Gempa Kepulauan Seribu Intraslab, Ini Alasan Guncangannya Terasa Jauh
Gempa bumi magnitudo 5,9 yang mengguncang Kepulauan Seribu pada Rabu (19/7/2023) lalu menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Gempa yang terjadi pada pukul 13:16 WIB ini dirasakan hingga Jakarta dan sekitarnya, bahkan beberapa wilayah di Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa tersebut berpusat di 79 km barat daya Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu dengan kedalaman 10 km. Meskipun tidak mengakibatkan kerusakan berat atau korban jiwa, getaran yang terasa cukup kuat ini membuat banyak masyarakat panik.
Jenis Gempa Intraslab yang Jarang Terjadi
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa Kepulauan Seribu merupakan gempa bumi jenis intraslab. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa gempa intraslab berbeda dengan gempa bumi biasanya yang terjadi pada batas lempeng. "Gempa intraslab terjadi di dalam lempengan samudra yang menunju ke bawah atau subduksi. Di dalam lempengan samudra ini terjadi deformasi yang menyebabkan gempa," ujarnya.
Gempa jenis ini relatif jarang terjadi dibandingkan gempa bumi tektonik biasa di Indonesia. Indonesia berada di wilayah cincin api yang sangat aktif, di mana beberapa lempengan bumi bertemu. Aktivitas ini menyebabkan gempa bumi yang sering terjadi, baik gempa bumi dangkal maupun gempa bumi yang disebabkan aktivitas subduksi.
Mekanisme Terjadinya Gempa Intraslab
Gempa intraslab terjadi ketika lempengan samudra yang menunju ke bawah dalam proses subduksi mengalami deformasi di dalamnya. Lempengan ini tidak selalu menempel sempurna pada batas lempengan yang lain, tetapi mengalami pengereman dan retakan di dalamnya. "Bayangkan seperti selembar kertas yang ditekan dan melengkung, kemudian di dalamnya terjadi retakan," jelas Daryono.
Dalam kasus gempa Kepulauan Seribu, lempengan Indo-Australia yang bergerak ke utara menunju di bawah lempengan Eurasia. Di dalam proses ini, bagian dari lempengan samudra tersebut mengalami deformasi dan retakan yang menyebabkan gempa. Meskipun pusat gempanya berada di laut, getarannya tetap dapat dirasakan hingga ke darat, terutama jika kedalamannya dangkal.
Alasan Guncangan Terasa Jauh hingga Jakarta
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengapa gempa yang berpusat di Kepulauan Seribu dapat dirasakan hingga Jakarta dan sekitarnya. Ada beberapa alasan yang menjelaskan fenomena ini. Pertama, kedalaman hiposentrum yang relatif dangkal, yaitu 10 km. Semakin dangkal gempa, semakin besar getarannya yang akan dirasakan di permukaan.
Kedua, karakteristik getaran gempa intraslab yang cenderung berbeda dengan gempa tektonik biasanya. Gempa intraslab seringkali memiliki frekuensi getaran yang lebih rendah namun durasinya lebih lama. Getaran ini cenderung lebih terasa di area yang luas karena mampu menyebar lebih jauh melalui batuan di bawah permukaan.
Ketiga, kondisi geologi di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang terdiri dari lapisan sedimen tebal dapat memperkuat getaran gempa. Lapisan sedimen ini dapat memantulkan dan memperkuat getaran sehingga terasa lebih kuat daripada daerah dengan batuan keras di bawahnya.
Tidak Berpotensi Tsunami
BMKG menyatakan bahwa gempa Kepulauan Seribu ini tidak berpotensi tsunami. Kepala Pusat Data dan Informasi BMKG Mertojudo menjelaskan bahwa gempa intraslab biasanya tidak memicu gelombang besar. "Gempa intraslab tidak berhubungan dengan pergerakan dasar laut secara vertikal yang biasanya memicu tsunami," katanya.
Selain itu, parameter gempa seperti magnitudo dan mekanisme sumbernya juga tidak menunjukkan indikasi terjadinya gempa bumi berpotensi tsunami. Meskipun begitu, BMKG tetap mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pihak berwenang.
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Setelah gempa terjadi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera melakukan koordinasi dengan BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memastikan kondisi di lapangan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak jelas.
"Kondisi di Jakarta aman. Tim kami sudah berkoordinasi dengan BPDK dan instansi terkait untuk memantau situasi. Jangan terpancing isu yang tidak jelas," kata Anies dalam keterangannya.
Sementara itu, masyarakat di berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya melakukan evakuasi spontan ke tempat terbuka saat gempa terjadi. Beberapa gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan juga melakukan evakuasi sebagai langkah preventif. Setelah gempa berhenti, masyarakat perlahan-lahan kembali ke aktivitasnya setelah memastikan kondisi aman.
Kesimpulan
Gempa bumi magnitudo 5,9 yang mengguncang Kepulauan Seribu merupakan contoh dari gempa intraslab yang jarang terjadi di Indonesia. Meskipun tidak berpotensi tsunami, gempa ini menunjukkan betapa kompleksnya geologi di Indonesia yang berada di pertemuan beberapa lempengan bumi. Getaran yang terasa hingga Jakarta disebabkan oleh kedalaman hiposentrum yang dangkal, karakteristik getaran gempa intraslab, dan kondisi geologi di wilayah tersebut. Kejadian ini seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya kesiapsiapan menghadapi bencana alam yang sering terjadi di Indonesia.
Komentar (0)