19, 2026
Nasional

Kabar Terbaru Abu Vulkanik Anak Krakatau, BMKG Ungkap Kondisinya Hari Ini

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/09/6aa1104be4f81-gunung-anak-krakatau_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kabar Terbaru Abu Vulkanik Anak Krakatau, BMKG Ungkap Kondisinya Hari Ini

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau setelah munculnya laporan adanya abu vulkanik yang menyebar di sekitar wilayah Selat Sunda. Informasi terbaru mengungkapkan bahwa kondisi gunung berapi yang lahir dari letusan dahsyat Krakatau tahun 1883 ini masih dalam status waspada meskipun belum menunjukkan tanda-tanda ancaman langsung.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan menyatakan bahwa aktivitas Anak Krakatau dalam beberapa pekan terakhir mengalami fluktuasi. "Kami mencatat terjadi peningkatan aktivitas freatik yang ditandai dengan munculnya abu vulkanik pada beberapa titik di sekitar pulau," ujar Hendra dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan pada Rabu (9/9).

Aktivitas Vulkanik Terkini

Hasi pemantauan BMKG menunjukkan bahwa Anak Krakatau mengalami 37 kali gempa tektonik dangkal, 142 kali gempa vulkanik dangkal, dan 5 kali gempa tectonic dalam seminggu terakhir. Selain itu, teramati juga adanya kolom abu setinggi 200-500 meter dari puncak gunung yang berasal dari letusan kecil terjadi secara berkala.

"Abu vulkanik yang teramati berasal dari proses erupsi freatic, yaitu interaksi antara magma panas dengan air permukaan atau air hujan yang menyerap ke dalam sistem fumarola," jelas Hendra. Ia menambahkan bahwa jenis erupsi ini umumnya tidak diikuti dengan keluarga material besar namun tetap perlu diwaspadai.

Status Siaga dan Upaya Pemantauan

Saat ini, status Anak Krakatau tetap berada pada Level II (Waspada) dengan ketinggian awan abu rata-rata 500 meter di atas puncak. BMKG bersama PVMBG terus melakukan pemantauan intensif terhadap parameter-parameter vulkanik gunung ini.

"Kami mengoperasikan 11 stasi pemantauan seismik di sekitar Anak Krakatau serta menggunakan drone untuk melakukan pemetaan perubahan morfologi pulau secara berkala," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Ia menambahkan bahwa tim juga melakukan pengambilan sampel gas dan air gunung untuk menganalisis komposisi kimianya.

Dampak pada Aktivitas Pelayaran

Munculnya abu vulkanik telah mempengaruhi aktivitas pelayaran di sekitar Selat Sunda. Kantor Wilayah Pelayanan Navigasi Kelautan dan Penyelamatan (KPLP) telah mengeluarkan peringatan bagi nakhoda kapal untuk berhati-hati saat melintasi wilayah tersebut.

"Abu vulkanik dapat mengganggu sistem navigasi dan mengurangi visibilitasi, selain itu juga berpotensi merusak mesin kapal jika terhirup secara langsung," jelas Kepala KPLP Wilayah II Jakarta, Eko Purnomo. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah memasang peringatan bahaya navigasi (NAVAREA) untuk memperingatkan para pelaut.

Kondisi Sejarah dan Potensi Bahaya

Anak Krakatau lahir dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang mengakibatkan tsunami besar dan menghilangkan dua pertiga pulau. Letusan terbesar terjadi pada tahun 2018 yang menyebabkan tsunami dan menewaskan ratusan orang di pesisir Banten dan Lampung.

Menurut data BMKG, Anak Krakatau telah mengalami beberapa kali letusan signifikan dalam sejarahnya, termasuk letusan pada 1927, 1930, 1952-1953, 1977, 1992-1993, dan 2018. Letusan tahun 2018 terjadi setelah bagian besar kubah gunung runtuh dan menyebabkan longsoran ke laut yang memicu tsunami.

Langkah Pencegahan dan Penyiapan Darurat

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi jika situasi memburuk. "Kami telah mempersiapkan posko darurat di sekitar wilayah pesisir yang rawan bencana, termasuk penyediaan tenda darurat, dapur umum, dan puskesmas lapangan," ujar Kepala BNPB Doni Monardo.

BNPB juga telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitak perbatasan wilayah rawan bencana tentang protokol evakuasi dan langkah-langkah keselamatan saat terjadi letusan gunung berapi. Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Para ilmuwan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geoteknologi LIPI juga sedang melakukan studi tentang laju pertumbuhan Anak Krakatau setelah letusan 2018. "Kami mencatat bahwa pulau ini tumbuh dengan laju sekitar 13-15 cm per hari, yang berarti volume gunung terus meningkat," jelas Kepala Pusat Litbang Geoteknologi LIPI, Haryo Uzum Budiono.

Dengan kondisi yang masih fluktuatif, BMKG meminta masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi secara resmi. "Kami akan terus memantau situasi dan memberikan update berkala jika ada perubahan signifikan," pungkas Hendra Gunawan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter