Jebolan Akademi Real Madrid Terbantu Sosok Jean-Paul van Gastel dalam Proses Adaptasi di PSIM
Keberadaan Marc Luciano Acuña, jebolan akademi Real Madrid, di barisan PSIM Yogyakarta menjadi sorotan tersendiri. Pemain berusia 20 tahun ini mengakui proses adaptasi di dunia sepak bola Indonesia tidaklah mudah, namun dibantu oleh sosok Jean-Paul van Gastel, ia mulai menemukan kecocokan.
Acuña bergabung dengan PSIM pada musim 2023 setelah menjalani proses trial yang cukup panjang. Pemain yang pernah mengikuti program akademi Real Madrid ini mengaku menghadapi berbagai tantangan di awal kariernya di Indonesia. Perbedaan sistem permainan, gaya komunikasi, dan budaya sepak bola yang menjadi pembeda utama yang harus dihadapinya.
Proses Adaptasi yang Menantang
"Awalnya memang sulit," ujar Acuña melalui interpreter. "Sistem permainan di sini berbeda dengan di Eropa. Di sini lebih menekankan pada fisik dan kecepatan, sedangkan di akademi Real Madrid lebih fokus pada teknis dan kontrol bola."
Pemain asal Argentina ini mengakui ia sempat merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan gaya bermain tim PSIM yang lebih agresif dan langsung. Selain itu, perbedaan bahasa juga menjadi hambatan utama dalam komunikasi dengan rekan setimnya.
"Bahasa menjadi masalah besar di awal. Saya tidak bisa berbicara bahasa Indonesia, dan beberapa rekan setim juga tidak bisa berbicara Spanyol. Namun, dengan bantuan Google Translate dan gerakan-gerakan tubuh, kita bisa saling memahami," tambahnya dengan tertawa.
Peran Penting Jean-Paul van Gastel
Proses adaptasi Acuña dipercepat berkat bantuan Jean-Paul van Gastel, asisten pelatih PSIM yang memiliki pengalaman bermain di Liga Belanda. Van Gastel yang fasih berbahasa Spanyol menjadi jembatan komunikasi antara Acuña dengan tim pelatih serta rekan setimnya.
"Beliau (van Gastel) sangat membantu. Saya bisa berbicara dengannya dalam bahasa Spanyol, lalu ia menerjemahkan untuk tim. Selain itu, beliau juga menjelaskan sistem permainan PSIM dengan cara yang saya pahami," jelas Acuña.
Van Gastel sendiri mengakui bahwa ia melihat potensi besar pada Acuña sejak pertama kali melihatnya bermain. "Saya melihat dia memiliki teknik yang bagus dan visi permainan yang tajam. Yang perlu dia lakukan hanyalah menyesuaikan diri dengan sistem permainan kita," ujar van Gastel.
Asisten pelatih asal Belanda ini sering memberikan bimbingan ekstra bagi Acuña, baik di luar maupun dalam latihan. Ia juga berusaha memperkenalkan Acuña dengan budaya lokal agar lebih mudah beradaptasi.
Perkembangan Positif
Seiring berjalannya waktu, Acuña mulai menunjukkan perkembangan positif. Ia semakin sering dimasukkan ke dalam skuat utama PSIM dan mulai memberikan kontribusi bagi tim.
"Saya merasa lebih percaya diri sekarang. Saya mulai memahami cara bermain rekan-rekan setim saya, dan mereka juga membantu saya dalam banyak hal. Komunikasi menjadi lebih baik sekarang," ujar pemain yang mengidolakan Lionel Messi ini.
Performa Acuña di lapangan juga membaik. Ia mulai menunjukkan kemampuan teknis yang luar biasa dan visi permainan yang tajam, sesuai dengan apa yang dia pelajari di akademi Real Madrid. Beberapa assist dan gol yang ia ciptakan menjadi bukti nyata perkembangannya.
Target ke Depan
Dengan bantuan van Gastel, Acuña kini semakin yakin untuk terus berkembang di PSIM. Ia menargetkan bisa memberikan kontribusi maksimal bagi tim dan membawa PSIM meraih prestasi lebih baik.
"Target saya sekarang adalah membantu tim menjuarai kompetisi dan mencapai promosi. Saya juga ingin terus belajar dan berkembang di sini. Mungkin di masa depan saya bisa kembali ke Eropa dengan pengalaman yang lebih baik," pungkasnya.
Kehadiran Acuña di PSIM membawa angin segar bagi tim. Dengan bimbingan tepat dari van Gastel, eks pemain akademi Real Madrid ini diperkirakan akan semakin berkembang dan memberikan kontribusi signifikan bagi PSIM di masa depan.
Komentar (0)