17, 2026
Teknologi

Harga Kedelai Melonjak, Pedagang Tahu Bojonegoro Pilih Gulung Tikar

Teguh Syahputra
Teguh Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harga Kedelai Melonjak, Pedagang Tahu Bojonegoro Pilih Gulung Tikar

BOJONEGORO - Harga kedelai yang terus melonjak akhir-akhir ini membuat para pedagang tahu di Bojonegoro, Jawa Timur, menghadapi tantangan serius. Banyak di antara mereka memilih untuk menggulung tikar usaha karena tidak mampu menopong biaya produksi yang semakin mahal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan kelangkaan produk olahan kedelai di pasaran lokal.

Kenaikan harga kedelai yang mencapai 40 persen dalam tiga bulan terakhir menjadi pukulan telak bagi industri tahu skala kecil dan menengah di Bojonegoro. Sebelumnya, harga kedelai per kilogram berkisar Rp 12.000, namun kini telah melonjak menjadi lebih dari Rp 16.000. Kondisi ini mendorong sejumlah pedagang untuk menghentikan operasionalnya karena tidak lagi memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan.

Dampak Langsung pada Pedagang Tahu

"Kenaikan harga ini terlalu drastis. Modal yang tersedia tidak cukup untuk membeli bahan baku dalam jumlah banyak. Kalau produksi sedikit, untungnya tidak seberapa. Kalau produksi banyak, risiko stok tak laku juga besar," ujar Slamet, seorang pedagang tahu di Pasar Induk Bojonegoro, Minggu (15/10).

Slamet mengungkapkan bahwa sebelumnya ia mampu memproduksi ratusan tahu setiap hari. Namun, dengan harga kedelai yang saat ini, ia terpaksa membatasi produksi hanya sekitar 50 tahu per hari. "Sudah dua minggu terakhir produksi saya turun drastis. Kalau diteruskan, malah rugi," tambahnya.

Situasi serupa dihadapi oleh Siti, pedagang tahu di Kecamatan Sugihwaras. Ia mengaku sudah memutuskan untuk mengurangi aktivitas produksi hingga 70 persen. "Modal tidak mengikuti kenaikan harga. Kalau harga jadi tahu dinaikkan, pembeli juga protes. Jadi lebih baik kita kurangi produksi dulu," ucapnya.

Peningkatan Biaya Produksi Menekik Margin Keuntungan

Direktur Utama Koperasi Tahu dan Tempe Bojonegoro, Budi Santoso, mengatakan kenaikan harga kedelai menjadi salah satu tantangan terberbag bagi industri olahan kedelai di daerahnya. Menurutnya, biaya produksi tahu dan tempe naik hingga 35 persen, sementara harga jual tidak dapat dinaikkan secara proporsional karena persaingan yang ketat.

"Biaya produksi tahu sebelumnya sekitar Rp 3.000 per potong, kini sudah mencapai Rp 4.000. Sedangkan harga jual di pasar hanya bisa dinaikkan menjadi Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 4.500. Jadi margin keuntungannya sangat tipis," jelas Budi.

Ia menambahkan bahwa sejumlah anggota koperasinya yang tidak mampu bertahan akhirnya memilih untuk menghentikan usaha. "Dari 50 anggota kami, sekitar 15 di antaranya sudah berhenti produksi dalam dua bulan terakhir. Ini sangat mengkhawatirkan," ucapnya.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga Kedelai

Kenaikan harga kedelai dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, produksi kedelai nasional mengalami penurunan akibat cuaca ekstrem dan penyakit hama yang melanda beberapa daerah produsen. Kedua, impor kedelai juga mengalami hambatan karena kebijakan pemerintah yang lebih ketat dalam mengatur impor.

"Musim hujan tahun ini tidak menentu. Beberapa daerah di Jawa dan Sumatera yang menjadi penghasil kedelai utama terkena banjir dan hama. Akibatnya pasokan ke pasar berkurang," kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Bojonegoro, Ahmad Fauzi.

Selain itu, permintaan impor dari negara seperti Tiongkok dan India yang terus meningkat juga berpengaruh terhadap harga kedelai di pasar domestik. "Kedelai menjadi komoditas global, jadi kenaikan harga di pasar internasional pasti berpengaruh juga di Indonesia," tambah Fauzi.

Upaya Penanganan dari Pemerintah Daerah

Untuk mengatasi dampak kenaikan harga kedelai, Pemerintah Daerah Bojonegoro telah mengambil beberapa langkah. Salah satunya adalah membuka pasar khusus produk tahu dan tempe dari pengrajin lokal untuk mengurangi biaya distribusi.

"Kami juga sedang membahas program subsidi bagi pengrajin tahu dan tempe skala kecil untuk mendapatkan harga kedelai lebih murah. Harapannya mereka bisa tetap berproduksi meskipun harga pasaran tinggi," jelas Fauzi.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan varietas kedelai lokal yang lebih tahan terhadap cu ekstrem dan hama. "Kami berkolaborasi dengan Balai Penelitian Tanaman Pangan untuk mengembankan varietas kedelai unggul yang cocok untuk kondisi di Bojonegoro," tambahnya.

Prospek dan Tantangan di Masa Depan

Meskipun menghadapi tantangan berat, beberapa pengrajin tahu di Bojonegoro masih berusaha untuk bertahan. Mereka berharap harga kedelai segera stabil sehingga usaha mereka dapat berjalan kembali normal.

"Kami tetap optimis. Kedelai adalah bahan baku utama, dan permintaan terhadap tahu dan tempe di Bojonegoro tetap tinggi. Kalau harga sudah normal, kami akan segera kembali memproduksi dalam jumlah besar," ujar Slamet optimistis.

Sementara itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan harga kedelai dan memberikan bantuan bagi pengrajin yang terdampak. "Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak terkait untuk memastikan pasokan kedelai di pasaran stabil dan harga terjangkau," pungkas Ahmad Fauzi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Syahputra

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter