Polisi Tunggu Hasil Pencocokan DNA Keluarga Jurnalis yang Hilang dengan Temuan Jasad di Pulau Enggano
Tim penyidik Polri masih menunggu hasil uji coba DNA untuk memastikan jasad yang ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, merupakan bagian dari kelima jurnalis yang dilaporkan hilang sejak liputan Gunung Anak Krakatau pada 2018. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Argo Yuwono, mengatakan proses pengambilan sampel DNA dari keluarga korban telah dilakukan dan saat ini sedang menunggu hasil laboratorium.
"Kami sudah mengambil sampel DNA dari keluarga korban dan saat ini sedang dalam proses uji coba di laboratorium forensik. Hasilnya akan menentukan apakah jasad yang ditemukan memang milik salah satu dari lima wartawan yang hilang," ujar Argo dalam konferensi pers, Rabu (11/9/2023).
Temuan Jasad di Perairan Enggano
Jasad yang diduga merupakan salah satu dari lima jurnalis hilang itu ditemukan nelayan lokal pada Sabtu (7/9/2023) di perairan Pulau Enggano, sekitar 150 kilometer dari pantai Bengkulu. Nelayan tersebut melaporkan penemuan tersebut ke Polsek Enggano setelah menemukan mayat mengambang di permukaan laut dengan kondisi yang sudah membusuk.
Tim identifikasi Polri dari Polda Bengkulu segera melakukan evakuasi jasad dan membawanya ke RSUD dr. M. Yamin Bengkulu untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut. Pemeriksaan sementara menunjukkan jasad tersebut berjenis kelamin pria dengan tinggi badan sekitar 170 cm dan mengenakan pakaian seragam olahraga berwarna abu-abu.
Lima Jurnalis yang Hilang
Lima jurnalis yang dilaporkan hilang pada 2018 saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau adalah Sandiaga Uno (jurnalis TVOne), Rizky Febri (jurnalis MetroTV), Eriyanto (jurnalis TVOne), Wuryanto (jurnalis TVOne), dan Herman (jurnalis SCTV). Mereka dikabarkan terakhir terlihat saat berada di wilayah Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, untuk meliput aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Sejak kejadian itu, tim SAR gabungan dari Basarnas, Polri, TNI, serta relawan terus melakukan pencarian namun belum membuahkan hasil. Beberapa puing-puing kapal dan peralatan foto juga ditemukan di sekitar perairan Selat Sunda namun jasad korban belum ditemukan hingga penemuan terbaru ini.
Kelompok Korban Menolak Ambil Sampel DNA
Menariknya, salah satu kelompok keluarga korban menolak untuk memberikan sampel DNA sebelum dilakukan identifikasi visual terlebih dahulu. Mereka meminta agar jasad tersebut diperiksa secara visual oleh keluarga terlebih dahulu sebelum dilakukan uji DNA.
Kondisi Gunung Anak Krakatau Saat Kejadian
Gunung Anak Krakatau diketahui mengalami erupsi besar pada Desember 2018 yang mengakibatkan tsunami di Selat Sunda. Erupsi tersebut menyebabkan sebagian besar lereng gunung longsor dan masuk ke laut, menghasilkan gelombang setinggi beberapa meter. Diduga, lima jurnalis tersebut ikut terbawa arus saat kejadian tersebut.
Sementara itu, pihak berwenang terus menyelidiki apakah ada faktor lain yang menyebabkan kehilangan kontak dengan para jurnalis tersebut. Beberapa teori muncul, mulai dari kondisi cuaca buruk, kerusakan peralatan komunikasi, hingga potensi kecelakaan kapal yang digunakan mereka saat meliput.
Komentar (0)