Kapolda Banten Ungkap Kendala Pencarian 5 Jurnalis yang Hilang, Banyak Kabut dan Angin Kencang
Pencarian lima jurnalis yang dikabarkan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau terus berlanjut. Kapolda Banten Irjen Pol. Ahmad Dofiri mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi tim pencarian dalam upaya menemukan para jurnalis tersebut. Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi hambatan utama dalam operasi pencarian.
"Kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau masih sangat tidak menguntungkan. Banyak kabut tebal dan angin kencang yang bertiup, membuat visibilitas sangat rendah," ujar Kapolda Banten dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Mapolda Banten, Rabu (11/9/2026).
Kondisi Terkini Pencarian
Tim gabungan yang terdiri dari personel Polri, Basarnas, TNI, serta relawan terus melakukan pencarian intensif. Area yang menjadi sorotan adalah pesisir selatan Pulau Sumatera dan sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, lokasi terakhir diketahui para jurnalis berada sebelum hilang kontak.
"Kami sudah memperluas area pencarian hingga ke perairan selat Sunda. Tim kami menggunakan kapal patroli dan juga drone untuk memantau kondisi di laut dan darat," jelas Kapolda Dofiri.
Kapolda menjelaskan bahwa para jurnalis dilaporkan hilang pada Selasa (10/9/2026) pagi. Mereka sedang meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang meningkat beberapa hari terakhir. Sebelum hilang kontak, para jurnalis sempat mengirimkan laporan terakhir tentang kondisi gunung berapi tersebut.
Identitas Para Jurnalis yang Hilang
Lima jurnalis yang menjadi korban hilang kontak telah diidentifikasi. Mereka adalah Ahmad Rizki (fotografer TV One), Siti Nurhaliza (reporter Metro TV), Budi Santoso (cameraman RCTI), Eka Putri (penulis detikcom), dan Dimas Pratama (pemimpin redaksi harian lokal Banten Pos).
Para jurnalis ini berangkat dari Jakarta pada Senin (9/9/2026) malam dengan tujuan meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau yang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Mereka berencana meliput dari dua lokasi, yaitu Pulau Sebesi dan Pantai Carita.
"Kami sudah menghubungi keluarga korban dan memberikan informasi terkini mengenai upaya pencarian. Keluarga masih dalam keadaikan terguncang dan kami berusaha memberikan dukungan psikis," ujar Kapolda dengan nada serius.
Tanggapan Instansi Terkait
Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyatakan akan mendukung penuh upaya pencarian para jurnalis. "Kami telah mengaktifkan satuan tugas khusus untuk memantau perkembangan pencarian dan membantu koordinasi antar pihak," kata Deputi Komunikasi Publik Kominfo, Ahmad Yunus, dalam keterangannya.
Sementara itu, Dewan Pers Indonesia mengimbau media untuk tetap waspada dalam peliputan di area berbahaya. "Kami meminta semua jurnalis untuk memprioritaskan keselamatan saat meliput di lokasi yang berpotensi bahaya seperti gunung berapi," kata Ketua Dewan Pers, Budi Setiawan.
Kondisi Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda memang telah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik beberapa bulan terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status gunung ini menjadi Level II (Waspada).
"Sejak Agustus lalu, Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas yang meningkat dengan frekuensi gempa vulkanik dan letusan kecil yang semakin sering," kata Kepala PVMBG, Hendra Gunawan.
PVMBG telah mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tetap menjaga jarak minimal 2 kilometer dari kawah gunung berapi tersebut. Pihaknya juga meminta kepada nelayan untuk tidak mendekati area sekitar gunung berapi karena potensi tsunami akibat kolaps kawah.
Upaya Evakuasi Darurat
Selain pencarian para jurnalis, pihak berwenang juga telah mengantisipasi potensi bencana akibata erupsi Gunung Anak Krakatau. Ratusan warga yang tinggal di pulau-pulau sekitar telah dievakuasi secara bertahap ke daratan aman.
Sejauh ini, belum ada laporan korban jiwa akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, pihak berwenang tetap waspada mengingat sejarah letusan besar gunung ini pada tahun 2018 yang menewaskan ratusan orang dan mengakibatkan tsunami di Selat Sunda.
Komentar (0)