19, 2026
Nasional

Hadapi Abu Anak Krakatau, Kemenkes Aktifkan Pusat Darurat

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Hadapi Abu Anak Krakatau, Kemenkes Aktifkan Pusat Darurat

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara resmi mengaktifkan Pusat Darurat Kesehatan (Pusdarskes) untuk mengantisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali mengeluarkan abu vulkanik. Pihak berwenang telah mengambil langkah proaktif untuk melindungi kesehatan masyarakat di sekitar wilayah terdampak, terutama di Provinsi Banten dan Lampung.

Kepala Pusat Darurat Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa pengaktifan pusat darurat ini merupakan respons terhadap laporan aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang meningkat dalam beberapa hari terakhir. "Pihak kami telah memantau perkembangan situasi sejak awal dan memutuskan untuk mengaktifkan pusat darurat sejak Jumat (15/9) lalu," ujar Nadia dalam konferensi pers secara virtual, Sabtu (16/9).

Langkah-langkah Kesiapsiagaan

Sejak diaktifkannya pusat darurat, Kemenkes telah melakukan sejumlah langkah preventif. Tim kesehatan telah diterjunkan ke wilayah terdampak untuk melakukan asesmen kesehatan dan memantau kondisi masyarakat. "Kami telah mengirimkan tim kesehatan ke Pulau Sumatera dan Pulau Jawa untuk memantau dampab abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat," tambah Nadia.

Selain itu, Kemenkes juga telah mempersiapkan rumah sakit rujukan di sekitar wilayah terdampak untuk menangani pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu. "Rumah sakit di Provinsi Banten dan Lampung telah diminta untuk siaga maksimal dan menyiapkan ruang isolasi jika diperlukan," jelasnya.

Pihak kesehatan juga telah mendistribusikan masker medis ke masyarakat di sekitar wilayah terdampak. "Abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernafasan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit paru-paru. Oleh karena itu, penggunaan masker sangat dianjurkan," kata Nadia.

Dampak Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata, tenggorokan, dan paru-paru. Gejala yang muncul termasuk batuk, bersin-bersin, dan sulit bernapas. "Bagi masyarakat yang memiliki riwayata alergi atau asma, dampaknya bisa lebih serius. Mereka perlu lebih berhati-hati dan segera mencari perawatan medis jika mengalami gejala yang memburuk," kata Nadia.

Sementara itu, dalam jangka panjang, papuran abu vulkanik yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan paru-paru. "Abu yang terhirup dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan inflamasi paru-paru kronis dan gangguan fungsi paru-paru," tambahnya.

Upaya Pencegahan dan Edukasi Masyarakat

Kemenkes juga melakukan upaya edukasi kepada masyarakat tentang cara melindungi diri dari dampak abu vulkanik. "Kami melalui media sosial dan komunikasi massal menyampaikan informasi tentang cara penggunaan masker yang benar, pentingnya mencuci tangan, dan menghindari aktivitas di luar ruangan jika tidak perlu," jelas Nadia.

Selain itu, pihak kesehatan juga memberikan arahan tentang pentingnya menjaga kebersihan air minum dan makanan untuk mencegah penularan penyakit. "Abu dapat kontaminasi sumber air minum dan makanan, sehingga perlu diwaspadai," kata Nadia.

Koordinasi dengan Pihak Terkait

Kemenkes bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. "Kami terus menerima update dari BMKG dan PVMBG mengenai tingkat aktivitas vulkanik gunung tersebut," ujar Nadia.

Ia menambahkan bahwa Kemenkes siap untuk mengambil langkah-langkah lebih lanjut jika situasi memburuk. "Jika aktivitas vulkanik meningkat, kami akan memperbanyak tim kesehatan dan persediaan medis di wilayah terdampak," kata Nadia.

Dengan pengaktifan pusat darurat ini, pihak kesehatan berharap dapat meminimalisir dampak negatif erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan masyarakat. "Kami meminta masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari pihak berwenang," pungkas Nadia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter