17, 2026
Nasional

SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang hingga Tepi Anak Krakatau

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang hingga Tepi Anak Krakatau

Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) memperluas area pencarian untuk lima jurnalis yang dilaporkan hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Para jurnalis tersebut terakhir kali terlihat pada Rabu (15/11) ketika sedang melaksanakan tugas jurnalistik di perairan sekitar Kepulauan Krakatau, Provinsi Lampung. Pencarian yang awalnya hanya difokuskan di area sekitar Pulau Rakata kini telah diperluas hingga ke tepi wilayah Anak Krakatau.

Kepala Basarnas Lampung, Muhammad Syafei, mengatakan bahwa tim SAR telah melakukan penyisiran di area perairan darurat dengan memanfaatkan beberapa kapal patroli milik TNI AL, Polri, dan Basarnas. "Kami telah menambah jangkauan pencarian hingga ke zona terlarak Anak Krakatau karena adanya indikasi bahwa korban mungkin terdorong arus laut menuju area tersebut," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (16/11).

Identitas Para Jurnalis yang Hilang

Lima jurnalis yang dilaporkan hilang merupakan anggota tim dari dua media berbeda. Mereka adalah Budi Santoso (fotografer), Rina Amelia (reporter), dan Dwi Putra (videografer) dari Televisi Nasional; serta Eko Prasetyo (reporter) dan Maya Sari (produser) dari Media Online Berita Indonesia. Para jurnalis ini sedang meliput aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang baru-baru ini menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.

Terakhir kali, mereka diketahui sedang melakukan liputan dari atas kapal motor cepat (KPC) milik nelayan lokal. Kapal tersebut diketahui berlayar dari Pulum Sebesi menuju area sekitar Anak Krakatau pada Rabu pagi sebelum akhirnya kontak terakhir terputus sekitar pukul 10.00 WIB.

Kondisi Cuaca yang Tidak Menentu

Koordinator SAR Basarnas mengungkapkan bahwa kondisi cuaca di sekitar perairan Anak Krakatau tidak menentu, yang membuat operasi pencarian menjadi lebih sulit. "Selain arus yang cukup kuat, tinggi gelombang juga mencapai 2-3 meter, sehingga mempersulit tim SAR dalam melakukan penyisiran," jelasnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah memberikan peringatan dini bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau terus meningkat dengan frekuensi gempa vulkanik yang semakin sering. Selain itu, tingkat kerawanan longsoran material di puncak gunung juga dinilai tinggi.

Upaya Pencarian yang Terus Dilakukan

Sejak diberitahukannya kehilangan para jurnalis, Basarnas langsung mengaktifkan tim SAR gabungan yang terdiri dari personel TNI AL, Polri, Basarnas, serta relawan dari organisasi kemanusiaan. Tim tersebut telah menggunakan berbagai sarana seperti kapal patroli, perahu karet, dan drone untuk melakukan pencarian dari udara.

Para keluarga korban pun turut terlibat dalam proses pencarian. Mereka telah berkumpul di pelabuhan Labuhan, titik terdekat dengan area pencarian, untuk menunggu informasi terbaru tentang keberadaan sanak saudara mereka.

Sejarah Kehilangan di Anak Krakatau

Wilayah Anak Krakatau memang dikenal sebagai area berbahaya bagi aktivitas manusia. Pada tahun 2018, letusan gunung berapi tersebut mengakibatkan tsunami yang meluluhlantakkan pesisir barat daya Sumatra dan selatan Jawa, menewaskan ratusan orang.

Saat ini, pihak berwenang masih terus memantau perkembangan pencarian dan berharap dapat menemukan para jurnalis yang hilang dalam keadaan selamat. Pencarian akan dilakukan secara terus-menerus hingga korban berhasil ditemukan atau dinyatakan tidak ditemukan (DPO).

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter