17, 2026
Politik

Indonesia Kini Peringkat 7 Produsen Kakao Dunia, Pemerintah Genjot Peremajaan Lahan

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Indonesia Kini Peringkat 7 Produsen Kakao Dunia, Pemerintah Genjot Peremajaan Lahan

Indonesia kini menempati peringkat ketujuh sebagai produsen kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading, Ghana, Indonesia, Nigeria, Kamerun, dan Ekuador. Pemerintah terus menggenjot program peremajaan lahan kakao untuk meningkatkan produksi dan kualitas kakao nasional, yang menjadi salah satu komoditas ekspor andalan negara ini.

Kondisi Industri Kakao Nasional

Industri kakao di Indonesia telah berkembang pesat sejak diperkenalkan pada abad ke-19. Saat ini, Indonesia menguasai sekitar 16% pangsa pasar kakao global dengan produksi mencapai 735.000 ton pada tahun 2022. Provinsi Sulawesi Selatan menjadi sentra produksi terbesar diikuti oleh Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, dan Lampung.

Menurut data Kementerian Pertanian, luas area tanaman kakao di Indonesia mencapai 1,6 juta hektare dengan produktivitas rata-rata 0,7 ton per hektare per tahun. Angka ini masih jauh di bawah potensi yang bisa dicapai, yaitu 1,5 ton per hektare per tahun.

Tantangan yang Dihadapi

Industri kakao nasional menghadapi berbagai tantangan yang menghambat peningkatan produksi dan kualitas. Beberapa di antaranya adalah usia tanaman yang sudah tua, kurangnya varietas unggul, serta serangan hama dan penyakit seperti Vascular Streak Dieback (VSD).

"Kita harus menghadapi kenyataan bahwa banyak pohon kakao di Indonesia berusia di atas 25 tahun sehingga produktivitasnya menurun," kata Kepala Pusat Kajian Kakao Indonesia, Dr. Ahmad Rifai dalam sebuah diskusi industri.

Selain itu, kualitas kakao Indonesia sering dianggap belum konsisten di mata pasar internasional. Standar fermentasi dan pengeringan yang belum optimal membuat kakao Indonesia memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi dibandingkan negara pesaing.

Program Peremajaan Lahan Kakao

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian meluncurkan program peremajaan lahan kakao sejak 2020. Program ini bertujuan untuk menggantikan pohon kakao tua dengan varietas unggul yang lebih produktif dan tahan hama.

"Kita menargetkan untuk merehabilitasi 500.000 hektare lahan kakao dalam lima tahun ke depan dengan menggunakan varietas superior seperti SULAWESI 1 dan KITAM," ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam sebuah kegiatan seremonial penandatanganan kerjasama.

Program ini tidak hanya mencakup penanaman varietas unggul, tetapi juga pendampingan teknis bagi petani, penyediaan bibit unggul, serta peningkatan akses pembiayaan melalui program khusus untuk usaha tani kakao.

Peningkatan Nilai Tambah Kakao

Untuk meningkatkan nilai ekspor, pemerintah mendorong pengembangan industri hilir kakao. Indonesia saat ini masih mengandalkan ekspor biji kakao mentah dengan nilai tambah yang rendah. Pemerintah berencana meningkatkan ekspor produk olahan kakao seperti bubuk kakao, cokelat, dan produk turunannya.

"Kita berencana untuk meningkatkan ekspor produk olahan kakao dari 10% menjadi 30% dalam lima tahun ke depan," kata Deputi Bidang Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Jerry Sambuaga.

Untuk mendukung hal ini, pemerintah sedang membangun pusat pengolahan kakao di beberapa daerah produsen kakao seperti Sulawesi dan Sumatera. Fasilitas ini dilengkapi dengan teknologi pengolahan modern untuk memastikan kualitas produk olahan memenuhi standar internasional.

Transformasi Digital dan Pemasaran

Transformasi digital juga menjadi fokus penting dalam pengembangan industri kakao. Pemerintah bekerja sama dengan platform e-commerce untuk membantu petani memasarkan produknya langsung ke konsumen akhir, baik dalam negeri maupun luar negeri.

"Kami juga sedang mengembangkan sistem traceability atau jejak digital untuk setiap produk kakao Indonesia. Ini akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas dan keamanan produk kami," tambah Jerry Sambuaga.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, pemerintah optimis Indonesia dapat meningkatkan peringkat sebagai produsen kakao dunia sekaligus meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk kakao Indonesia di pasar global. Industri kakao diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan petani.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter