Sampah di TPST Bantargebang Terbakar, 4 Unit Mobil Damkar Dikerahkan
Pertama kali terlihat asap tebal mengepul dari kawasan TPSa (Tempat Pembuangan Sampah Akhir) Bantargebang, Bekasi, pada Rabu (15/3) sekitar pukul 10.30 WIB. Api berhasil dikendalikan oleh tim pemadam kebakaran setelah beberapa jam upaya pemadaman berlangsung. Kebakaran yang diduga berasal dari proses dekomposisi sampah organik ini melibatkan empat unit mobil damkar dari Pemkot Bekasi dan sejumlah petugas kebersihan.
Kronologi Kebakaran
Kebakaran bermula di area penimbunan sampah organik yang sudah menumpuk selama berhari-hari. Menurut keterangan Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup (PSALH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Surya Perdana, api pertama kali terlihat di sekitar zona penimbunan sementara. "Kondisi cuaca panas dan angin kencang memicu api untuk menjalar dengan cepat ke area penimbunan lainnya," ujarnya.
Petugas kebersihan yang sedang melaksanakan tugas rutin di lokasi pertama kali melihat asap tebal dan mencoba memadamkannya secara mandiri sebelum menyadari bahwa api sudah semakin besar. "Mereka menggunakan alat-alat sederhana seperti sekop dan air, namun tidak efektif menghadapi api yang sudah menjalar luas," jelas Surya.
Upaya Pemadaman
Setelah menerima laporan, pemkot Bekasisegera mengerahkan empat unit mobil damkar dari Damkar Kota Bekasi. Tim pemadam tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB dan langsung melakukan pemadaman. "Kami mengantisipasi penyebaran api dengan membagi area menjadi beberapa zona. Api berhasil dikendalikan pukul 14.30 WIB," kata Komandan Tim Damkar Kota Bekasi, Ahmad Yani.
Proses pemadaman terganggu oleh kondisi medan yang sulit dan suhu yang sangat tinggi. "Suhu di area kebakaran mencapai 60-70 derajat Celsius, membuat petugas kesulitan mendekati api secara langsung. Kami harus bergantian untuk menghindari risiko dehidrasi dan kelelahan," jelas Ahmad.
Selain mobil damkar, pihak juga menggunakan alat berat untuk memindahkan tumpukan sampah dan mencegah api menyala kembali. "Kami memindahkan sampah yang sudah terbakar untuk mengisolasi api dan memastikan tidak ada titik api tersembunyi," tambahnya.
Dampak Lingkungan
Kebakaran di TPST Bantargebang menghasilkan asap tebal yang menyebar hingga ke beberapa wilayah di Bekasi dan Jakarta Timur. Warga di sekitar lokasi melaporkan gangguan pernapasan akibat asap. "Anak-anak dan lansia menjadi rentan terhadap dampak asap. Kami sarankan warga untuk menggunakan masker saat keluar rumah," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Ratna Sari Dewi.
Pihak DLH juga melakukan pengambilan sampel udara untuk mengetahui tingkat polusi. "Hasil awal menunjukkan ada kenaikan kadar partikulat PM10 di udara, namun belum mencapai ambang batas bahaya. Kami terus melakukan monitoring," ujar Surya Perdana.
Penyebab dan Penanganan Lanjutan
Didampingi oleh tim ahli dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan DLH, penyelidikan sementara menunjukkan bahwa kebakaran disebabkan oleh reaksi dekomposisi anaerobik pada sampah organik yang tercampur dengan udara panas. "Suhu tinggi di lokasi TPST dan adah angin kencang menjadi katalisator utama terjadinya kebakaran," jelas Kepala BPBD Kota Bekasi, Budi Santoso.
Untuk mencegah terulangnya insiden serupa, pihak pemkot akan melakukan beberapa langkah preventif. "Kami akan mempercepat pembangunan instalasi pengolahan biogas untuk mengurangi tumpukan sampah organik. Selain itu, penataan zona penimbunan akan diperketat dan penambahan petugas pengawas di lokasi," kata Wali Kota Bekasi, Muhammad Rudi.
TPST Bantargebang yang menerima sekitar 6.000 ton sampah per hari dari Jakarta dan Bekasi ini telah beberapa kali mengalami kebakaran serupa. Pihak berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di lokasi.
Saat ini, area yang terbakar masih dalam proses pendinginan dan pengawasan untuk mencegah kembali terjadinya api. Petugas akan tetap berjaga di lokasi selama 24 jam untuk memastikan keamanan.
Komentar (0)