17, 2026
Internasional

China Siap Ambil Alih Keketuaan BRICS pada 2027

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/13/6aa65d495ce27-para-kepala-negara-anggota-brics-dalam-ktt-ke-18-brics-di-new-delhi_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

China Siap Ambil Alih Keketuaan BRICS pada 2027

China telah menyatakan kesiapannya untuk mengambil alih keketuaan BRICS pada tahun 2027, menandai langkah signifikan dalam peran negara tersebut dalam blok ekonomi multilateral yang semakin berpengaruh. Pengumuman ini dilakukan dalam konteks persiapan untuk KTT BRICS yang akan datang dan mencerminkan strategi China untuk memperkuat pengaruhnya di pangguna global ekonomi dan politik.

BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, telah menjadi salah satu forum multilateral paling dinamis dalam dekade terakhir. Dengan China sebagai ekonom terbesar kedua di dunia, kepengurusan blok ini pada 2027 diharapkan akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap agenda ekonomi global dan perubahan sistem keuangan internasional.

Peran Transformatif China dalam BRICS

Sejak bergabung dengan BRICS, China telah memainkan peran katalisator dalam memperluas pengaruh blok ini. Melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) dan dukungan terhadap pembentukan bank pembangunan baru, China telah membantu membentuk agenda ekonomi BRICS yang lebih berorientasi pada alternatif terhadap dominasi dolar AS dan institusi keuangan barat.

Analisis menunjukkan bahwa kepengurusan China pada 2027 akan fokus pada tiga pilar utama: ekspansi keanggotaan BRICS, pengembangan instrumen keuangan alternatif, dan promosi sistem perdagangan multilateral yang lebih inklusif. China telah lama mengadvokasi untuk representasi yang lebih adil dalam sistem keuangan global, dan BRICS menjadi wahana strategis untuk mewujudkan visi ini.

Ekspansi Anggota dan Pengaruh Global

Salah satu agenda prioritas China selama kepengurusan BRICS pada 2027 diperkirakan akan mempercepat ekspansi keanggotaan blok. Saat ini, enam negara baru telah bergabung dengan BRICS pada Januari 2024, termasuk Arab Saudi, Iran, Mesir, Ethiopia, Argentina, dan Uni Emirat Arab. China diharapkan akan mendorong penambahan lebih banyak anggota dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk memperkuat posisi BRICS sebagai representasi global yang lebih seimbang.

Pengamat internasional melihat ekspansi ini sebagai upaya China untuk membangun koalisi negara-negara berkembang yang bersedia menantang ordo ekonomi dan politik yang ada. Dengan populasi dan ekonomi gabungan yang signifikan, BRICS yang diperluas memiliki potensi untuk merepresentasikan suara yang lebih kuat dalam forum global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Inovasi Keuangan dan Alternatif Sistem Pembayaran

Di bawah kepemimpinan China, BRICS telah menjadi penggerak utama dalam pengembangan sistem keuangan alternatif. Pembentukan New Development Bank (NDB) dan Contingent Reserve Arrangement (CRA) telah memberikan negara-negara anggota akses pada sumber pembiayaan di luar sistem keuangan tradisional yang didominasi oleh AS dan Eropa.

China diperkirakan akan mempercepat pengembangan instrumen keuangan BRICS selama kepengurusan 2027, termasuk penyelesaian sistem pembilateral dalam mata uang lokal dan pengembangan platform digital untuk perdagangan dan investasi. Langkah-langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan sistem SWIFT, yang telah menjadi alat sanksi politik bagi negara-negara Barat.

Tantangan dan Kritikan

Meskipun memiliki ambisi besar, kepengurusan China di BRICS pada 2027 menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan ekonomi dan politik antara anggota BRICS tetap menjadi hambatan bagi integrasi yang lebih dalam. Rusia, misalnya, berfokus pada pertahanan keamanan dan perlawanan terhadap pengaruh Barat, sementara India cenderung menjaga kemerdekaan kebijakan luar negeri dan menghindari keterlibatan dalam konfrontasi langsung dengan AS.

Kritikan terhadap BRICS di bawah pengaruh China juga berasal dari negara-negara Barat yang melihat blok ini sebagai ancaman terhadap ordo liberal yang ada. Beberapa analis khawatir bahwa dominasi China dalam BRICS dapat mengarah pada pembentukan blok ekonomi yang semakin terpisah dari sistem global yang ada, yang berpotensi memecah dunia menjadi dua sistem ekonomi yang saling terpisah.

Strategi Diplomasi China

Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, China diharapkan akan mengadopsi strategi diplomasi yang lebih inklusif selama kepengurusan BRICS 2027. Pendekatan "kebersamaan, konsultasi, dan kontribusi bersama" akan menjadi kunci untuk memastikan semua anggota merasa dihargai dan memiliki kepentingan yang setara dalam pengambilan keputusan.

China juga diharapkan akan memperkuat mekanisme kerja sama sektoral dalam BRICS, terutama dalam bidang teknologi, energi, dan pertahanan. Dalam bidang teknologi, fokus akan ditempatkan pada pengembangan infrastruktur digital dan standar teknologi yang tidak bergantung pada dominasi AS. Dalam energi, BRICS di bawah China akan mendorong kerja sama dalam energi terbarukan dan transisi energi yang adil bagi negara-negara berkembang.

Dengan kesiapannya untuk mengambil alih keketuaan BRICS pada 2027, China menunjukkan komitmennya untuk memainkan peran lebih aktif dalam membentuk agenda global. Bagi banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, BRICS di bawah kepemimpinan China menawarkan alternatif yang menarik bagi kerja sama internasional yang berbasis pada kesetaraan dan saling menghormat, meskipun perjalanan menuju integrasi yang lebih dalam masih menghadapi berbagai hambatan struktural.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter