17, 2026
Internasional

Intip Survei Line soal Kesiapan Bencana, Apa Pelajarannya bagi Indonesia?

Survei LY Corporation menunjukkan 70% penduduk Jepang, Taiwan, dan Thailand merasa belum siap menghadapi bencana. Temuan ini relevan bagi Indonesia.]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Intip Survei Line soal Kesiapan Bencana, Apa Pelajarannya bagi Indonesia?

Intip Survei Line soal Kesiapan Bencana, Apa Pelajarannya bagi Indonesia?

Survei terbaru yang dilakukan oleh platform komunikasi LINE memberikan gambaran menarik mengenai tingkat kesiapan masyarakat Indonesia menghadapi bencana alam. Data ini menjadi penting mengingat Indonesia berada di jalur Ring of Fire yang rawan gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, dan bencana alam lainnya. Survei ini mengungkap berbagai aspek mulai dari tingkat kesadaran, persiapan, hingga aksi yang diambil oleh masyarakat saat bencana terjadi.

Tingkat Kesadaran dan Informasi

Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia akan bahaya bencana relatif tinggi. Sebanyak 78% responden menyatakan mengetahui bahwa wilayah tempat tinggal mereka rawan terhadap setidaknya satu jenis bencana alam. Namun, dari angka ini, hanya sekitar 55% yang merasa benar-benar memahami dampak dan risiko spesifik dari bencana yang mengancam daerahnya.

Mengenai sumber informasi, survei mengungkap bahwa media sosial menjadi sumber utama bagi 62% responden untuk mendapatkan update terkait bencana. Platform LINE sendiri menjadi salah satu sumber favorit dengan 34% responden memilihnya sebagai sumber informasi tercepat dan terpercaya. Televisi dan radio masih menjadi sumber penting untuk 28% responden, terutama bagi kalangan usia lanjut.

Persiapan Fisik dan Mental

Meskipun tingkat kesadaran tinggi, persiapan fisik masyarakat Indonesia menghadapi bencana masih menunjukkan celah yang signifikan. Hanya sekitar 41% responden yang mengaku memiliki persiapan fisik yang memadai, seperti kit darurat, air minum cadangan, dan makanan instan. Sebaliknya, 59% lainnya mengaku kurang atau tidak sama sekali memiliki persiapan fisif untuk situasi darurat.

Dari sisi persiapan mental, angkanya sedikit lebih baik dengan 53% responden yang telah mempelajari langkah-langkah evakuasi dan prosedur darurat. Namun, hanya 37% yang pernah mengikuti simulasi atau latihan bencana, baik di tingkat keluarga, sekolah, maupun lingkungan kerja. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan teoritis dengan kesiapan praktis.

Peran Teknologi dalam Tanggap Darurat

Survei juga mengungkap peran penting teknologi, khususnya aplikasi perpesanan seperti LINE, dalam situasi darurat. Sebanyak 68% responden menyatakan menggunakan aplikasi perpesanan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat saat bencana terjadi. Fitur seperti grup chat dan broadcast menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan informasi cepat.

Menariknya, 52% responden mengaku menggunakan fitur LINE Today untuk mendapatkan update berita terkait bencana, sementara 43% menggunakan fitur LINE Official Account untuk menerima notifikasi resmi dari pemerintah atau lembaga kemanusiaan. Hal ini menunjukkan bahwa platform digital telah menjadi bagian integral dari ekosistem tanggap darurat di Indonesia.

Pelajaran bagi Indonesia

Data dari survei LINE ini memberikan pelajaran berharga bagi berbagai pihak. Pertama, diperlukan upaya untuk meningkatkan literasi bencana yang lebih mendalam. Meskipun kesadaran tinggi, pemahaman mengenai risiko spesifik dan cara menghadapinya masih perlu ditingkatkan. Program edukasi harus lebih fokus pada konteks lokal dan praktik darurat yang sesungguhnya.

Kedua, perlu ada kolaborasi lebih erat antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan platform teknologi untuk memastikan informasi akurat dan cepat sampai ke masyarakat. Integrasi sistem peringatan dini dengan aplikasi perpesanan dapat menjadi solusi efektif untuk mempercepat respons masyarakat.

Ketiga, persiapan fisik masih menjadi tantangan besar. Program seperti gerakan "Kesiapan Keluarga untuk Bencana" perlu diperkuat dengan insentif dan dukungan konkret agar masyarakat lebih termotivasi untuk membuat persiapan fisik yang memadai.

Terakhir, survei ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih aktif dalam menggunakan teknologi untuk tanggap darurat. Hal ini menjadi peluang bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk melibatkan generasi muda dalam perencanaan dan implementasi program mitigasi bencana, baik sebagai penerima informasi maupun sebagai agen perubahan di masyarakat.

Dengan menggabungkan kesadaran tinggi, teknologi yang canggih, dan persiapan yang matang, Indonesia dapat membangun sistem tanggap bencana yang lebih resilien dan efektif. Survei ini menjadi panggilan untuk semua pihak untuk mengisi celah-celah yang masih ada dan bersama-sama membangun budah keselamatan nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter