Petani di Sragen Bunuh Rekan Usai Cekcok soal Air Sawah
Sebuah tragedi memilukan terjadi di Desa Ngemplak, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Seorang petani bernama Suroso (55) tewas ditusuk oleh rekan seprofesinya, Surahman (60), dalam peristiwa yang dipicu oleh perselisihan sengit mengenai penggunaan air irigasi untuk lahan pertanian. Insiden ini terjadi pada Selasa (15/3) sekitar pukul 09.00 WIB dan mengejutkan warga setempat.
Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Eko Purnomo, mengungkapkan kronologi lengkap peristiwa tersebut. Menurutnya, kedua petani tersebut sempat terlibat cekcok sengit sebelum kejadian pembunuhan. "Awalnya, mereka bertengkar karena masalah pembagian air irigasi untuk sawah mereka. Suroso dan Surahman tinggal di wilayah yang berdekatan dan bergantung pada satu sumber air yang sama," jelas Eko Purnomo dalam konferensi pers.
Perselisihan yang Memanas
Sumber dari warga setempat menyebutkan bahwa perselisihan antara Suroso dan Surahman sudah berlangsung cukup lama. Kedua petani seringkali mengalami ketegangan mengenai alokasi air irigasi, terutama pada musim kemarau ketika sumber air menjadi semakin terbatas. "Mereka sudah sering bertengkar soal ini, tapi biasanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kaliannya ternyata berujung sangat tragis," ujar salah satu tetangga yang tidak mau disebutkan namanya.
Pada hari kejadian, kedua petani kembali bertemu di area irigasi yang menjadi sumber perselisihan. Mereka saling menyalahkan karena merasa diri dirugikan dalam pembagian air. "Suroso mengeluhkan bahwa Surahman terlalu banyak mengambil air sehingga menyebabkan lahan Suroso kekurangan pasokan. Sebaliknya, Surahman menuding Suroso memblok aliran air," terang Eko Purnomo.
Peristiwa Pembunuhan
Cekcok yang awalnya hanya verbal kemudian memanas hingga berujung tangan. Saksi mata mengatakan bahwa pada satu titik, Surahman yang sedang dalam amarah mendapatkan sebilah sabuk pemotong padi yang tersimpan di dekat lokasi perselisihan. "Tanpa banyak berpikir panjang, Surahman menyerang Suroso dengan sabuk tersebut. Suroso sempat berusaha melarikan diri tapi keadaannya sudah terlambat," jelas seorang warga yang menjadi saksi mata.
Suroso mengalami l tusukan di bagian dada yang mengenai jantungnya. Korban sempat dibawa ke Puskesmas terdekat tapi nyawa tidak bisa diselamatkan. Sementara itu, pelaku Surahman sempat melarikan diri setelah melakukan aksinya tapi berhasil diamankan oleh warga beberapa jam kemudian.
Reaksi dari Pihak Terkait
Kepala Desa Ngemplak, Bambang Sutrisno, mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut. Menurutnya, meski sempat ada perselisihan antara warga, namun tidak pernah terbayangkan bisa berujung pada tindakan kekerasan. "Kami sudah berupaya melakukan mediasi sebelumnya untuk masalah air irigasi ini. Tapi sayangnya, upaya kami tidak membuahkan hasil hingga terjadi hal yang tidak diinginkan," ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah desa telah memfasilitasi beberapa kali pertemuan antara warga yang memiliki konflik mengenai air irigasi. Namun, sepertinya solusi yang ditawarkan belum memuaskan kedua belah pihak. "Kami akan meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi yang lebih permanen masalah irigasi di desa kami," tambah Bambang.
Tanggapan Polisi
Polisi telah menetapkan Surahman sebagai tersangka dalam kasus ini. Barang bukti berupa sabuk pemotong padi yang digunakan dalam pembunuhan telah disita oleh pihak kepolisian. "Kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pelaku untuk mengungkap motif utama dan kondisi psikologisnya saat melakukan aksi tersebut," jelas AKP Eko Purnomo.
Polisi juga meminta masyarakat untuk tidak mengambil jalur kekerasan dalam menyelesaikan masalah, terlebih lagi masalah yang bersifat perselisihan antar tetangga. "Kami mengimbau masyarakat untuk tenang dan selalu mencari solusi secara dammi melalui dialog atau mediasi jika mengalami perselisihan. Jangan sampai terulang lagi peristiwa yang sangat menyedihkan ini," pungkasnya.
Tragedi ini menunjukkan betapa rawannya konflik sumber daya air di daerah agraris seperti Sragen, terutama pada musim kemarau. Pihak berwenang diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih komprehensif untuk mencegah terulangnya insiden serupa di kemudian hari.
Komentar (0)