Karhutla Gambut Sulit Dipadamkan, Ini Penjelasan Pakar IPB
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda area gambut di Indonesia kembali menjadi perhatian serius. Kejadian ini bukanlah hal baru, namun tantangan dalam memadamkannya terus menjadi permasalahan kompleks. Beberapa pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan mengapa karhutla di lahan gambut begitu sulit dikendalikan dan memerlukan pendekatan khusus dalam penanganannya.
Menurut Profesor Dr. Ir. Syafrudin, M.Sc., seorang pakar kehutanan dari IPB, sifat gambut yang menjadi media utama kebakaran menjadi pemicu utama kesulitan dalam penanganan karhutla. "Gambut memiliki karakteristik yang unik, terutama dalam hal penyimpanan air dan kebakaran. Struktur gambut yang terdiri dari material organik yang terdekomposisi selama ribuan tahun membuatnya mudah terbakar namun sangat sulit dipadamkan," ujarnya dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh IPB beberapa waktu lalu.
Sifat Unik Gambut Sebagai Media Bakar
Gambut memiliki tingkat keasaman (pH) rendah dan kandungan karbon tinggi, sehingga menjadi bahan bakar yang sangat efektif. Ketika terjadi kekeringan, lapisan permukaan gambut mudah kering dan dapat terbakar dengan mudah. Api yang terjadi di dalam gambut seringkali bersifat terpendam (smoldering) daripada terbuka (flaming). Kondisi ini membuat api sulit terdeteksi dan sulit dipadamkan sepenuhnya.
"Api smoldering di dalam gambut dapat terus membakar secara perlahan di bawah permukaan tanah, terutama saat kondisi cuaca kering. Api ini dapat bertahan selama minggu atau bahkan bulan, dan dapat muncul kembali kapan saja jika ada angin atau kondisi yang memungkinkan," jelas Dr. Syafrudin.
Tantangan dalam Penanganan Karhutla Gambut
Salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla gambut adalah masalah akses. Area gambut yang luas dan seringkali terpencil menyulitkan tim pemadam kebakaran untuk mencapai titik api. Selain itu, kondisi medan yang rawan dan berlumpur membuat kendaraan berat tidak dapat digunakan, sehingga penanganan seringkali dilakukan secara manual.
Dr. Ir. Nurlaila, M.Sc., seorang pakar hidrologi dari IPB, menambahkan bahwa sistem drainase yang ada di lahan gambut juga menjadi faktor yang memperparah kebakaran. "Banyak lahan gambut yang telah diubah fungsi untuk keperluan perkebunan atau pertanian. Perubahan ini seringkali disertai dengan pembuangan air atau pengeringan lahan melalui saluran drainase. Kondisi ini membuat lapisan gambut menjadi lebih mudah kering dan rentan terhadap kebakaran," terangnya.
Strategi Penanganan yang Efektif
Menanggapi tantangan ini, tim peneliti dari IPB telah mengembangkan beberapa strategi penanganan karhutla gambut yang dianggap lebih efektif. Salah satunya adalah metode "saturate and drown" yang melibatkan penyiraman massif di sekitar area kebakaran untuk membasahi gambut secara menyeluruh.
"Kita juga mengembangkan teknologi deteksi dini kebakaran gambut menggunakan sistem pemantauan berbasis satelit dan drone. Dengan teknologi ini, kita dapat mendeteksi titik api sejak dini sebelum berkembang menjadi kebakaran yang besar," jelas Dr. Nurlaila.
Selain itu, upaya pencegahan juga menjadi fokus utama. Program-restorasi gambut, penutupan saluran drainase, dan pembangunan tangki penampung air di lahan gambut dilakukan untuk menjaga kelembaban dan mencegah kekeringan.
Peran Masyarakat dan Kebijakan Publik
Pakar IPB menekankan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tim pemadam kebakaran, tetapi memerlukan partisipasi seluruh lapisan masyarakat. "Kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian gambut. Kebijakan publik yang mendukung konservasi gambut juga sangat diperlukan," ujar Profesor Syafrudin.
Ia menambahkan bahwa edukasi tentang bahaya kebakaran hutan dan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar perlu ditingkatkan, terutama di daerah-daerah yang berbatasan dengan lahan gambut.
Dengan memahami karakteristik unik gambut dan menerapkan strategi penanganan yang tepat, diharapkan kejadian karhutla di Indonesia dapat dikurangi frekuensinya dan dampaknya terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat dapat diminimalisir. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah kompleks ini.
Komentar (0)