17, 2026
Nasional

Erupsi Anak Krakatau, Kemendikti Imbau Kampus Terapkan Kelas Daring-Hibrid

Kemdiktisaintek imbau kampus sesuaikan pembelajaran daring akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Koordinasi dengan pemda dan aktifkan posko siaga juga disarankan.]]>

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Erupsi Anak Krakatau, Kemendikti Imbau Kampus Terapkan Kelas Daring-Hibrid

Erupsi Anak Krakatau, Kemendikti Imbau Kampus Terapkan Kelas Daring-Hibrid

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada akhir pekan lalu telah memicu peringatan dini dari pemerintah terkait potensi bahaya tsunami. Respons cepat dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan mengimbau seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menerapkan sistem pembelajaran daring dan hibrid. Langkah ini diambil sebagai antisipasi jika terjadi gempa bumi atau tsunami yang dapat mengancam keamanan civitas akademika di kampus-kampus.

Kepala Kemendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam siaran persnya menyatakan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh perguruan tinggi untuk mempersiapkan skema pembelajaran jarak jauh (daring) dan pembelajaran campuran (hibrid). "Kami meminta agar perguruan tinggi segera mengaktifkan sistem pembelajaran daring sebagai persiapan jika diperlukan," ujar Nadiem, Senin (15/5).

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (13/5) dengan ketinggian abu mencapai 800 meter dari puncak gunung telah memicu peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Potensi tsunami akibat erupsi tersebut membuat pemerintah waspada, terutama bagi wilayah pesisir yang berdekatan dengan lokasi gunung berapi tersebut.

Kelola Pembelajaran Darurat

Dalam arahannya, Nadiem menekankan pentingnya perguruan tinggi untuk memiliki rencana darurat dalam mengelola pembelajaran. "Kami tidak ingin terjadi kekacauan jika situasi darurat benar-benar terjadi. Oleh karena itu, persiapan pembelajaran daring harus matang," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa sistem pembelajaran daring dan hibrid telah menjadi bagian dari transformasi digital di dunia pendidikan yang telah dicanangkan pemerintah. Selama pandemi COVID-19, sistem pembelajaran daring telah terbukti mampu menjaga kelangsungan proses belajar mengajar meskipun dalam situasi terbatas.

"Pengalaman selama pandemi telah membuktikan bahwa sistem pembelajaran daring dapat diandalkan. Kita harus memanfaatkan infrastruktur dan kompetensi yang telah kita bangun selama ini," tambah Nadiem.

Persiapan Kampus

Sejumlah perguruan tinggi di wilayah terdampak potensi tsunami telah mempersiapkan langkah-langkah antisipatif. Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), misalnya, telah mengaktifkan kembali sistem pembelajaran daring yang sempat dikurangi intensitasnya setelah pandemi.

Ketua Badan Pembelajaran UI, Prof. Dr. Ari Paniarty, menyatakan bahwa pihaknya telah meminta seluruh fakultas untuk memastikan platform pembelajaran daring siap digunakan kapan saja. "Kami telah memastikan bahwa seluruh dosen dan mahasiswa memiliki akses terhadap platform pembelajaran daring dan familiar dengan sistemnya," ujar Ari.

Sementara itu, Rektor ITB, Prof. Dr. Reini Wirahadikusumah, menambahkan bahwa ITB telah mempersiapkan skema pembelajaran hibrid yang dapat diaktifkan secara cepat jika diperlukan. "Mahasiswa dapat tetap melaksanakan kegiatan perkuliahan secara daring namun tetap memiliki kesempatan untuk belajar langsung di laboratorium atau workshop jika situasi memungkinkan," jelas Reini.

Koordinasi dengan Instansi Terkait

Kemendikbudristek juga menyatakan akan melakukan koordinasi intensif dengan BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memantau perkembangan situasi. "Kami akan terus memantau informasi dari BMKG dan BNPB. Jika ada peringatan dini yang lebih serius, kami akan segera memberikan arahan lebih lanjut kepada perguruan tinggi," kata Nadiem.

BMKG sendiri telah memperingatkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tinggi dan potensi erupsi lebih besar masih ada. Warga di sekitar wilayah Selat Sunda diminta tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana.

Dalam situasi seperti ini, Kemendikbudristek menegaskan bahwa keamanan dan keselamatan civitas akademika menjadi prioritas utama. "Kami meminta seluruh perguruan tinggi untuk bersikap proaktif dan siap menghadapi segala kemungkinan. Keselamatan mahasiswa dan dosen adalah yang terpenting," pungkas Nadiem.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter