19, 2026
Nasional

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Pagi Ini

Gunung Anak Krakatau erupsi pada 10 September 2026, terekam selama 17 detik. Masyarakat diimbau tidak mendekati radius 3 km dari kawah aktif.]]>

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Pagi Ini

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Pagi Ini, Warga Diminta Waspada

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada pagi hari ini, Kamis (15/7), dengan aktivitas vulkanik yang teramati semakin meningkat. Badan Geologi (BPPTKG) mencatat erupsi berlangsung selama 2 menit 11 detik dengan tinggi kolom abu mencapai 800 meter di atas puncak gunung.

"Erupsi tersebut berlangsung pada pukul 07.45 WIB dengan amplitudo maksimum 35 mm dan durasi 131 detik," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam siaran persnya, Kamis (15/7). Ia menjelaskan bahwa erupsi tersebut bersifat eksplosif dengan kolom abu yang bergerak ke arah barat laut.

Aktivitas Vulkanik Meningkat

Sejak erupsi pagi ini, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus teramati meningkat. BPPTKG mencatat adanya 63 kali gempa vulkanik, 2 kali gempa tectonik, dan 1 kali gempa letusan dalam 24 jam terakhir. Selain itu, tercatat juga adanya 2 kali guguran lava yang berlangsung selama 30 detik.

"Kami juga mencatat adanya fenomena guguran material vulkanik yang berpotensi menimpa area lereng gunung. Potensi bahaya utama saat ini adalah guguran lava dan aliran lava," ujar Hanik.

Status Gunung Dinaikan menjadi Waspada

Berdasarkan pengamatan tersebut, BPPTKG telah menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai pukul 12.00 WIB pada Kamis (15/7). Peningkatan status ini dilakukan mengingat aktivitas vulkanik gunung yang terus meninggi dan potensi bahaya yang ditimbulkannya.

"Dengan status Siaga, kami meminta masyarakat yang beraktivitas di area sekitar Gunung Anak Krakatau untuk tetap waspada dan mematuhi arahan pemerintah daerah," kata Hanik.

Area Terlarang Ditetapkan

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menetapkan zona larang sejauh 5 kilometer dari puncak Gunung Anak Krakatau. Zona ini mencakup wilayah perairan di sekitar gunung yang berpotensi terdampak erupsi.

"Kami meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di area tersebut, terutama nelayan dan wisatawan. Potensi bahaya seperti aliran lava, guguran material, dan tsunami vulkanik masih sangat tinggi," jelas Hanik.

Potensi Bahaya Tsunami Vulkanik

Salah satu ancaman utama dari aktivitas Gunung Anak Krakatau adalah potensi tsunami vulkanik. Seperti yang terjadi pada erupsi tahun 2018 lalu, guguran material ke laut dapat memicu gelombang tinggi yang berbahaya.

"Kami telah menginstruksikan BPBD untuk mempersiapkan sistem peringatan dini tsunami di sekitar wilayah Selat Sunda. Tim kami juga terus memantau aktivitas gunung secara real-time," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani.

Respons Pemerintah Daerah

Pemerint Provinsi Banten dan Lampung telah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi. Pemerintah telah mengaktifkan posko darurat dan mempersiapkan tempat pengungsian jika diperlukan.

"Kami telah meminta Kepala Desa di sekitar kawasan gunung untuk siap mengungsikan warga jika situasi memburuk. Saat ini, kami juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya potensi erupsi," kata Gubernur Banten Wahidin Halim.

Riwayah Erupsi Krakatau

Gunung Anak Krakatau merupakan hasil dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Erupsi tersebut mengakibatkan tsunami besar yang menewaskan lebih dari 36.000 orang dan mengubah peta geografis di wilayah tersebut.

Sejak tahun 1927, Anak Krakatau terus tumbuh dan menjadi gunung berapi aktif. Aktivitas vulkaniknya bervariasi, dari erupsi kecil hingga letusan besar seperti yang terjadi pada Desember 2018 lalu yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan sekitar 437 orang.

Nasihat untuk Masyarakat

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan informasi resmi dari pihak berwenang. Masyarakat diharapkan tidak menyebar informasi yang tidak berdasar dan selalu waspada terhadap potensi bahaya.

Sejauh ini, pihak berwenang terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Setiap informasi terbaru akan segera disampaikan kepada masyarakat untuk antisipasi bencana.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter