Satgas Dalami Keterlibatan KKB Ndugama Terkait Tewasnya Sopir Travel di Wamena
Satuan Tugas (Satgas) Penindak Kegiatan Pencucian Uang (PU) dan Pendanaan Terorisme (PPT) tengah mendalami keterlibatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Ndugama dalam insiden tewasnya seorang sopir travel di Wamena, Papua. Penyidik fokus mengungkap motif di balik penyerangan yang mengakibatkan korban tewas ditembak di depan keluarganya.
Korban bernama Yulianus Douw, se sopir travel usia 45 tahun, tewas ditembak oleh sekelompok orang bersenjata saat sedang berada di rumahnya di Distrik Wosima, Kabupaten Jayawijaya, pada Rabu (15/3) dini hari. Menurut keterangan saksi, penyerang mengenakan seragam hitam dan membawa senjata laras panjang. Pelaku datang secara tiba-tiba dan langsung menembak korban di bagian dada beberapa kali hingga tewas di tempat.
Kepala Satgas Penindak Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme, Komisaris Besar Polisi (Kompol) Rudi Purwanto, mengatakan bahwa tim sedang mengumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk mengungkap motif di balik penyerangan tersebut. "Kami menduga adanya keterlibatan KKB Ndugama dalam insiden ini. Beberapa saksi mata melihat pelaku memiliki ciri-ciri serupa dengan anggota KKB yang aktif di wilayah tersebut," ujarnya.
Jejak KKB Ndugama
Penelusuran awal Satgas menunjukkan adanya jejak KKB Ndugama dalam insiden tersebut. Kelompok tersebut diketahui aktif melakukan berbagai kejahatan di wilayah pegunungan Papua, termasuk penyerangan terhadap aparat keamanan dan warga sipil. KKB Ndugama dipimpin oleh seorang mantan anggota TNI yang memisahkan diri dan membentuk kelompok kriminal bersenjata.
Menurut informasi yang diperoleh, korban sempat menerima ancaman dari kelompok bersenjata beberapa hari sebelum insiden terjadi. Ancaman tersebut diduga terkait dengan konflik lahan yang melibatkan keluarga korban dengan anggota KKB Ndugama. "Korban sempat melaporkan ancaman ini kepada pihak berwenang, namun belum ada tindakan konkret yang diambil sebelum insiden terjadi," kata sumber terdekat Satgas.
Respons Pemerintah
Insiden penembakan sopir travel di Wamena mendapat respon serius dari pemerintah pusat. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menginstruksikan aparat keamanan untuk segera menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik penyerangan tersebut. "Kami tidak akan mentoleransi tindakan kekerasan di wilayah Papua. Pelaku harus diadili sesuai dengan hukum yang berlaku," ujarnya.
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga memerintahkan Kapolda Papua untuk memimpin langsung operasi penangkapan pelaku. "Tim gabungan dari TNI dan Polri sudah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku. Kami akan menggunakan segala cara untuk menangkap mereka," ujar Jenderal Listyo.
Dampak Sosial
Insiden tersebut menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat Wamena. Banyak warga yang khawatir akan terjadinya eskalasi kekerasan di tengah suasana yang sudah tegang di wilayah tersebut. Sejumlah tokoh masyarakat setempat meminta pemerintah untuk segera mengendalikan situasi agar tidak ada korban lagi.
"Kami minta pemerintah tidak hanya menindak pelaku, tetapi juga menyelesaikan masalah akar penyebab konflik di wilayah ini. Kekerasan hanya akan menimbulkan lebih banyak korban dan menghambat pembangunan di Papua," kata seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya.
Satgas Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme sendiri akan memeriksa keterkaitan antara insiden ini dengan potensi aktivitas pendanaan terorisme. "Kami akan mengecek apakah ada aliran dana yang digunakan untuk mendukung kegiatan KKB Ndugama. Jika ada, maka pihak yang terlibat akan ditindak sesuai dengan Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Pencucian Uang," tambah Kompol Rudi.
Saat ini, tim gabungan TNI-Polri masih melakukan pengejaran terhadap pelaku yang diduga melarikan dira ke arah pegunungan sekitar Wamena. Pihak berwenang berjanji akan segera menangkap pelaku dan membawa mereka ke meja hijau guna memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya.
Komentar (0)