Erupsi Anak Krakatau Mereda, 5 Bandara Kembali Beroperasi dan 2 Masih Ditutup
Gunung Anak Krakatau yang sebelumnya mengalami erupsi pada akhir pekan lalu menunjukkan tanda-tanda mereda. Aktivitas vulkanik yang sebelumnya cukup intens kini menurun drastis, memungkinkan operasional penerbangan di sebagian besar wilayah Pulau Jawa dan Sumatra kembali normal. Sejak Senin (25/11) pagi, lima dari tujuh bandara yang sebelumnya ditutup akibat abu vulkanik telah dibuka kembali untuk operasional penerbangan komersial.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah menurun secara signifikan sejak Minggu (24/11) malam. Tinggi kolom abu vulkanik yang sebelumnya mencapai 2.000 meter di atas puncak gunung, kini hanya berkisar 200-500 meter. Frekuensi gempa vulkanik juga menurun dari rata-rata 30 kali per jam menjadi hanya 5-10 kali per jam.
Status Bandara di Jawa dan Sumatra
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa lima bandara telah kembali beroperasi penuh sejak Senin pagi. Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, Bandara Juanda di Surabaya, Bandara Adisutjipto di Yogyakarta, Bandara Ahmad Yani di Semarang, dan Bandara Husein Sastranegara di Bandung telah membuka kembali operasionalnya setelah sebelumnya ditutup sementara untuk menghindari risiko keamanan penerbangan.
"Kami telah melakukan evaluasi bersama BMKG dan pihak bandara. Kondisi cuaca dan tingkat abu vulkanik sudah aman untuk operasional penerbangan. Namun, kami tetap memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau," ujar Kepala Dinas Hubungan Udara, Bambang Eko Cahyono dalam konferensi pers.
Sebaliknya, dua bandara yaitu Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Balikpapan dan Bandara Internasional Minangkabau di Padang masih dalam status ditutup. Penutupan ini dilakukan karena ketinggian awan abu vulkanik masih di atas 1.500 meter, yang berpotensi mengganggu operasional pesawat terbang. Kedua bandara tersebut dijadwalkan akan dievaluasi kembali pada Selasa (26/11) siang.
Dampak pada Penerbangan dan Penumpang
Penutupan sementara tujuh bandara sejak Sabtu (23/11) hingga Senin (25/11) telah mengakibatkan ribuan penumpang terdampak. Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air telah melakukan pembatalan dan penundaan penerbangan. Maskapai-maskapai tersebut telah mengumumkan program penggantian tiket dan kompensasi bagi para penumpang yang terkena dampak.
"Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami telah melakukan re-rute pesawat dan pengalihan penerbangan ke bandara lain yang masih beroperasi untuk meminimalkan dampak pada penumpang," ujar juru bicara salah satu maskapai nasional.
Pemerintah Provinsi Banten dan Lampung yang berbatasan dengan Selat Sunda tempat lokasi Gunung Anak Krakatau berada telah mengimbau masyarakat tetap waspada meskipun aktivitas gunung telah mereda. Warga di sekitar pesisir pantai diminta tetap mematuhi arahan dari pihak berwenang dan tidak mendekati area pantai yang berpotensi terkena tsunami akibat erupsi.
Proses Pemantauan Lanjutan
Tim vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tim tersebut telah menempatkan seismograf dan alat pemantau lainnya di sekitar pulau untuk mendapatkan data akurat tentang perkembangan gunung.
Gunung Anak Krakatau yang lahir dari letusan dahsyat tahun 1883 ini sebelumnya juga mengalami erupsi besar pada Desember 2018 yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan ratusan orang. Aktivitas vulkaniknya cenderung tidak menentu dan dapat meningkat dengan cepat, sehingga pemantauan terus dilakukan secara ketat.
Para wisatawan yang berencana mengunjungi kawak wisata wisatawan yang berada di sekitar Selat Sunda, terutama Pulau Panjang dan Pulau Rakata, diminta untuk selalu memeriksa informasi terbaru sebelum memulai perjalanan. Pemerintah setempat akan terus memberikan update mengenai status keamanan wisata di kawasan tersebut.
Komentar (0)