ada saat ini umumnya hanya dilengkapi dengan alat untuk mendeteksi gempa bumi dan perubahan elevasi permukaan air (maregraf). Namun, untuk sistem peringatan tsunami yang optimal, diperlukan kombinasi berbagai instrumen termasuk sensor tekanan dasar laut, akustik, serta sistem komunikasi yang andal. "Kurangnya alat pemantauan ini berpotensi menyebabkan keterlambatan dalam memberikan peringatan kepada masyarakat," jelas sepengetahuan BRIN.

Rekomendasi Peningkatan Sistem

BRIN telah menyampaikan rekomendasi secara resmi kepada pemerintah terkait peningkatan sistem peringatan dini tsunami di kawasan Krakatau. Beberapa rekomendasi tersebut meliputi pemasangan tambahan sensor tsunami di titik-titik strategis di sekitar Selat Sunda, Pulau Sumatera, dan Pulau Jawa. Selain itu, disarankan juga untuk memperkuat sistem komunikasi data dari sensor ke pusat peringatan bencana di darat.

Salah satu titik kritis yang menjadi prioritas adalah area di sekitak Selat Sunda, yang secara geografis rentan terhadap gempa bumi bawah laut dan aktivitas vulkanik dari Krakatau. "Pemasangan sensor di titik-titik ini akan memungkinkan deteksi lebih dini jika ada anomali di permukaan air," tambahkan para ahli dari BRIN.

Tantangan Implementasi

Meskipun rekomendasinya sudah jelas, implementasi penambahan sensor tsunami di kawasan Krakatau menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kondisi geografis yang sulit dan medan laut yang dalam di beberapa area. Selain itu, biaya operasional dan pemeliharaan jangka panjang juga menjadi pertimbangan penting.

Kepala Pusat Data dan Informasi Geospasial BRIN, Andi Pangeran, menjelaskan bahwa pemasangan sensor di perairan dalam membutuhkan teknologi khusus dan sumber daya yang memadai. "Kita membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dan pihak swasta untuk mewujudkan sistem peringatan dini yang komprehensif," ujarnya.

Peningkatan Kesadaran Masyarakat

Selain penambahan infrastruktur fisik, BRIN juga menekankan pentingnya peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya tsunami. Program edukasi dan simulasi evakuasi perlu dilakukan secara berkala terutama di daerah pesisir yang berpotensi terkena dampak tsunami.

Koordinator Program Mitigasi Bencana BRIN, Rina Herdiani, menambahkan bahwa masyarakat perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda datangnya tsunami dan mengetahui rute evakuasi yang aman. "Pengetahuan dan kesiapan masyarakat adalah elemen krusial dalam mengurangi risiko bencana," tegasnya.

Dengan semakin aktifnya aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau, peningkatan sistem peringatan dini tsunami menjadi kebutuhan mendesak. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat diyakini dapat mengurangi potensi korban bencana di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizky Amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter