Korban Gempa NTT Nyaris Sebulan Tidur Tanpa Terpal dan Selimut
Gempa bumi berkekuatan 6,1 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 5 Desember 2023 telah meninggalkan luka mendalam bagi ribuan korban. Hampir sebulan berlalu, kondisi para korban yang mengungsi di beberapa titik pengungsian masih sangat memprihatinkan. Banyak di antara mereka yang terpaksa tidur tanpa terpal dan selimut, terpapar suhu dingin di malam hari sambil menanggung berbagai penderitaan akibat musibah tersebut.
Kondisi Pengungsian yang Memprihatinkan
Sebagian besar korban gempa masih menempati tenda-tenda pengungsian sederhana yang disediakan oleh pemerintah dan relawan. Kondisi ini semakin parah dengan turunnya hujan dan suhu udara yang menurun di sejumlah wilayah terdampak, terutama di kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah. Menurut informasi dari tim relawan yang masih berada di lokasi, ratusan keluarga masih kekurangan perlindungan dasar seperti terpal dan selimut.
"Kebanyakan korban menggunakan terpal bekas yang sudah sobek dan tidak layak pakai. Beberapa bahkan tidur di lantai tanpa alas tidur sama sekali," ujar salah seorang koordinator relawan yang ingin menyembunyikan identitasnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran tim medis akan meningkatnya risiko penyakit infeksi dan hipotermia terutama pada anak-anak dan lanjut usia.
Upaya Bantuan Terhambat
Upaya penyaluran bantuan terus dilakukan oleh pemerintah, lembaga swasta, dan organisasi kemanusiaan. Namun, kendala logistik dan akses menuju beberapa lokasi pengungsian masih menjadi masalah utama. Beberapa desa terpencil di Sumba masih terisolasi akibat kerusakan jalan dan infrastruktur yang parah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Dr. Andi Pramudya, mengakui bahwa distribusi bantuan masih menghadapi berbagai tantangan. "Kami berusaha maksimal untuk memastikan bantuan sampai ke tangan para korban. Namun, kondisi geografis yang sulit dan infrastruktur yang rusak parah membuat prosesnya memakan waktu lebih lama," jelasnya.
Korban Terdampak Psikologis
Selain masalah fisik, para korban gempa juga mengalami trauma psikologis yang mendalam. Banyak anak-anak yang menunjukkan gejala stres pasca bencana, termasuk insomnia, mimpi buruk, dan kecemasan berlebihan. Kondisi ini diperparah dengan suasana lingkungan pengungsian yang tidak nyaman dan privasi yang minim.
"Kami melihat banyak anak yang sulit tidur di malam hari. Mereka terus menangis atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Ini jelas dampak trauma dari gempa yang mereka alami," kata seorang psikolog yang turun langsung ke lokasi. Pemerintah bersama beberapa LSM telah memulai program dukungan psikososial namun cakupannya masih terbatas.
Keluhan Korban dan Harapan Masa Depan
Para korban mengungkapkan rasa frustrasinya dengan lambatnya penanganan pascabencana. Banyak di antara mereka yang merasa ditinggalkan dan kecewa dengan respons pemerintah. "Kami sudah hampai sebulan hidup di sini dengan kondisi seperti ini. Kami butukan tempat yang layak untuk tinggal dan perlindungan dasar," keluh salah seorang korban yang berada di pengungsian Kecamatan Wanggameti.
Pihak berwenang telah berjanji akan segera mempercepat pembangunan rumah sementara bagi para korban. Rencananya, dalam dua minggu ke depan akan dibangun sekitar 500 unit rumah sementara di beberapa titik terdampak. Namun, para korban masih khawatir apakah janji ini akan terwujud mengingat kompleksitas masalah di lapangan.
Dengan kondisi yang masih belum membaik, para korban gempa di NTT terus menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah kesulitan yang mereka hadapi. Mereka tetap berharap bisa segera kembali ke kehidupan normal meski jalan menuju pemulihan masih panjang dan penuh tantangan.
Komentar (0)