Polisi: Massa Rusuh di Pejompongan Terafiliasi Anarko
Polisi menyatakan bahwa massa yang terlibat dalam aksi rusuh di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Rabu (15/3) malam memilikiafiliasi dengan kelompok anarko. Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Dedi Prasetyo, mengungkapkan bahwa para pelaku telah merencanakan aksi kekerasan tersebut sebelumnya.
Aksi kekerasan yang terjadi di Pejompongan bermula dari unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai. Namun, seiring berjalannya waktu, sejumlah peserta unjuk rasa yang didominasi oleh kaum muda mulai mengamuk. Mereka melempar batu, botol minum, dan benda keras lainnya ke arah aparat keamanan yang berjaga di lokasi.
Peristiwa Berlangsung Mendadak
Menurut keterangan saksi mata, aksi kekerasan terjadi secara mendadak sekitar pukul 21.00 WIB. Para peserta unjuk rasa yang awalnya hanya berteriak-teriak dan membawa spanduk, tiba-tiba berubah menjadi sangat agresif. Mereka mulai melempar batu ke arah petugas yang sedang berjaga di sekitaran Jalan Pejompongan.
"Awalnya mereka hanya berorasi, tapi tiba-tiba ada yang melempar batu. Kemudian semakin banyak yang ikut melempar. Petugas pun membalas dengan gas air mata untuk mengendalikan situasi," ujar seorang warga setempat yang tidak mau disebutkan namanya.
Penangkapan dan Barang Bukti
Dalam kejadian itu, polisi berhasil menangkap sejumlah pria diduga pelaku aksi kekerasan. Dari tangan mereka, polisi menyita beberapa barang bukti berupa batu, batu bata, dan benda tajam lainnya. Selain itu, polisi juga menemukan beberapa spanduk yang isinya mengandung provokasi.
"Kami sudah menangkap 15 orang dalam kejadian ini. Mereka akan kita dalang dengan pasal tentang gangguan ketertiban umum dan kekerasan," kata Kepala Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Mochamad Iqbal.
Afiliasi Anarko
Irjen Pol. Dedi Prasetyo mengungkapkan bahwa hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa para pelaku memilikiafiliasi dengan kelompok anarko. Kelompok ini dikenal sering melakukan aksi anarkis dalam berunjuk rasa.
"Ada indikasi kuat bahwa mereka yang melakukan aksi kekerasan di Pejompongan terafiliasi dengan kelompok anarko. Modus operandinya biasanya mengambil alih aksi damai yang diselenggarakan oleh kelompok lain, lalu menciptakan kekacauan," jelas Dedi.
Polisi masih melakukan penyelidungan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan di balik aksi kekerasan tersebut. Tim khusus telah dibentuk untuk mengidentifikasi para pelaku dan mencari dalangnya.
Reaksi Pemerintah
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengutuk keras aksi kekerasan yang terjadi di Pejompongan. Ia menegaskan bahwa setiap aksi unjuk rasa harus tetap berlangsung dalam kerangka hukum dan tidak merugikan orang lain.
"Aksi kekerasan seperti ini tidak boleh ditoleransi. Kita harus tegas menindak pelakunya agar tidak terulang lagi. Pemerintah tetap menghormati hak unjuk rasa yang dilakukan secara damai," ujar Mahfud.
Dampak pada Warga Sekitar
Aksi kekerasan di Pejompongan menyebabkan panik di kalangan warga sekitar. Banyak toko dan warung yang segera menutup pintunya karena takut menjadi sasaran amukan massa. Beberapa kendaraan yang parkir di sepanjang jalan juga mengalami kerusakan akibat dilempari batu.
"Saya langsung menutup toko saya karena melihat situasi makin tidak terkendali. Ada yang melempar batu ke arah sini, untungnya tidak mengenai toko," ujar Ahmad, seorang pedagang di kawasan tersebut.
Langkah Pencegahan
Polisi mengaku telah memperketat pengamanan di sejumlah titik rawan kerusuhan di Jakarta. Patroli akan ditingkatkan terutama di area-area yang sering menjadi tempat unjuk rasa.
Sementara itu, Komnas HAM menyatakan akan memantau kasus ini secara independen. Mereka meminta agar penanganan oleh pihak kepolisian tetap berdasarkan prinsip-prinsip HAM.
"Kami akan menunggu hasil investigasi polisi. Namun, jika ada tindakan kekerasan dari pihak aparat, itu juga harus ditindak tegas," ujar salah satu anggota Komnas HAM yang tidak mau disebutkan namanya.
Komentar (0)