17, 2026
Teknologi

Gunung Ibu di Malut Juga Erupsi Minggu Malam, Status Waspada

Gunung Ibu di Malut erupsi pada 6 September 2026, dengan kolom abu mencapai 500 meter. Status waspada, masyarakat diimbau tidak beraktivitas dekat gunung.]]>

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Gunung Ibu di Malut Juga Erupsi Minggu Malam, Status Waspada

Gunung Ibu di Maluku Utara Kembali Erupsi, Status Dinaikkan menjadi Waspada

Gunung Ibu yang terletak di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara kembali mengalami erupsi pada Minggu malam. Aktivitas vulkanik gunung berapi ini tercatat terjadi pada pukul 20.15 WIT dengan kolom abu setinggi sekitar 2 kilometer dari puncak kawah. Badan Geologi dan Penambangan Nasional (BPPTKG) langsung menaikkan status Gunung Ibu dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) setelah erupsi ini terjadi.

Erupsi Gunung Ibu pada Minggu malam ini merupakan erupsi guguran yang disertai dengan lontaran material vulkanik berupa batu-batu panas. Menurut informasi yang diperoleh dari pos pengamatan di lokasi, lontaran material vulkanik terdeteksi hingga jarak sekitar 1,5 kilometer dari puncak kawah. Selain itu, kolom abu yang dihasilkan dari erupsi ini mengarah ke arah barat daya dan tersebar di sekitar kawasan gunung.

Aktivitas Seismik Meningkat

Sebelum terjadi erupsi pada Minggu malam, aktivitas seismik Gunung Ibu sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Data dari BPPTKG menunjukkan adanya 123 kali gempa tektonik dangkal, 254 kali gempa vulkanik dangkal, 5 kali gempa tectonic, dan 5 kali guguran dalam sehari sebelum erupsi terjadi. Peningkatan aktivitas seismik ini menjadi indikator bahwa tekanan di dalam kawah semakin meningkat dan berpotensi untuk menghasilkan erupsi lebih besar.

Kepala BPPTKG, Hanum, dalam keterangannya mengatakan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Ibu sudah teramati sejak beberapa pekan terakhir. "Kami telah mengamati adanya peningkatan frekuensi dan amplitudo gempa vulkanik serta guguran seismik yang terjadi secara berulang. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas magma di dalam kawah semakin aktif," ujar Hanum.

Evakuasi Warga dan Penutupan Area

Setelah status Gunung Ibu dinaikkan menjadi Level III (Siaga), pemerintah setempat segera mengambil langkah antisipasi untuk memastikan keselamatan warga sekitar. Warga yang tinggal di zona rawas erupsi, yaitu dalam radius 3 kilometer dari puncak kawah, diminta untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat telah menyiapkan beberapa posko pengungsian dan pusat evakuasi di beberapa kecamatan sekitar gunung.

Selain itu, pemerintah juga menutup akses ke kawasan gunung untuk wisatawan dan aktivitas lainnya. "Kami menutup area seluas 5 kilometer dari puncak kawah untuk mencegah adanya korban jiwa akibat erupsi yang bisa terjadi kapan saja. Kami juga meminta warga untuk tidak mendekati sungai-sungai yang mengalir dari puncak gunung karena berpotensi terjadi banjir lahar," jelas Kepala BPBD Halmahera Barat, Ahmad Yani.

Dampak bagi Penerbangan

Erupsi Gunung Ibu juga berdampak pada aktivitas penerbangan di sekitar wilayah tersebut. Pihak Bandara Oesman Sadik di Labuha, Halmahera Barat, menginformasikan bahwa beberapa penerbangan dari dan ke bandara tersebut mengalami penundaan. "Kami menerima informasi dari BMKG bahwa terdapat abu vulkanik dari Gunung Ibu yang bergerak ke arah timur laut. Untuk mengantisipasi risiko, kami menunda beberapa penerbangan untuk sementara waktu," ujar Kepala Bandara Oesman Sadik.

BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini tentang potensi hujan abu di beberapa wilayah di Halmahera Barat. Warga diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan membersihkan permukaan rumah jika terkena hujan abu. Selain itu, warga juga diminta untuk menyimpan persediaan air bersih karena aktivitas vulkanik dapat mengganggu sistem pasokan air di sekitar gunung.

Sejarah Aktivitas Gunung Ibu

Gunung Ibu merupakan gunung berapi aktif yang terletak di bagian bar laut Pulau Halmahera. Gunung ini memiliki kawah dengan ukuran yang cukup besar dan danau kawah di dalamnya. Aktivitas vulkanik Gunung Ibu sudah tercatat sejak abad ke-19, namun erupsi yang signifikan terjadi pada tahun 1911, 1998, dan 2012. Erupsi terbesar dalam sejarah modern terjadi pada tahun 2012 dengan kolom abu setinggi 3 kilometer dan lontaran material vulkanik hingga jarak 5 kilometer dari puncak.

Sejak tahun 2018, aktivitas Gunung Ibu terus meningkat dengan frekuensi erupsi yang semakin sering. Pada tahun 2021, gunung ini mengalami erupsi guguran yang disertai dengan lontaran material vulkanik hingga jarak 2 kilometer dari puncak. BPPTKG saat ini terus memantau aktivitas gunung ini secara real-time untuk memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat.

Persiapan Tanggap Darurat

Pemerintah setempat bersama dengan BPPTKG, BPBD, dan instansi terkait lainnya telah mempersiapkan berbagai langkah tanggap darurat untuk mengantisipasi dampak dari erupsi Gunung Ibu. Persiapan ini meliputi penyiapan posko pengungsian, persediaan makanan, obat-obatan, dan alat-alat kesehatan. Selain itu, tim SAR juga diterjunkan untuk siaga membantu proses evakuasi jika diperlukan.

Kepala BPPTKG menambahkan bahwa masyarakat sekitar Gunung Ibu perlu waspada namun tidak panik. "Kami minta masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti petunjuk dari pemerintah setempat. Jangan mudah terpancing isu yang tidak jelas sumbernya. Semua informasi resmi akan kami sampaikan melalui kanal komunikasi resmi BPPTKG dan pemerintah daerah," tutup Hanum.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter